Mahbub Djunaidi, lahir tahun 1933 dan meninggal tahun 1995. Ia adalah seorang jurnalis, penulis, sastrawan, sekaligus seorang penerjemah. Salah satu karyanya: terjemahan "Animal Farm"-nya George Orwell.

KONON, Mahbub Djunaidi adalah seorang pendekar pena sakti mandraguna yang (ternyata) tak populer. Terkait tidak populernya Mahbub, saya teringat sebuah cerita jenaka yang kerap dikisahkan teman saya setiap kali membincang soal Mahbub.

Suatu kali digelar diskusi mengenai hayat dan karya Mahbub Djunaidi di sebuah kampus. Banyak mahasiswa datang. Teman saya berdiri di belakang bersama peserta lain yang tidak bisa duduk di kursi. Tiba-tiba seorang mahasiswa di samping teman saya bertanya pada temannya:

“Eh, Mahbub Djunaidi yang mana sih? Datang nggak dia?”

Mendengar pertanyaan itu teman saya tertawa dalam hati. Almarhum Mahbub mungkin juga senyum-senyum sendiri di alam sana. Ia yang telah melahirkan banyak karya bagus dan penting, pernah mendirikan organisasi besar, nyatanya tidak terkenal-terkenal amat. Untunglah belakangan beberapa orang berupaya membuat karya-karya Mahbub moncer kembali dengan cara menerbitkan ulang dan menggelar diskusi.

Salah satu diskusi yang digelar di sebuah pesantren di Solo, yang saya ikuti, juga meneguhkan betapa tak populernya Mahbub. Salah seorang pemantik diskusi melempar pertanyaan kepada para santri: kenalkah mereka dengan Mahbub Djunaidi?

Sebagian besar geleng kepala sambil senyum malu-malu.

Ia lalu melempar pertanyaan berikutnya: apakah santri-santri di sini suka membaca?

Banyak yang menjawab suka membaca.

Mereka lalu diminta menyebutkan penulis favorit. Awalnya tak ada yang menjawab. Hingga akhirnya seorang santriwati memberanikan diri, ia sebutkan nama penulis favoritnya: Tere Liye. Santri lain menimpali: Habiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata.

*

Mulanya, nama Mahbub hanya terdengar samar-sama belaka di telinga saya. Hingga pada suatu hari saya menemukan novel Dari Hari ke Hari terbitan Pustaka Jaya seharga Rp 10.000 dijual di bazar buku di kampus. Saya membelinya tapi tak segera saya baca.

Dorongan membaca buku tersebut muncul ketika teman-teman di Ciputat “menemukan kembali” hebatnya Mahbub. Mereka menulis ulang esai-esai Mahbub yang renyah dan jenaka lalu memuatnya di http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com. Kerap pula mereka mengadakan diskusi-diskusi kecil mengulik karya Mahbub.

Khatam membaca Dari Hari ke Hari saya tahu bahwa Mahbub bukan penulis sembarangan. Ia bertutur dengan sangat baik dan lancar. Beda Mahbub dengan penulis Indonesia lain adalah kepiawaiannya menyisipkan humor. Di beberapa bagian kita akan dibuat tersenyum dan terbahak oleh Mahbub. Selain itu, saya rasa Dari Hari ke Hari juga merupakan “dokumen penting” karena ia memotret Indonesia di masa revolusi. Kota Solo sebagai latar cerita digambarkan sangat apik. Menjadi istimewa bagi saya karena saya pernah sekolah di Solo.

Terpesona novel Dari Hari ke Hari, saya mencari karya-karya Mahbub yang lain. Saya akhirnya dipertemukan dengan orang-orang yang juga menggilai Mahbub. Seorang teman saya menemukan novel Animal Farm (George Orwell) terjemahan Mahbub di sebuah toko buku bekas. Tak berpikir lama, kami langsung meminta novel itu digandakan di kios fotokopi (untunglah novel itu kini sudah dicetak ulang). Begitu juga ketika saya secara tak sengaja bertemu novel tipis Cakar-Cakar Irving yang juga hasil terjemahan Mahbub. Hari itu juga langsung diperbanyak karena teman-teman amat penasaran ingin membacanya.

Kami sepakat bahwa Mahbub adalah seorang penerjemah yang mantap. Ada sisipan suara Mahbub sendiri dalam terjemahan, yang tentu saja jenaka. Rasanya seperti membaca ‘novel baru’ anggitan Mahbub.

Bayangkan saja, di novel Cakar-Cakar Irving karya Art Buchwald terjemahan Mahbub ada tokoh yang berseru “Astagfirullah!”, “Ya Allah!”. Jika bukan Mahbub mungkin tidak ada yang ‘berani’ melakukan penerjemahan serupa itu.

Saya selanjutnya berburu esai-esai Mahbub. Teman-teman saya yang membuat blog Pojok Mahbub Djunaidi gandrung betul dengan esai-esai Mahbub. Mereka sepakat: hari ini rasanya sulit sekali menemukan seorang esais atau kolumnis yang mampu menulis dengan baik sekaligus jenaka seperti Mahbub. Selain jenaka, Mahbub juga menulis beragam tema. Mahbub memang mengibaratkan dirinya sebagai tukang loak, apa saja diangkut.

Kekuatan esai Mahbub saya kira adalah ada pada permisalan-permisalan yang nakal dan khas. Simak misalnya cara Mahbub menggambarkan majalah Tempo dalam esainya seperti ini:

Majalah yang dipimpinnya itu seperti pisang dempet, langka dan unik, karena menganut jurnalistik gaya baru, menggabung kaedah pers dan sastra, dua jenis makhluk yang dulunya saling mendelik dan cela. Itu sebabnya kebanyakan orang membacanya sambil jongkok, semata-mata karena asyik dan kenes, mempermainkan bahasa seakan bahasa itu milik om dan tantenya sendiri.

Sukar membayangkan cara Mahbub mendapatkan ilham menyamakan Tempo dengan pisang dempet. Sama sulitnya menemukan ungkapan “seakan bahasa itu milik om dan tantenya sendiri”. Beberapa pembaca mungkin akan mengumpat saking gemasnya membaca esai Mahbub. Sayangnya, sekali lagi, cara menulis seperti itu nyaris tak dapat ditemukan lagi di koran dan majalah kita hari ini.

Hal lain yang saya kenang dari Mahbub adalah pergaulannya yang luas dan keberpihakannya yang jelas. Saya ingat tulisan Koesalah Soebagyo Toer yang menggambarkan kedekatan Pram dan Mahbub. Tulisan itu berjudul Mas Pram dan Mahbub, dimuat di buku Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali.

Dikisahkan, Pram datang di acara acara peluncuran buku Sketsa Kehidupan dan Surat-Surat Pribadi Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi. Tiba-tiba Pram diminta memberi sambutan. Padahal selama ini Pram dikenal tak pernah mau memberikan sambutan. Aneh bin ajaib, di acara mengenang Mahbub itu Pram berkenan memberi sambutan. Kata Pram: di kala saya diserang dari segala penjuru, hanya satu orang yang membela saya, yaitu Mahbub. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Mahbub dan keluarga.

Sebuah sambutan singkat yang menggetarkan.

Saya membayangkan di kemudian hari akan ada Mahbub Djunaidi Award atau sejenisnya, sebuah penghargaan yang diberikan kepada novelis, esais dan penerjemah (tiga bidang yang lekat dengan Mahbub). Penghargaan ini kiranya dapat rutin diberikan setiap tahun, semata sebagai upaya untuk terus mengenang kontribusi Mahbub Djunaidi bagi dunia literasi Indonesia. Semoga.


Kredit Gambar : nu.or.id
A. Zakky Zulhazmi
Pengajar di Jurusan KPI IAIN Surakarta. Karyanya: Gula Kawung, Pohon Avokad dan cerita pendek lainnya (Surah, 2015).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara