Puisi adalah milik siapa saja, termasuk anak-anak. Tahun 2017 ini Bilik Literasi menerbitkan antologi puisi Siswa-siswi SD Al-Islam 2 Jamsaren setebal 48 halaman.

GENERASI kita menanggung risiko perusakan wajah Islam sejak dua tahun terakhir. Wajah Islam pasca-212 jauh lebih “rusak” daripada pascaperistiwa WTC, 11 September 2001 silam. Islam yang hendak ditampilkan oknum massa aksi itu bukan lagi Islam ramah di masjid, pesantren, keluarga, melainkan Islam yang marah di jalan. Padahal, sungguh, oknum massa itu bukan cermin lautan kearifan Islam yang sebenarnya. Mereka, seperti dalam puisi Jakarta #12 Yudhistira ANM Massardi:

Hanya buih!

Dan selaksa kotoran

Di selokan-selokan kegelapan

Yang membiakkan kebodohan

Menistakan akal sehat

Melahap dusta sebagai fakta

Menyebar fitnah sebagai perintah.

Yudhis pun sedih:

Aku menitikkan air mata

Sungguh tak bisa percaya

Bahwa semua itu nyata

: Malapetaka!

Jakarta #12 adalah satu dari seratus puisi kesaksian perusakan wajah Islam di ibu kota. Puisi-puisi Yudhis terhimpun dan terbit sebagai Luka Cinta Jakarta (2017). Buku Yudhis mematrikan sedih seorang muslim menatap sesamanya mencoreng wajah agama yang dicintai. Luka Cinta Jakarta adalah sedih yang marah, dan marah itu tak teredakan humor. Sedih lalu menulari pembaca Yudhis yang mengharapkan puisi-puisi jenakanya. Yudhis sibuk menghalau luka, tertatih menanam (kembali) cinta. Godaan humor dalam kumpulan puisi mutakhir Yudhis tak lagi kental. Kita boleh beranjak dari Yudhis, untuk menuju puisi-puisi yang lebih segar dan lugu.

Oknum massa aksi perusak wajah Islam adalah kaum antiliterasi. Untuk melawan mereka, tentu kita mesti menggerakkan siapa saja yang punya kesadaran literasi. Kita lantas bertemu siswa-siswi anggota ekstrakurikuler menulis di SD Al-Islam 2 Jamsaren, Surakarta. Mereka terlibat kegiatan Literasi Islam Santun yang dibimbing oleh pengajar IAIN Surakarta, Endy Saputro, dan pendampingan dari Bilik Literasi.

Aji Wicaksono, pengelola ekstrakurikuler menulis, mengakui, “[Literasi Islam Santun] menjadi kegiatan yang memikat banyak peminat, terutama peserta ekstrakurikuler menulis yang diadakan setiap hari Senin. Anak-anak menulis puisi bertema ‘Berbagi’. Bahagia terlihat di wajah anak-anak saat itu karena mereka ‘dijanjeni’ bahwa tulisan akan terbit menjadi buku kumpulan puisi bocah.”

Buku benar-benar terbit, anak-anak berhasil bahagia. Buku berjudul Sedikit tetapi Asyik (2017) jadi penanda kebahagiaan mereka. Judul buku dipinjam dari puisi bikinan Amira Keishas Arkan, siswi kelas IV D. Amira menulis:

Sepotong biskuit, aku berbagi,

Sepotong ilmu, aku mencari.

Lakukanlah berbagi.

Senang jika diberi.

Tetapi aku juga ingin memberi.

 

Selalu ikhlas melepaskan makanan yang dibagi.

Mencoba berbagi juga mencoba mengikhlaskan.

Makan sendiri tidak asyik.

Makan bersama lebih asyik walaupun sedikit.

Puisi yang sangat sederhana. Kita yang menganggap puisi mesti begini dan begitu, atau bilangnya begini maksudnya begitu, mungkin tak terima tulisan siswa-siswi itu disebut puisi. Kita semestinya sadar diri, tak usah memaksakan standar puisi “pada umumnya” ke anak-anak yang sedang belajar.

Berbagi diajarkan di sana-sini, oleh orangtua (ibu dan bapak), guru, ustaz, nenek, siapa pun. Iming-imingan berbagi itu surgawi. Dena Balousha Tsabita, dari kelas III D, menulis:

Kita sesama manusia

harus berbagi.

Jika kita berbagi

pasti akan mendapat pahala.

Jika kita berbagi

orang lain juga akan membagi kita.

Alangkah senangnya/ jika kita berbagi.

Berbagi itu melancarkan urusan dunia dan akhirat. Berbagi diganjari pahala yang menguntungkan kita di akhirat nanti. Berbagi pun menguntungkan di dunia, sebab ketika kita sudi berbagi pada orang lain, orang pun mau membagi miliknya pada kita. Dena belum belajar teori pertukaran cetusan sosiolog modern George C. Homans. Tapi, toh, keluguan anak-anaknya sudah cukup untuk mengerti bahwa tindakan positif akan diganjar positif pula.

Beberapa siswa sayangnya diajarkan berbagi (entah oleh siapa) dengan ancaman. Kita menjumpai ancaman tersebut di beberapa puisi garapan siswa-siswi SD Al-Islam 2 Jamsaren. Ancaman kita temukan dalam puisi Annisa Rizky Nadisya, siswi kelas IV B berjudul Nasihat Ayahku:

Janganlah engkau pelit

dengan teman, keluarga, guru dan adikmu.

Berdosalah engkau jika pelit dengan orang.”

Nasihat Ayah Annisa memang tak salah. Kadang, para penasihat lebih suka menekankan pada yang pantang ketimbang yang seharusnya dilakukan. Kata “jangan”, apalagi “berdosalah”, pada akhirnya lebih kuat ketimbang “kamu harus”. Sebagai anak yang baik, Annisa pun mengerti maksud mulia ayahnya:

Ayah....

Aku berterima kasih padamu

karena kau sudah menasihatiku.

Terima kasih ayahku.

Ancaman dosa masih abstrak dan jauh. Penimbangan dosa masih di akhirat nanti. Sebelum ke akhirat, konon kita menjalani alam kubur dahulu. Ancaman di alam kubur itulah yang paling sering muncul dalam buku Sedikit tetapi Asyik. Aulia Zahra Sabila Candrawati, Yafi Guferon, dan Almira Shabrin, sama-sama mengajak berbagi dengan menanggung ancaman “kuburan sempit”. Mari kita menengok puisi Jangan Suka Pelit Aulia sebagai contoh:

Suatu hari....

Aku bertanya kepada ayah dan ibu.

Aku tanya, “Mah, kenapa tidak boleh pelit?

Kak, kalau pelit...” Ayah menyahut perkataan mamah.

Kalau pelit nanti kuburannya sempit.”

Kita abaikan inkonsistensi dalam penyebutan ibu dan mamah. Kita cukup memperhatikan bahwa anak-anak kita telanjur dikenalkan pada agama dengan segala ancamannya.

Pengenalan pada agama sebagai “yang mengancam” berisiko menjelmakan anak-anak penerus massa aksi 212. Beruntung, kita sempat mencatatnya lewat buku Sedikit tetapi Asyik. Benak terancam anak-anak kita jadi kentara dan sempat diluruskan. Anak-anak, dengan segala pengaruh dari luar, tetap yakin dan bersepakat bahwa berbagi itu baik. Mereka tak semata menulis puisi bertema berbagi.

Lebih dari itu, dengan menulis pun sebetulnya mereka sudah mengamalkan langsung kesudian berbagi. Dengan begitu, massa aksi 212 dan seluruh pendukungnya mestinya malu pada anak-anak kita. Islam mestinya ditampilkan lewat berbagi kebaikan, alih-alih perebutan kekuasaan. Islam itu santun dan ramah. Kita saja yang keparat.


Udji Kayang Aditya Supriyanto
Pembaca buku dan pengelola "Bukulah!"
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara