Wacana buku digital sudah ramai sejak 15 tahun silam, tapi kini kenyataannya buku cetak kian menguat.

Buldanul Khuri dari penerbit Mata Bangsa mengatakan bahwa fenomena buku digital sudah dibicarakan para pelaku perbukuan di Yogyakarta sejak 15 tahun lalu. Bahkan pada saat itu menurut Buldan, sudah banyak dari mereka yang dibuat gentar dengan prediksi digital menggantikan kertas.

“Saat itu, banyak dari masyarakat buku ini yang mengalokasikan dananya untuk mengantisipasi momen hilangnya kertas,” ungkap Buldan saat tampil sebagai salah satu pembahas di Sidang Komisi Keredaksian pada Rabu (13/09) di Dongeng Kopi.

Masih menurut Buldan, kenyataannya sekarang buku cetak justru makin menguat, berbeda dengan prediksi pelaku perbukuan 15 tahun lalu. Kalau pun agak menurun dari segi penjualan, menurut Buldan bukan karena digempur bentuk digital, melainkan karena persoalan lain seperti konten dan pengemasannya.

Soal konten ini, ditekankan Buldan soal pengalamannya bertahun-tahun di bidang penerbitan, bahwa betapa pentingnya menjaga marwah penerbitan. “Sikap menjaga marwah penerbitan inilah mungkin yang membuat saya tidak bisa membikin buku yang pro pasar dari segi kontennya, sampai bangkrut”, ujarnya sambil terbahak.

Bidang penerbitan sendiri sudah lama menjadi lahan yang Buldan tekuni sejak remaja. Dalam ranah independen bahkan, Buldan sudah mulai menekuninya saat duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara