Setiap esai memiliki batasannya sendiri. Demikian pulalah esai-esai dalam “Sepi Manusia Topeng”: mereka menggali tapi mereka kurang dalam melakukannya.

YANG mencintai buku akan dicintai manusia. Buku membincang buku. Buku membincang manusia. Buku kumpulan esai Sepi Manusia Topeng (Nala Cipta Litera, 2016) hasil kreasi Wawan Kurniawan, memuat hasil interaksi antara penulis dan buku-buku yang dibacanya. Bukan sekadar interaksi biasa. Yang menarik, relasi keduanya tak hanya hidup dan menetap dalam kepala Wawan.

Buku melahirkan buku yang lain. Begitulah cara Wawan mencintai karya orang lain yang dibacanya. Usaha seseorang yang menyarikan sekelumit gagasan para pemikir adalah cara yang patut untuk dijadikan inspirasi. Dalam bukunya, Wawan terbayangkan sebagai sesosok manusia yang sangat mencintai buku. Buku menjelma kekasih, yang selalu ada, dan menemani hidup Wawan dalam memandang lingkungan sosialnya.

Buku menghilangkan kesepian. Esai-esai dalam Sepi Manusia Topeng ramai dengan rujukan referensi. Wawan seolah tak sekadar kenal dengan para penulis buku. Ia berteman dan berbincang dengan pemikir yang gagasanya ia baca. Meski tak begitu akrab, tapi mampu menghibur. Seolah kesepian sirna saat esai-esai itu dilahirkan. Esai mulai bercakap dengan buku-buku yang dirujuknyanya, dengan penulisnya.

Dilirik dari sampulnya, Sepi Manusia Topeng mengesankan bahwa gambaran isi buku akan banyak berbicara tentang manusia. Penulisnya yang gemar berbuku, mencari arti manusia dalam beberapa literatur. Lalu, mencoba memakainya sebagai “pisau” untuk mengupas tragedi kemanusiaan yang terjadi di sekelilingnya. Manusia yang tak habis-habisnya dibincangkan, yang masih menyimpan misteri yang tak tercakapkan, barangkali membuat Wawan berhasrat untuk mengulitinya.

Buku menjadi obat. Ketidaktahuan adalah penyakit. Saya teringat dengan buku berjudul Toko Buku Kecil di Paris (2017) karangan Nina George, menampilkan tokoh bernama Perdu, seorang penjual buku yang meyakini bahwa dalam setiap teks, tersimpan unsur penyembuh untuk segala penyakit yang diderita oleh pembacanya.

Dalam Sepi Manusia Topeng, saya melihat ikhtiar Wawan dalam membaca dan menulis sebagai usaha untuk mengobati penyakitnya sendiri, kecemasannya sendiri. Dan ketika ia membagikan tulisannya, usaha itu adalah cara agar manusia yang lain, yang kemudian beruntung bisa membaca tulisannya, tak terjatuh dalam kesakitan yang sama.

Buku Sepi Manusia Topeng adalah kumpulan esai yang sebelumnya pernah diterbitkan di koran Tempo kisaran tahun 2015 sampai 2016. Dari esai-esai itu, Wawan sepertinya bukan orang yang individual, yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Hal itu bisa dilihat dalam esainya yang berjudul “Mencemaskan Kepedulian Masing-masing” (hlm. 17). Wawan risih dengan kehidupan manusia-manusia yang “memasang pola pikir every man for himself” (hlm. 18). Hidup berbuku menjadikan mata seseorang peka melihat percikan masalah yang melingkupi kondisi disekitarnya. Kritik dilemparkan. Kritiknya ditujukan untuk pemerintah, tingkah-laku manusia modern, dan kebiasaan-kebiasaan hidup yang kian hari membuat manusia asing dengan dirinya sendiri.

Sebelum mengenal Wawan sebagai seorang penulis esai, saya lebih dulu mengenalnya sebagai seorang penyair. Saya mengoleksi dua buku puisinya, Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Tentu saja, puisi pun tak luput untuk dijadikannya sebagai tema dalam menulis. Dari 50 esai, ada 3 tulisan yang judulnya memuat kata “puisi”: “Puasa dan Puisi”, “Jika Pemimpin adalah Puisi”, “Mengapa Kita Menulis Puisi”. Sebagai penyair, esai-esai Wawan dalam buku Sepi Manusia Topeng, meski banyak menampung gagasan besar para pemikir, terasa cukup ringan dan puitis. Kemampuan Wawan menyederhanakan bahasa yang ia gunakan sangat membantu pembaca agar dapat memahami selubung makna dibalik tulisannya.

Yang Tak Memiliki Pijakan

Namun di sisi lain, dalam buku Sepi Manusia Topeng, yang menyorot segala tindak-tanduk manusia, saya tak menemukan manusia seperti apa yang menjadi gambaran ideal menurut penulis. Buku itu banyak bicara tentang manusia, tapi ia sendiri seolah tak punya gambaran manusia secara utuh. Kegemarannya mengutip beberapa pemikir, menurut saya hanya menjadikan Wawan sebagai orang yang kebingungan sendiri dalam menilai seperti apa manusia sesungguhnya. Ia membaca Plato, Hobbes, Dawkins, Hegel, Bacon dan beberapa gagasan tentang manusia oleh pemikir lain, namun tak bisa mengonsepkan manusia menurut dirinya sendiri.

Konsep manusia yang disajikan Plato misalnya, tentu berbeda dengan konsep manusia menurut Dawkins atau Bacon, secara filosofis. Wawan dalam pandangan saya, hanya mengambil kulit-kulit gagasan tanpa mencoba memahami bagaimana para pemikir memiliki metode dalam menafsir dan mengonsepkan manusia. Berbeda halnya dengan yang dilakukan oleh Muttaqin Azikin dalam buku kumpulan esai Menjadi Seorang Planolog (2017). Sebelum masuk ke bab awal, Muttaqin lebih dulu menjelaskan kepada pembaca tentang konsep manusia seperti apa yang diyakininya. Sehingga, setiap sari-sari gagasan yang kemudian tertuang dalam bukunya tak terlepas dari bagaimana keyakinannya dalam memandang manusia.

Berbuku mestinya tak hanya menjadikan seseorang akrab dengan buku-buku bacaannya. Berbuku akan lebih baik ketika kita bisa masuk ke dalam pikiran seorang penulis atau pemikir ketika merumuskan gagasanya, hal itu dilakukan agar kita bisa menangkap perbedaan metodologis para pemikir dalam menafsir realitas. Sehingga jika ada kritik, kita bisa mengajukannya dan membuat formulasi sendiri, jika bisa. Atau jika tak mampu, kita bisa bersandar kepada pemikir lain yang belum kita jumpai celah untuk dikritik.

Usaha Sepi Manusia Topeng untuk menjelaskan pandangannya tentang pelbagai aktivitas keseharian manusia patut untuk diapresiasi. Akan tetapi, ketidakjelasan pijakannya, membuat pembaca seperti salah satu judul dalam bukunya yang sedikit dipelintir “Memikirkan Rapuhnya Keyakinan Wawan” tentang manusia. Esai-esai dalam buku ini bagi saya cukup menggugah, namun sayangnya tak bisa menyingkirkan percik-percik kesepian dan tanda tanya besar tentang konsep manusia seutuhnya.

Yang mencintai buku akan dicintai manusia. Namun, melihat kebimbangan dan kebingungan Wawan dalam menyandarkan keyakinannya tentang bagaimana seorang manusia dalam buku Sepi Manusia Topeng, membuat usaha pembaca mencintai buku itu dan penulisnya dengan sepenuh hati menjadi tersendat-sendat, atau bahkan bisa mengurungkan niat.

Saya kagum dengan Wawan sebagai seorang pembaca rakus yang memiliki kesempatan mencicipi banyak buku dan bahan bacaan, namun kerakusan yang tak dilandasi dengan usaha yang kuat dalam menceburkan diri pada satu gagasan, pada saripati suatu buku, hanya akan menjadikan esai-esai dalam Sepi Manusia Topeng sebagai parade teori yang dangkal, jauh dari kedalaman.


Muhammad Mario Hikmat Anshari
Mahasiswa FKM Universitas Hasanuddin. Tergabung dalam komunitas Cafe Dialektika.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara