Sebuah puisi sedikit banyak menyimpan memori yang tertanam dalam diri penulisnya, disadari ataupun tanpa disadari, terkadang terasa pekat dan terkadang hampir tak terasa.

MENULIS puisi tidak sekadar mengandalkan imaji, namun ia berpijak pada bumi dengan metafora—yang biasa-biasa pun bukanlah persoalan. Bagaimana puisi itu lahir dari “akar budaya”, “akar bumi”, dan “akar sosial” tempat penyair berasal. Mengapa demikian? Agar penyair dan puisinya tidak berjarak begitu jauh.

Biasanya, judul sehimpun buku puisi diambil dari sebutir puisi dalam buku. Dengan persepsi itu, ketika membaca Bertuhan pada Bahasa, saya langsung mencari judul puisi yang serupa judul buku. Tapi, pencarian itu gagal. Bertuhan pada Bahasa tak hadir di daftar isi. Saya tak berpaling dan menaruh buku ini di rak. Saya gelisah. Mungkin ada maksud subtil di balik pemberian judulnya.

Judul buku ini memantik saya mengingat pernyataan Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang mengartikan Lailahailallah sebagai ‘Tiada tuhan selain Tuhan’ bukan ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Apa kaitannya dengan judul buku ini? Tidak ada. Saya sekadar mengingat, dan tidak memiliki kaitan dengan cara bertuhan ala Sengat Ibrahim.

Bila ada kaitannya, mungkin, saya akan “memaksa” mengaitkan agar nampak terkait. Cak Nur mencoba meniadakan tuhan kecil, sedangkan Sengat menguatkan tuhan kecil itu. Apa tuhan kecil Sengat? Ya, bahasa. Semoga Sengat tidak “murtad” dari janji primordialismenya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer (sewenang-wenang), yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Yang menjadi pertanyaan, apa Sengat Ibrahim menuhankan bahasa Indonesia dan Madura? Sebab, Madura adalah bahasa ibunya, sedangkan bahasa kedua adalah Indonesia.

Dua bahasa Madura yang Sengat taruh di dua puisinya, seperti “Abe’” (aku) dan Bittheng Phae' (kopi hitam). Dalam puisi “Abe’”-lah terdapat larik yang saya cari, yaitu bertuhan pada bahasa dan ia akhiri berlindung pada cinta. Seagung apakah “bahasa” itu sehingga dituhankan? Dan, sekuat apakah “cinta” itu sehingga aku-lirik menyerahkan dirinya pada cinta?

Bahasa dan cinta adalah cara Sengat mengabadikan orang-orang terdekat. Misalnya, pada puisi “Dramatik Bigulian”, “Dunia Fakih”, dan “Kembang Liur” untuk Daruz Armedian. Pada “Kembang Liur”, Sengat sangat jelas menggambarkan kehidupan keseharian Daruz Armedian—yang juga seorang penyair dan cerpenis muda.

Di tubuh baju-baju kotor yang kau campur

dan diikat dalam sarung sebagai bantal

sarung yang setiap tepinya bermotif kembang

musim kering

dan

kembang musim kering

yang kau siram dengan kucur air liur sepanjang tidur

seolah itu sketsa kebun anggur ....

Tak selesai di sketsa kebun anggur, Sengat sebagai aku-lirik mengajak pembaca mengetahui bahwa Daruz dan aku-lirik kerap gelisah dengan sajak-sajak yang mereka baca. Kamar menjadi subjek sekaligus sebagai ruang berproses kepenyairan mereka.

Kamar yang kerap memanggil-manggil jasad kita

melalui bahasa luka dan selusin derita neraka

yang kita baca dalam sajak-sajak romansa.

Kamar, jasad, bahasa, luka, dan sajak adalah kata kunci yang meresahkan. Tapi, saya perlu bertanya, apakah neraka berjumlah 12? Anggaplah ini metafora, seperti kata Chairil Anwar, aku ingin hidup seribu tahun lagi. Apa bisa manusia masa kini hidup selama seribu tahun? Sekali lagi, ini metafora.

Setiap penulis ingin menyampaikan pesan ke pembacanya. Apakah dalam bentuk esai, novel, cerpen, puisi, atau medium lainnya. Puisi “Talese’”, “Mata Tase’”, dan “Monche’” adalah cara Sengat menyampaikan hal-hal di sekitarnya. Saya tidak mengetahui apa arti dari tiga judul puisi itu. Ketidaktahuan itu memaksa saya mencari di KBBI V. Dan, tidak menemukan apa-apa. Apakah kata-kata itu adalah nama-nama kampung penulis yang lahir di Sumenep, Madura? Bila kita baca larik ini: bermain kelereng di tanah lempeng/ sehabis melepas layangan daun kering/ sebelum langit disempitkan kabel listrik (“Talese’”), terasa kita berada di suasana kampung yang masih menjaga permainan tradisional.

Mari kita baca puisi berikutnya yang menggambar ruang kampung nelayan:

Mata Tase’

adalah ombak menyibak pasir

menyapa getir kaki-kaki mungil

diempas angin meraup dingin.

 

adalah jalan rezeki bagi nelayan

sampan-sampan memenggal tujuan

tempat ikan-ikan memilih kediaman.

Puisi di atas menghamparkan suasana kampung nelayan, yang mana Sengat amat akrab dengan aktivitas riuh tersebut. Sebab, ia berasal dari Sumenep, Madura.

Sayangnya, pada puisi “Monche’”, Sengat tidak menulis tentang dia dan masa lalunya (kampung nelayan), tetapi dia dengan sesuatu yang baru baginya; tempat, pengetahuan, resah, dan rasa. Dialah ibu bagi setiap peradaban/ nyanyian bagi seluruh kota metropolitan/ tempat manusia melupakan perang.

Masih ada beberapa puisi yang Sengat tulis tentang dia dan mandalanya. Salah satunya “Joglo”;

Gus Zainal, berkatilah kami yang berdiam di joglo ini

joglo yang tersusun dari pohon-pohon mati

 

menarilah dalam sajak kami serupa tarian Tuhan

dalam mulut kami, sewaktu mengaji.

Puisi “Joglo” lahir dari proses kreatif Sengat selama di Komunitas Kutub. Komunitas yang didirikan Gus Zainal Arifin Thoha ini mengajarkan bagaimana ia menjadi penyair dan berjuang menitipkan nasib di koran minggu lokal dan nasional. Dalam pengantar buku, Sengat menulis;

“Setelah sampai di Yogyakarta saya dibuang secara percuma di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari atau dikenal dengan Komunitas Kutub, ...

Selasa 16 Agustus 2016, saya pertama kali jualan koran. Dan pada hari Minggu, 20 November 2016, sajak-sajak saya dimuat pertama kali di Radar Surabaya. Saya bahagia menjadi penjual koran sekaligus turut aktif mengisi rubrik-rubrik koran yang saya jual tersebut.”

Buku yang diterbitkan Basabasi ini dibumbui tiga bagian dan sekitar 73 puisi. Untuk ukuran buku puisi yang beredar di toko buku, buku ini cukup tebal. Puisi paling pendek terdapat pada halaman 128, “Percayalah”: menangis cara yang benar menikmati dunia  dan puisi yang panjang berjudul “Obituari Waktu”.

Dalam puisi yang panjang itu, Sengat memisahkan 17 puisi dengan waktu: detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun.

Saya cuplik beberapa bagian “waktu” yang Sengat tuliskan:

Obituari Waktu

15:15

dewi kenangan

sebelum kematian benar-benar membunuhku

aku ingin mengajari padanya merasakan kematian itu.

....

 

15:26

sore dewi kenangan

apa kabar masihkah kau

menyediakan tempat penginapan

bagi lelaki pengembara yang sejak lahir menghindari

medan perang?

....

 

16:25

dewi kenangan

gerbang kota memberi salam sebelum aku mengenal pulang

mungkin sebentar lagi senja bakal ikut-ikutan

dan pohon-pohon akan menghitam

....

Dalam puisi “Obituari Waktu” ini, saya tidak melihat lagi Sengat sebagai aku-lirik berada dalam mandalanya. Aku-lirik seakan menjauh dari akar kampung-Sumenep-Maduranya dan masuk pada tataran kenangan-masa silamnya. Bukan masa lalu aku-lirik dengan kampung halamannya, tetapi masa lalu dengan kenangan-cintanya.

Dalam puisi  “Dramatik Kasih” (Radhika Rao & Vinay Sapru) (hlm. 47), “Dramatik Hidup” (Michael Damian) (hlm. 49), “Dramatik Bacaan” (Brian Klugman & Lee Stemthal) (hlm. 51), “Dramatik Kenangan” (John Carney) (hlm. 52), dan “Chronicle of a BLOOD Merchant” (hlm. 84), Sengat Ibrahim semakin menjauh antara ia dan “akar budaya”-nya; ia dan “akar bumi”-nya; dan, ia dan “akar sosial”-nya.


Safar Banggai
Lahir di Pulau Paisubebe, Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Arsiparis di Warung Arsip, Indonesia Buku (I:BOEKOE). Salah satu pegiat Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara