Proses menulis seringkali berhutang pada banyak pihak, dalam berbagai bentuk. Dari sanalah kemudian satu dua nama biasanya muncul di kalam persembahan.

PADA sebuah halaman buku, anak-anak terkasih dituliskan sebagai penerima persembahan. Kalam persembahan jadi pembuka sebelum memasuki isi buku. Pembuka itu terasa hangat, misterius, agung sekaligus membawa pembaca pada penasaran atas jalan kepenulisan. Ada anak-anak yang diingat untuk menyinggahi aksara-aksara dalam buku. Mereka tidak ingin diabaikan dalam hari-hari penuh pertarungan melahirkan kata-kata.

Persembahan itu ada meski sering dianggap jeda. Ada pembaca yang melewatkan begitu saja, membaca sekilas, atau ingin merenungi dalam waktu yang lama. Persembahan membuka perjalanan imajiner pada kehidupan personal pengarang atau penulis. Suka, duka, gelisah, dan antusias tersampaikan, seolah kita diyakinkan bahwa ada saksi-saksi mungil yang berlarian, berebut perhatian di antara kata-kata, atau mengisi waktu-waktu tidak terduga.

Buku puisi Pandora (2008) dipersembahkan Oka Rusmini kepada anak lanang. Pertarungan menjadi penyair sekaligus ibu adalah semesta perempuan yang tiada pernah sunyi oleh kekukuhan dan pertahanan. Perempuan yang menulis harus bisa berdamai dengan tugas domestik mengurus anak-rumah tangga, karir, sampai pergaulan sosial.

Tuntutan sosial dan keluarga sering menjadi alasan perempuan tidak menulis lagi setelah menikah. Saat menulis telah setara dengan sembahyang, laku itu tetap dilakoni.

Kepada anak buku ditujukan, “Buku puisi ini saya persembahan untuk Pasha Renaisan, lelaki kecil yang selalu menyulut gairah saya untuk terus berusaha memahami arti memiliki tubuh seorang perempuan. ia mengajarkan kepada saya apa artinya menjadi ibu. Juga rumitnya berhadapan dengan pertumbuhan seorang manusia: betapa saya harus menelan seluruh kehadirannya dengan cinta, bahkan ketika tubuh, pikiran dan perasaan saya dikoyak-koyak, dirobek, dicincang olehnya.” 

Penerbitan sebuah buku serupa kelahiran anak manusia yang sakral. Begitu anak disinggahkan dalam kalam persembahan, ia mengabadi bersama buku yang jadi penentu ingatan “sakitnya” pernah menulis atau janji akan terus menulis. Persembahan itu bermakna amat biografis dan personal.

Neil Gaiman dalam cerita kanak kocak dan imajinatif Fortunately, the Milk (2014) dengan ilustrasi oleh Skottie Young memosisikan diri sebagai anak yang dulu dipersembahi cerita sekaligus ayah yang mempersembahkan cerita. Tidak mengherankan kalam persembahan berbunyi, “Untuk almarhum ayahku, David, yang pasti bisa mendongengkan ini dengan ceria, dan untuk anakku, Michael, yang tak percaya sepatah kata pun cerita ini. Dengan kasih sayang.”

Anak tidak harus merasa terima atau suka atas buku. Bisa saja, buku baru bisa diterima dan dimengerti jalan kelahirannya bertahun-tahun mendatang. Persembahan Neil cenderung menyampaikan kultur membaca dan dibacakan buku khas Eropa. Buku-buku itu tercetak dan disuarakan pada waktu-waktu ajaib bersama keluarga. Ilustrator Skottie Young merasa perlu menghadirkan ayahnya dalam kalam persembahan, “Untuk ayahku, si pendongeng dan pembuat ketawa. Aku rindu banget.” Pernyataan sekaligus pengukuhan Young yang pernah menjadi anak dengan limpahan kebahagiaan atas kata-kata yang bercerita.

Ada pewarisan cerita dari ayah ke anak, dan anak yang telah menjadi ayah akhirnya melanjutkan pewarisan ke anak. Kata-kata bergerak dari generasi ke generasi, menyeberangi benua, dan melintas negeri-negeri. Di Indonesia, Fortunately, the Milk menyapa anak-anak Indonesia oleh penerbit Gramedia dan dialihbahasakan oleh penulis cerita anak, Djokolelono. Anak-anak di Indonesia tentu ingin diturutkan seperti anak penulis atau merasai berada dalam posisi ilustrator semasa kecil. Mereka harus percaya selalu ada petualangan, bahkan bermula dari sebotol susu.

Anak Negara

Kita tidak melupakan era 70-an saat proyek bombastis pengadaan dan penerbitan buku Inpres bercap “Milik Negara. Tidak Diperdagangkan” mulai bergaung. Anak-anak Indonesia di desa dan kota dipersembahi buku sebagai bacaan mengerti pembangunan. Tidak ada halaman khusus untuk menyematkan persembahan. Namun, anak-anak wajib disebut di kata pengantar sebagai penegasan bahwa anak-anak adalah milik negara dan wajib menerima hal-hal yang diberikan negara. Bagi negara, anak jadi bagian dari program kerja yang akan menyukseskan pembangunan negara.

Kebanyakan yang disampaikan oleh buku bacaan Inpres bukan kata-kata yang dinikmati, disyukuri, dan dikenang.

Anak-anak disebut di kata pengantar untuk mengingatkan “tugas” meneladani tokoh dalam cerita; cara belajar, watak, cara bersikap, dan cara bertutur demi pembentukan citra anak Indonesia Pancasilais tanpa pemberontakan. Hal ini akan tampak dari gelagat kebahasaan persembahan yang cenderung menggunakan kata kerja seperti memetik, mengambil manfaat, mewujudkan, meneladani, menjadi teladan, mencontoh, menyongsong, atau membangun.

Istilah-istilah perintah “halus” khas Orde Baru bersemi sebagai sesembahan politis dunia anak-anak. Bahkan, beberapa pengantar memang sengaja ditulis oleh pemerintah pemangku kebijakan dan mengalihkan hak penulis untuk berpesan demi kesan birokratis buku.

Kita cerap potongan kata pembuka bacaan anak Cintaku Negeriku (1985) garapan Noor Erlangga, “Semoga tokoh Hendarto dalam cerita ini menjadi teladan bagi anak-anak, yang memiliki semangat keras, tekad tinggi dan percaya pada diri sendiri dalam menciptakan suasana kehidupan yang lebih baik di tengah-tengah suasana kehidupan yang penuh tantangan dewasa ini.”

Kita merasakan bahwa buku bacaan anak era Inpres menjadi seberat buku pelajaran yang mesti dibaca demi memenuhi kepentingan administratif sekolah. Emosionalitas sulit tercipta meski buku ditemui sepanjang tahun bersekolah. Apalagi, persembahan tidak tampil dalam halaman tersendiri atau bersifat khusus selayaknya ucapan puitis di momentum tertentu.

Di buku Wartawan Cilik (1995) garapan Nita Handyati kita juga mendapatkan kesan amat resmi dari pengantar penerbit. Tidak ada salam sapa dari penulis. Ditegaskan, “Untuk memenuhi tugas kebutuhan tersebut kami turut berpartisipasi dalam menerbitkan buku-buku serial cerita anak-anak. Dengan maksud buku-buku ini berguna bagi anak-anak kita dan menjadikan mereka gemar membaca. Semoga buku serial ini menjadi sumbangsih kami bagi keberlangsungan pembangunan bangsa dan negara.” Pasti berat menjadi anak-anak pembaca di masa Orde Baru. Mereka sungguh anak-anak yang tabah di hadapan negara.

Tahun lalu, saya bersama Naimatur, seorang ilustrator, beriseng mengikuti pengadaan buku bacaan anak dalam Gerakan Literasi Nasional 2017 yang membuat sempat disanjung sebagai “penulis negara.” Saya dan Naimatur berkeras menghindari bahasa dan ide birokratif pemerintah yang jelas diwarisi dari Orde Baru sejak halaman sampul. Kita menggarap 7 cerita makanan dalam Wangi dari Rumah Mbah Surti. Kita harus berkeras kepala untuk bisa menulis pembuka tak bernasihat, resmi, dan membebani.

Kita kemudian menulis, “Penulis dan ilustrator berharap cerita-cerita dan gambar akan memberi kalian cukup kegembiraan hari ini. Jika kalian masih merasakan kegembiraan esok, lusa, seminggu, sebulan, atau bahkan setahun lagi karena 7 cerita dalam buku ini, kami anggap kalian telah memberi berkat. Sejumput berkat agar tokoh, peristiwa, tempat, dan waktu dalam 7 cerita kecil ini masih terkenang meski waktu makin berlalu.”   

Ah, biarkan nama (kanak) tercetak dalam halaman-halaman membahagiakan tanpa tugas bernegara. Anak-anak yang tercinta takzim bersemayam di halaman sapa.


Setyaningsih
Esais, Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Kontributor penulis buku Jassin yang Kemarin (2017)
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara