Chairil Anwar (1922-1949), adalah salah satu penyair terbesar Indonesia. Satu hal yang jarang terbahas, tulisan-tulisan tentangnya dan karyanya masih tercerai-berai sampai kini, setengah abad lebih setelah kematiannya.

Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu

Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

Chairil Anwar, Catetan Th. 1946

*

Jika kini kita mencari buku antologi puisi Chairil Anwar, maka pilihan yang paling mudah adalah membeli buku Aku Ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942-1949 yang diterbitkan Gramedia. Jika beruntung maka kita bisa mendapatkannya dalam edisi eksklusif kover tebal, jika tidak, maka cukuplah puas dengan edisi kover biasa.

Jika ingin membaca kisah puitis kehidupannya, maka buku skenario film Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar-nya Sjuman Djaya bisa menjadi pilihan. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Utama Grafiti (1987), lalu oleh Metafor Intermedia Indonesia (2003), memiliki popularitas tersendiri setelah muncul dalam film AADC. April 2016 yang merupakan rilis AADC kedua, kita bisa menemukannya dalam versi terbitan Gramedia.

Ada opsi lain juga yang bisa menjadi pilihan: biografi yang ditulis oleh penyair Hasan Asfahani, diterbitkan oleh Gagas Media pada bulan September 2016 dengan judul Chairil: Sebuah Biografi. Buku monumental HB Jassin, Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45 juga bisa kita dapatkan dalam versi cetakan ulang penerbit Narasi yang cetakan pertamanya dirilis tahun 2013.

Untuk antologi puisinya, kita bisa mendapatkan opsi lain buku Tiga Menguak Takdir yang diterbitkan ulang oleh Balai Pustaka cetakan ke-4 tahun 2013, Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus yang dicetak ulang oleh Dian Rakyat juga bisa menjadi pilihan. Jika sedikit beruntung kita bisa mendapatkan buku Puisi dan Prosa Chairil Anwar: Derai-derai Cemara yang diterbitkan Horison tahun 1999.

Untuk buku ulasan puisinya, ada buku berjudul Sajak-sajak Chairil Anwar dalam Kontemplasi karangan A.G. Hadzarmawit Netti yang diterbitkan B You Publishing tahun 2011. Satu buku yang tetap asyik dibaca sampai kini, karangan Arief Budiman, Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan dalam edisi cetakan Wacana Bangsa juga terkadang masih bisa ditemukan di pasaran.  

*

Dengan kata lain, bibliografi kita tentang Chairil Anwar dan karyanya sekilas nampaknya baik-baik saja. Kita masih bisa mendapatkannya meski mungkin sedikit atau banyak kita harus berusaha. Antologi puisinya masih bisa kita dapatkan, biografinya masih hangat, telaah puisinya ada-lah barang satu-dua buah kalau kita mau mencarinya.

Dalam buku antologi puisi Chairil yang dieditori Pamusuk Eneste, ada di belakang dicantumkan “Bibliografi mengenai Chairil Anwar dan Karyanya”. Catatan itu memuat 91 tulisan dari ragam penulis, termasuk buku Arief Budiman yang sudah disebutkan tadi (meskipun versi Pustaka Jaya, 1976) dan buku Jassin yang juga sudah disebutkan tadi (meskipun versi Gunung Agung, 1956).

Memang bahkan dalam cetakan terbaru buku tersebut, bibliografinya tidak diperbaharui. Demikian juga isinya. Ada memang penambahan sebuah kata pembuka yang memukau dari penyair Nirwan Dewanto yang tak akan kita temukan pada edisi-edisi awal buku ini yang pertama kali terbit tahun 1986, akan tetapi antologi ini bahkan tak bisa dikatakan sebagai antologi puisi lengkap Chairil. Bandingkan misalnya dengan The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar suntingan Burton Raffel. Di dalamnya kita temukan puisi tanpa judul yang baris awalnya Biar malam kini lalu dan Mari kita kosongkan daerah ini. Dua sajak tersebut tak ditemukan dalam antologi suntingan Pamusuk. Alasannya, bolehlah kita menebak, mungkin karena sajak yang pertama dalam buku Jassin dikatakan sebagai terjemahan sajak Auden, sementara sajak yang kedua dikatakan sebagai sebuah fragmen.

Yang menarik, seorang penyair, Saut Situmorang, menulis sebuah esai yang termuat dalam buku kumpulan esainya, Politik Sastra (2009), berjudul “Dikutuk-sumpahi Eros”. Di dalamnya dia di antaranya menyebutkan “penemuan” sebuah puisi Chairil berjudul “Berpisah dengan Mirat” yang kemudian “dilaporkan oleh Burton Raffel dalam jurnal Indonesia Circle, no. 66 tahun 1995”, sebuah puisi lengkap berjumlah 12 baris, dibagi menjadi tiga bait, bertarikh 1947.

Tahun 1995: kini dua dekade sudah berlalu dan kita masih belum menemukannya dalam antologi.   

*

Ada 91 tulisan yang tercatat dalam bibliografi susunan Pamusuk Eneste. Pertanyaannya, masih bisa diakseskah tulisan-tulisan itu oleh kita kini?

Bibliografi itu mencatat tulisan-tulisan dari orang-orang yang namanya harum dalam dunia kesusasteraan kita. Menyebut beberapa di antaranya: Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Toto Sudarto Bachtiar, Nasjah Djamin, Taufiq Ismail, Mochtar Lubis, Goenawan Mohamad, Ajip Rosidi, Subagio Sastrowardoyo, Iwan Simatupang, Sitor Situmorang, Linus Suryadi AG, J.E. Tatengkeng.

Dengan kata lain, sudah cukup alasan bahwa generasi kini pun masih perlu membacanya, bukan hanya demi lebih mengenal Chairil Anwar dan karyanya, akan tetapi juga demi lebih tahu bagaimana pandangan para sastrawan kita tentang Chairil Anwar dan karyanya. Sebuah tipe tulisan yang dalam pandangan TS Eliot merupakan tulisan yang akan selalu “berguna bagi generasi masa depan”.

Sayangnya, berdasarkan penelusuran penulis, hanya sebagian kecil darinya yang masih bisa diakses kini, sukar ataupun mudah.

Kita dengan mudah masih bisa menemukan tulisan Nasjah Djamin, Hari-hari Akhir si Penyair yang dicetak ulang oleh Pustaka Jaya tahun 2013 sebagai cetakan kedua (cetakan pertamanya tahun 1982). Buku setebal 61 halaman ini mengisahkan “penangkapan” Nasjah Djamin tentang sosok Chairil yang dia kenal, dan sebagaimana terlihat dalam judulnya, isinya terfokus juga pada hari-hari akhir Chairil.

Satu tulisan Sutan Takdir Alisjahbana masih bisa kita temukan dalam bukunya Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusasteraan. Tulisan A Teeuw masih bisa ditemukan dalam bukunya Tergantung pada Kata, meski buku ini dalam edisi lamanya sudah sukar didapatkan.

Dua tulisan Sutardji Calzoum Bachri masih bisa ditemukan dalam antologi esai Isyarat yang diterbitkan Indonesiatera tahun 2007, meski yang satu ada penggantian judul dan dalam buku yang sama kita juga bisa menemukan tiga tambahan tulisan Sutardji tentang Chairil. Buku ini pun, kini, sudah termasuk buku yang sukar dicari di pasaran.

Satu dari dua tulisan Iwan Simatupang bisa ditemukan dalam antologi esainya yang diterbitkan Kompas tahun 2004, ditambah satu lagi esainya dalam buku yang sama yang tak tercantum dalam bibliografi. Tulisan Subagio Sastrowardoyo bisa kita temukan dalam bukunya Sosok Pribadi dalam Sajak yang edisi terbitan Grasindo bisa kita temukan gratis untuk diunduh di internet.

Untuk menyebut beberapa tulisan yang lain yang masih bisa kita akses kini tapi tak tercatat dalam bibliografi Pamusuk, misalnya:

Tulisan Acep Iwan Saidi berjudul Chairil Anwar di Ruang Rupa, Aku yang Pesimis, tapi Menggelegak, sebuah tulisan yang membahas representasi sajak Chairil dalam bentuk lukisan. Tulisan ini dimuat dalam kumpulan esainya Matinya Dunia Sastra: Biografi Pemikiran dan Tatapan Terberai Karya Sastra Indonesia, diterbitkan oleh Pilar Media, 2006.

Dua tulisan Abdul Wachid BS, Kerancuan Pemikiran dalam Puisi Chairil Anwar dan Bahasa Sajak di antara Subjektivitas. Keduanya dimuat dalam kumpulan esainya Membaca Makna: Dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri. Buku ini diterbitkan oleh Grafindo tahun 2005.

Tulisan Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo, Tinjauan Resepsi Sastra Beberapa Sajak Chairil Anwar, termuat dalam kumpulan esainya Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, tahun 2011 sudah mencapai cetakan kedelapan. Tulisan ini penting untuk melihat contoh karya salah satu kritikus sastra akademis kita.

Satu buku saku berjudul Pulanglah Dia si Anak Hilang: Kumpulan Terjemahan dan Esai Chairil Anwar pada tahun 2003 diterbitkan oleh penerbit Granit. Semua yang ada dalam buku ini memang termuat juga dalam buku Jassin, akan tetapi satu nilai penting di dalamnya adalah adanya epilog yang ditulis oleh putri Chairil, Evawani Alissa.

Ada juga satu buku tipis 50 halaman berjudul Mengenang dan Mengkaji Karya-karya Chairil Anwar. Buku ini ditulis oleh Dr. Muhammad Rohmadi M.Hum, diterbitkan oleh Yuma Pustaka tahun 2013. Buku ini sedikit membingungkan terutama karena pada Bab III yang diberi judul Mengenang, Membaca, dan Memahami Karya-karya Chairil Anwar, dicantumkan beberapa puisi Chairil yang didahului dua puisi berjudul Puisi Ibu dan Puisi Kehidupan yang tak ditemukan sebagai karya Chairil dalam antologi mana pun.  

Dari sedikit telaah bibliografi di atas, nampak bahwa sebagian besar tulisan dalam bibliografi yang disusun Pamusuk Eneste tak bisa diakses oleh generasi kini. Beberapa yang diterbitkan dalam bentuk buku juga tak semuanya mudah ditemukan di pasaran. Sementara itu dari tahun ke tahun tulisan tentang Chairil Anwar dan karyanya pun terus-menerus lahir, sebagian kekal dalam ingatan, sebagian yang lain hilang menjemput “kesunyian masing-masing”.

Adalah nasib generasi kini memang terpisah setengah abad lebih dari kematian Chairil. Kita hanya bisa meraih sebagian jembatan yang bisa menghubungkan generasi kita dengannya, sebagian kecil. Kita, misalnya, akan kesulitan menemukan telaah akademis Boen S. Oemarjati, Chairil Anwar: The Poet and His Language yang diterbitkan dalam versi Bahasa Inggris tahun 1972 oleh Martinus Nijhoff, Den Haag. Disertasi menarik Sri Utari Nababan di Universitas Cornell berjudul A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar pada tahun 1966 juga hampir tak mungkin sampai ke hadapan pembaca generasi kini.

Padahal Chairil—dan juga penyair-penyair pendahulu kita yang lain—selalu harus dikenalkan ke tiap generasi lebih dari sekadar lewat buku antologi puisi—yang tak benar-benar lengkap—ataupun biografi. Jika generasi masa kini tak mampu mengakses catatan generasi lama, tidakkah akan tercipta reduksi informasi yang membuat generasi kini seperti kehilangan mata rantai, sanad yang menghubungkan penyair kini dengan penyair modern generasi awal, Chairil khususnya?

Meski mungkin hal itu juga memberikan satu keuntungan yang baru: kita bisa memiliki tafsir yang baru tentang karya-karya sang penyair. Tapi hal semacam itu pun hanyalah spekulasi yang tak nampak pula buktinya. Generasi kini masih selalu mengatakan bahwa sudah ada banyak yang membahas Chairil, dengan diksi “banyak” yang diucapkan sambil bergenit-genit setengah malu seperti kita mengucapkan “dan lain-lain” hanya untuk menutupi ketidaktahuan.  

*

Agustus 2016, Majalah Tempo menerbitkan edisi khusus Hari Kemerdekaan sebagai edisi khusus Chairil Anwar. Ada banyak kisah menarik seputar Chairil Anwar yang didedah di dalam edisi tersebut yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Dimuat juga di dalamnya esai tentang Chairil Anwar dari penyair Joko Pinurbo dan sejarawan Taufik Abdullah (disarikan dari wawancara).  

Upaya semacam itu merupakan upaya yang sangat penting, dan patut diapresiasi. Kita tak perlu mempertanyakan kenapa yang mengambil inisiatif semacam itu bukanlah majalah sastra kita yang sangat terkenal, Horison, misalnya. Dari upaya majalah Tempo untuk melengkapi kisah tentang Chairil yang masih terserak semacam itu, layaklah kita juga berpikir bahwa memang yang kita butuhkan kini mungkin pertama-tama bukanlah sebuah buku baru tentang Chairil, melainkan sebuah upaya mengumpulkan telaah karya dan kisah tentangnya yang masih tercerai-berai. Sebuah upaya yang nampak berat meski jalurnya sudah dimulai salah satunya dengan catatan bibliografi oleh Pamusuk Eneste.

Kita mungkin bisa berangan-angan bahwa suatu hari nanti kita temukan juga tulisan-tulisan itu tersusun dalam satu atau dua antologi yang bisa kita temukan dengan mudah di toko buku dalam desain yang menunjukkan sebuah buku sebagai sebuah karya seni. Kita mungkin bisa berangan-angan bahwa suatu hari nanti kita membaca tulisan-tulisan itu sebagai satu kesatuan yang merekam jejak catatan para penulis tentang sang penyair dan karyanya selama setengah abad lebih. 

Maret 2017, Mira Lesmana mengumumkan rencananya mengangkat sosok Chairil Anwar dalam film. Lalu kita mungkin juga menunggu dengan harap-harap cemas: semoga dalam filmnya yang konon sedang digagas itu kita tak mendapatkan Chairil yang bertapa dengan agungnya di langit nun jauh dari kita, semoga di dalamnya kita mendapatkan Chairil yang bisa lebih akrab dengan kita: Chairil yang sering patah hati, Chairil yang bermata merah karena kurang tidur dan bertubuh kurus karena penyakit, meski baju yang dia kenakan, konon, selalu bersih dan rapi. 

Chairil Anwar, salah satu penyair terbesar kita yang tulisan-tulisan tentangnya dan karyanya masih—dan entah sampai kapan—tercerai-berai.


Kredit Gambar : Arsip Galeri Nasional Indonesia
Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara