Toko Buku Gunung Agung memiliki kisah panjang sebelum menjadi toko buku dan penerbitan sukses pada zamannya. Pemiliknya memulai menjual buku untuk mendapatkan uang saku: buku-buku curian milik kakak-kakaknya.

TAHUN 1963 adalah tahun ke-10 Toko Buku Gunung Agung didirikan dan beroperasi. Peringatan itu dirayakan dengan mengadakan peresmian gedung tiga lantai Toko Gunung Agung yang berdiri megah di Jalan Kwitang No.6. Hari itu menjadi kian istimewa karena dihadiri langsung oleh sang Presiden, Sukarno.

Memang kedekatan Bung Karno dan sang pemilik Gunung Agung, Masagung, sudah terjalin beberapa tahun sebelumnya. Bung Karno adalah orang yang sangat berjasa dalam bisnis penerbitan dan toko buku Gunung Agung. Masagung pun selalu teringat akan pesan Bung Karno padanya: “Masagung, saya ingin saudara meneruskan kegiatan penerbitan. Ini sangat bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa, jadi jangan ditinggalkan," ujar Bung Karno. 

Bung besar tidak hanya memuji. Dia pun mempercayakan buku-bukunya seperti Di Bawah Bendera Revolusi (2 jilid), Autobiografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams, serta sejumlah buku Soekarno lainnya, untuk diterbitkan dan dipasarkan oleh perusahaan milik Masagung itu. Bung Karno juga meminta bantuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Irian Barat saat Trikora. Permintaan itu diwujudkan Masagung dengan mengadakan pesta buku di Biak, Merauke, Fakfak, Manokwari dan Sorong.

Jika dirunut ke belakang, jauh sebelum itu, pemerintah Indonesia sudah kerap meminta bantuan Masagung untuk menyelenggarakan pameran buku seperti di Malaka dan Singapura pada 1956. Pemerintah pada masa itu dan Bung Karno khususnya, memang terkesan dengan ketekunan Masagung berbisnis buku. Masagung memulai bisnis itu dengan keadaan yang serba sulit awalnya. Ketekunan dan keyakinan membuatnya bisa mengatasi banyak persoalan.

Anak Nakal Yang Belajar Bertahan

Suatu hari pada tahun 1940, seorang remaja putra keturunan Tionghoa menempuh perjalanan panjang dari Bogor ke Jakarta. Usianya baru 13 tahun dan perjalanan itu adalah yang pertama ditempuhnya sendirian. Perasaannnya masih campur aduk antara marah, sedih, sekaligus bingung. Kepergiannya dari Bogor dilataberlelakangi oleh sebuah konflik yang terjadi antara dirinya dan sang paman yang memberinya tumpangan.

Nama pemuda itu Tjio Wie Tay. Ia kerap membuat sang paman gusar dengan kenakalan demi kenakalan yang tak ada habisnya. Tujuan sang ibu mengirimkan Wie Tay ke Bogor adalah untuk meredam kenakalannya dengan masuk ke sekolah yang baru. Namun, lingkungan baru tidak cukup membuat Wie Tay berubah menjadi anak yang lebih baik. Maka pulanglah dia ke rumah orang tuanya di Jakarta.

Rumah keluarga Wie Tay di Jakarta sama sekali tidak berubah sejak dia tinggalkan ke Bogor beberapa waktu silam. Bahkan kondisi ekonomi keluarganya juga tidak semakin membaik. Ibunya, Tjoa Poppi Nio, masih harus bekerja keras menghidupi kelima anaknya. Sempat terpikirkan oleh Wie Tay bahwa ekonomi keluarganya akan membaik setelah kepergiannya ke Bogor, tapi ternyata tidak. Meski kesal dengan kenakalan Wie Tay yang belum “sembuh”, ibunya tetap berpesan agar Wie Tay belajar saja yang benar agar kerja keras ibunya tak sia-sia. Harapan itu tidak terlaksana karena kenakalan Wie Tay membuatnya tidak menyelesaikan sekolah.

Beban ekonomi keluarga memang harus dipikul sang ibu sejak 9 tahun lalu karena sang ayah, Tjio Koan An sudah meninggal. Ekonomi yang sulit bahkan membuat Wie Tay kecil kerap mencuri buku-buku pelajaran kakak-kakaknya untuk dijual ke Pasar Senen. Hasil penjualan buku itu ternyata cukup untuk uang sakunya selama beberapa hari. Kini, Wie Tay remaja teringat kembali pada kebiasaan masa kanaknya itu. Dia pun memutuskan untuk melakukannya lagi.

Dari penjualan buku-buku curiannya itu, Wie Tay rata-rata mendapatkan 50 sen. Kian hari stok buku yang dijual semakin menipis dan akhirnya habis sudah. Wie Tay lalu mencari pekerjaan lain. Dia pun ikut bermain dalam pertunjukan senam dan aerobatik. Penghasilannya memang tidak seberapa, tetapi Wie Tay tak punya pilihan lain.

Tjio Wie Tay adalah anak yang berani. Berani berkelahi, berani melawan, dan tentu berani mengambil risiko apapun untuk bertahan hidup. Keberanian pula yang mengantarkannya masuk ke dalam dunia bisnis yang lebih besar dan akhirnya sukses mendirikan PT. Toko Buku Agung Tbk. yang begitu tersohor di tanah air.

Berdagang Rokok, Bir Sampai Buku dan Alat Tulis

Masih di masa remajanya, Wie Tay memilih untuk tidak meneruskan pekerjaan sebagai “manusia karet” di panggung-panggung senam dan aerobatik. Dia lalu memilih berjualan rokok keliling. Dengan modal keberanian dan uang yang hanya 50 sen, Wie Tay mendatangi seorang  pedagang rokok besar bernama Lie Tay San. Modal itu cukup sukses membuat Wie Tay mendapatkan sejumlah rokok dan memulai berjualan rokok secara berkeliling di area Senen dan Glodok. Pada masa itulah Wie Tay gencar menabung pendapatannya sedikit demi sedikit.

Aktivitas berjualan itu membawa Wie Tay berkenalan dengan banyak pedagang rokok. Pergaulan itu pula yang mengenalkan Wie Tay pada pedagang rokok besar lain selain Lie Tay San. Di Pasar Pagi ada tempat partai rokok yang cukup besar. Pada saat itu sebenarnya Wie Tay sudah membuka toko rokok kecil-kecilan miliknya sendiri di Senen. Wie Tay lalu mulai berbelanja rokok untuk tokonya di Pasar Pagi. Aktivitas itu mempertemukan Wie Tay dengan The Kie Hoat dan Lie Tay San, dua orang pedagang rokok yang kemudian menjadi sahabatnya. The Kie Hoat bekerja di perusahaan rokok terkenal yakni Perola.

Suatu kali, The Kie Hoat menawarkan pada Wie Tay dan Tay San untuk menjual rokok Perola di luar distributor yang sudah ada. Tay San ragu-ragu menyanggupinya karena merasa tindakan itu cenderung berisiko. Wie Tay yang lebih muda, justru berpikir tindakan itu akan menghasilkan keuntungan yang besar. Rokok Perola yang terkenal pasti akan cepat habis terjual. Perkiraan Wie Tay tidak meleset. Rokok Perola yang mereka jual memang laris manis. Namun keuntungan itu redup juga dalam sekejap karena The Kie Hoat dipecat dari perusahaan Perola dengan alasan melanggar peraturan perusahaan, menjual rokok ke pihak luar yang bukan distributor.

Kegagalan itu tak serta-merta memutus persahabatan ketiganya. Dengan modal seadanya, mereka lalu mendirikan sebuah badan usaha bernama Tay San Kongsie pada 1945. Bermula dari hanya menjual rokok, Tay San Kongsie kemudian juga menjual bir Cap Burung Kenari. Waktu berselang, mereka mulai menekuni pula bisnis buku. Buku-buku pertama yang bisa mereka jual ada buku impor berbahasa Belanda yang didapatkan dari seorang teman. Mereka berjualan di Lapangan Kramat Bunder yang berjarak cukup dekat dari rumah Lie Tay San.

Bisnis buku itu laris manis. Mereka kemudian membuka toko kecil berukuran 3x3 meter persegi yang kemudian diperluas menjadi 6x9 meter persegi. Semakin hari keuntungan yang didapat dari berjualan buku makin meningkat. Penjualan rokok dan bir akhirnya dihentikan dan diganti dengan berjualan buku beserta alat tulis seutuhnya. Bisnis itu pada 1948 dikukuhkan menjadi Firma Tay San Kongsie. Wie Tay ditunjuk untuk menjadi pemimpin perusahaan ini. Ketika banyak orang-orang Belanda yang meninggalkan Indonesia, Wie Tay mendatangi mereka untuk meminta buku-buku bekas mereka dijual dengan harga murah.

Pasca-menikah pada 1951, Wie Tay berpikir untuk kian mengembangkan bisnis bukunya itu. Untuk mengembangkannya, Wie Tay memerlukan modal tambahan yang tidak sedikit. Keinginan itu dia utarakan pada The Kie Hoat dan Lie Tay San. Lie Tay San mengaku keberatan dengan ide itu. Dia memilih tidak ikut serta dan tetap bertahan dengan toko bukunya di Lapangan Kramat Bunder.

Sementara itu, The Kie Hoat memutuskan mengikuti Wie Tay mendirikan toko di Kwitang, sebuah kawasan yang saat itu masih lengang betul. Toko yang mereka buka ternyata membawa kehidupan bagi kawasan Kwitang. Banyak gerobak buku yang berdatangan untuk memasok buku ke toko mereka. Perlahan-lahan Kwitang yang sepi akhirnya menjadi semakin ramai.

Kelahiran Gunung Agung

Toko buku itu didirikan dengan proses yang lama. Salah satu hal yang cukup sulit untuk dilakukan adalah mencarikan nama yang bagus. Nama toko atau produk, menjadi sangat penting dalam berbisnis. Suatu kali Wie Tay tiba-tiba teringat pada arti namanya dalam Bahasa Indonesia.

Wie Tay berarti gunung yang besar atau gunung gede. Maknanya begitu dalam, bahwa gunung besar adalah simbol kekuatan dan ketangguhan. Namun agar lebih ciamik, Wie Tay menerjemahkannya menjadi gunung agung. Ide nama itu lalu disodorkannya pada The Kie Hoat dan segera disetujuinya.

Toko Buku Gunung Agung berkembang sangat pesat. Semakin banyak buku yang dijual, di samping penjualan tinta, kertas tik dan kertas stensil. Wie Tay menilai usaha ini akan semakin berkembang apabila menggandeng kalangan-kalangan yang tergolong dekat dengan buku seperti pengarang dan wartawan untuk menerbitkan buku-buku mereka. Tindakan ini menyebabkan buku-buku yang terbit di awal berdirinya adalah buku-buku sastra karangan orang-orang tersebut.  Pada 1963 ketika Toko Gunung Agung menginjak usia kesepuluh, Wie Tay mengubah namanya menjadi Masagung, yang akhirnya menjadi sangat populer sampai sekarang.

Ternyata bisnis Masagung tidak sebatas toko buku dan penerbitan. Ia juga merambah bisnis lain dengan mengelola bisnis ritel bekerjasama dengan Departement Store Sarinah di Jalan MH Thamrin. Setelah itu Masagung lalu masuk ke Duty Free Shop, money changer, dan perhotelan. Kini ia juga menjadi agen dari pena Parker, rokok Dunhill, dan Rothmans, majalah Times, sampai komputer Honeywell. Masagung juga mendirikan sebuah perusahaan pariwisata bernama PT Jaya Bali Agung.

Wie Tay, si gunung besar, nama yang diberikan orang tuanya dahulu, sungguh diresapi Masagung sebagai doa yang menjadi kenyataan berkat kerja kerasnya bertahun-tahun.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara