Sebuah kampus yang menolak keberadaan buku-buku kiri di lingkungannya, kampus kelas apakah itu? Yang jelas kampus semacam itu bukanlah kampus yang mengejar menjadi world class university.

BUKU KIRI DAPAT meningkatkan perekonomian dalam industri perbukuan dan juga perekonomian di negara yang justru kapitalis habis. Selain itu, ia tentu saja meningkatkan kesadaran kelas pekerja akan hak-haknya dan keadilan sosial.

Contohnya sederhana: lihat saja di negara kapitalis habis seperti Inggris dan Amerika, buku kiri ada dan tumbuh subur. Buku-buku kiri kritis nan independen ini adalah yang memberikan ruang untuk pemikiran politik Islam, dan juga pro pada kemerdekaan Palestina. Serta, mereka-mereka inilah yang menganalisis dan menerbitkan buku-buku bagaimana islamofobia yang menjelma dalam kebijakan kiwari di negara-negara barat ini akan mengancam bagi kelangsungan demokrasi. 

Kita tentu dapat melihat bagaimana buku kiri diterbitkan oleh penerbit semisal Verso, Pluto, Zed, dan yang lebih radikal lagi penerbit buku-buku anarki adalah semisal AK Press, Freedom Press, Black Rose, Black and Green. Buku-buku mereka dapat dikatakan menyumbangkan perkembangan akademik yang sehat bagi kampus-kampus bergengsi yang benar-benar world class university.

Maka dari itu, dalam konteks Indonesia, perlu dipertanyakan kenapa kampus yang punya slogan menuju world class university kok bisa melarang adanya buku-buku kiri, dan kemudian menyingkirkan mahasiswa yang ketahuan membaca dan membawa buku kiri? Padahal, buku-buku tersebut diterbitkan oleh penerbit besar di Indonesia.

Dengan kata lain, menuju world class university macam apakah ini?

Sungguh berkali-kali wajib dipertanyakan, world class university macam apa yang ingin dikembangkan dalam benak pejabat kampus di Indonesia tersebut?

Sebab world class university merujuk pada universitas yang mengembangkan berbagai bidang keilmuan dan selalu terdepan untuk memberikan ruang kepada berbagai bidang keilmuan. Tak hanya paling depan dalam bidang teknologi, melainkan juga terdepan dalam mengembangkan bidang sosial politik humaniora dan kebudayaan.

Beragam buku yang telah diterbitkan dengan nama Marx tercantum di kovernya, tentunya menjadi peletak dasar bagi perkembangan teoretis yang berkembang di kampus-kampus kelas dunia tersebut. Melalui pengembangan teoretis akademis, maka lahirlah berbagai keilmuan lainnya, sebut saja, misalnya dengan memadukan teori Marx dan Freud kemudian lahirlah Teori Kritis, Teori Kritis ini kemudian merambah ke berbagai bidang disiplin lainnya, misalnya Studi Hukum Kritis, yang sangat fenomenal di Amerika sejak tahun 1970-an hingga saat ini. 

Bahkan, teori imperialisme kemudian dikembangkan oleh Johan Galtung ke dalam ranah kebudayaan sehingga muncul Teori Imperialisme Budaya, di mana Galtung semakin mengembangkan bidang studi lainnya yang dikenal sebagai peletak dasar studi konflik dan perdamaian. Galtung yang sejak tahun 1950-an dikenal sebagai intelektual new left, setelah pensiun dari Universitas Oslo, sejak tahun 2000-an hingga kini mengajar di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia.   

Perkembangannya juga hadir dalam berbagai teori lainnya seperti teori pembangunan, teori posmodern, teori postrukturalis, teori poskolonial, teori feminisis, teori queer, teori diaspora dan migrasi, cultural studies, dll, dengan mudahnya dapat kita temui di kampus yang benar-benar World Class University. Baik itu tenaga pengajar yang mengembangkannya, bagitu juga dengan buku-buku, tulisan-tulisan di jurnal, dapat dengan mudah ditemui dan diakses.

Jadi sudah jelas bukan, kampus-kampus yang benar-benar world class university malah mengembangkan buku-buku semacam teori queer, dan lain-lain sebagainya yang sudah disebutkan di atas. Nah, bagaimana kabarnya kampus di Indonesia yang katanya mau menuju world class university itu? Sudah berapa buku yang diterbitkan? Berapa buku yang berhasil menjadi keilmuan terbaru dan menjadi rujukan kelas dunia?

Buku kiri tersebut, selain kampus-kampus yang benar-benar world class university itu yang menerbitkan buku-bukunya, juga ditopang dengan penerbit independen partikelir yang telah disebutkan di awal tulisan ini. Sungguh, buku-buku kiri tersebut betapa meramaikan pasar buku global di negara-negara yang kapitalis habis itu.

Jadi, begitulah, sebuah kampus yang melarang adanya buku kiri, sudah pasti kampusnya itu bukan world class university. Lantas, kalau sudah demikian, universitas kelas apakah itu namanya?


Wahyu Heriyadi
Pengelola penerbit Kentja, lahir di Ciamis, menamatkan pendidikan S2 FISIP UI pada tahun 2013. Saat ini tinggal di Bogor dan bekerja di Lights Institute, Lembaga Hak Asasi Bahasa.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara