Adalah biasa jika penyair menulis puisi saat senja di pantai atau malam hari diiringi rintik hujan menimpa genting. Yang tak biasa adalah penyair yang di saat-saat seperti itu justru tak bisa menulis puisi: Beni Satryo.

ORWELL DALAM SALAH satu esainya, Poetry and The Microphone menuliskan bahwa sulit mempercayai puisi dapat dipopulerkan kembali tanpa usaha sungguh-sungguh untuk mendidik selera publik dengan menggunakan strategi tertentu bahkan akal-akalan. Dan jika boleh berpendapat, Beni Satryo adalah salah satu yang berhasil. Pwissie-nya bukan saja peroleh sambutan hangat dari pembaca setia, melainkan juga berhasil menjadikan bukunya sebagai produk seni layak koleksi. Menggunakan humor sebagai upaya penyampaian, untuk kemudian dengan sadar memaksimalkan media sosial sebagai medium untuk mempopulerkan.

Ketika pertama kali Puthut EA memberi kabar bahwa ada naskah puisi yang perlu segera dibaca, saya menaruh sebentar terjemahan Mishima. Benar saja. Puisi tersebut terasa menarik sejak judulnya: Pendidikan Jasmani dan Kesunyian. Satu-satunya naskah dengan legitimasi paling ganjil, pwissie.

Jauh sebelum pwissienya terbit menjadi buku, hanya sekali waktu saya berjumpa dengan Beni pada satu acara di Jogja. Ia nampak sebagai orang yang pemalu. Tak banyak bicara dan menundukan pandangan. Belakangan baru saya ketahui, itu semua palsu. Sebab ia adalah seperti apa yang terlihat pada sajak-sajaknya: sesekali lucu, kali lainnya menyedihkan.

Dalam antologi tersebut, ia memulai dengan satu judul yang serius, Korintian. Mencoba menegaskan bahwa puisinya adalah bayi-bayi mati yang tumbuh di rahim kesunyian. Penekanan ia lakukan pada pembaca lewat kalimat Huruf membunuh, tetapi roh menghidupkan. Berlanjut ke judul berikutnya, Orkes Pemupus Dendam, puisi Beni masihlah seperti puisi yang serius. Barulah pada judul ketiga dan keempat, Duri Dalam Daging dan Di Restoran, kita mulai melihat betapa segala hal yang muram, dikemas dengan humor.

Belum selesai mengurai Ode Buat Sendal Jepit, ia mengocok kembali perut kita dengan judul-judul seperti Perempuan Separuh Buntil, Menyiram Kuah Soto, Nietzche dan Perempuan Berhati Pos Ronda, atau Ledre. Namun dari semuanya, saya jatuh haru pada Peluk Luka. Keterpesonaan saya tentu disebabkan oleh imajinasi Beni membayangkan seorang penyair yang kelimpungan mencari huruf A dan menemukan huruf itu angslup pada kata peluk demi memunculkan suasana sedih tentang perasaan yang telah lalu.

Dua minggu setelah saya pertama kali membaca sajak-sajaknya, kami bertemu dan menghabiskan empat-lima jam di Ibu Kota. Ia dengan kacamata tebal yang kian turun ke hidung, celana yang sedikit dilipat ke atas serta kaos kaki panjang, berbicara tentang dirinya dan pekerjaan, Yogya dan Jakarta, angkringan dan restoran, filsafat dan sastra, Suluh Pamuji dan Tampan Destawan, serta segala hal yang menjadi bahan dasar dari setiap inspirasi puisi-puisinya.

Apa yang Anda rasakan jika bicara tentang puisi, Bang Ben?

(Merenung sejenak) Bagi saya, jika hidup adalah peperangan, maka puisi adalah lukanya (tersenyum). Peperangan adalah satu gejolak, sesuatu yang bergerak. Di sana akan ada benturan, setiap luka dan apa yang kita rasakan sebagai derita, itulah puisi bagi saya.

Mengapa memilih puisi sebagai alat menyampaikan sesuatu hal? Bukan cerita pendek atau novel misalnya?

Cerpen dan Novel merupakan sesuatu yang kompleks. Selain perlunya kerja keras dalam membangun plot, merancang setting, serta stamina menjaga alur cerita, dua hal itu saya kira membutuhkan usaha yang lebih banyak. Bukan berarti saya bilang puisi lebih sederhana atau simpel, tetapi itu memungkinkan saya leluasa dalam memilih metafor-metafor untuk merangkum segala sesuatu jadi lebih pendek. Mungkin kelak, jika saya sudah bisa menulis puisi “dengan baik”, saya akan mencoba menulis cerita pendek, kemudian novel.

Kapan pertama kali menulis Puisi?

Sejak SMA. Namun saat itu sekadar curahan hati. Saya tidak pernah membaca buku-buku puisi alih-alih sastra. Baru pada tahun 2006, saat pertama kali masuk kuliah, saya mulai rutin menulis puisi. Membagikannya pada beberapa kawan untuk mendapat komentar mereka. Dari situ saya mulai yakin bahwa saya memang akan menulis puisi ke depannya.

Di saat-saat kapan Anda menulis puisi? Pada suasana-suasana tertentu atau bebas saja?

Bebas. Saya bukan tipikal penulis yang merencanakan tulisan saya. Atau menanti satu suasana menarik seperti senja di pinggir pantai, malam dengan rintik hujan, atau pagi dengan aroma kebun yang hangat. Saya justru tidak bisa melakukannya pada saat-saat seperti itu. Biasanya malah ketika di halte saat menunggu bus, menanti pesanan makanan datang sembari memandangi kobokan, atau saat bangun tidur dan merasakan mimpi basah yang tuntas. Spontan.

Siapa penyair atau puisi-puisi yang mempengaruhi proses kreatif Anda?

Sapardi Djoko Damono. Nama itu saya dapat dari musikalisasi puisi Ari Reda. Judul-judul seperti Metamorforsis, Kartu Pos Bergambar Golden Gate, dll. Saya mendengar musikalisasi itu dan bertanya siapa nama di baliknya. Setelah Ari Reda menyebutkan, saya bergegas mencari puisi-puisinya lantas membacanya. Saya kagum karena begitu lirih. Itu membuat saya menginginkan melakukan hal yang sama. Menulis puisi yang indah-indah jika boleh dikatakan demikian. Saya meniru gayanya serta menuliskan tema yang tidak jauh dari yang dituliskan Sapardi. Baru kemudian setelah berinteraksi dengan banyak kawan, saya mulai mengenal satu nama baru dalam proses kreatif saya: Joko Pinurbo.

Lewat buku tipis berjudul Kepada Cium (saya pernah membeli bukunya dan hilang), saya terlonjak heran dengan cara JokPin menuliskan puisi-puisinya. Romantis tapi aneh. Berbeda baik irama maupun pilihan kata-katanya.  Saya kebingungan tentang teknik atau teori yang dipakai Jokpin, namun perlahan-lahan saya mulai menirunya sebagaimana saya meniru Sapardi.

Nama penyair lain?

Tidak ada saya kira. Saya membaca Rendra, Chairil Anwar atau Sitor Situmorang. Tapi sekadar membaca saja. Tidak benar-benar berpikir akan seperti mereka atau menjadikan mereka sebagai satu patron yang perlu saya ikuti. Jika ada nama lain, mungkin justru Iwan Fals. Ia bukan saja sedang bernyanyi, tapi juga berpuisi. Lirik-liriknya seperti nyanyian jiwa. Jujur dan gagah. Ada satu lagi yang itu berkisah tentang seseorang yang patah hati, kalah, terpuruk, tapi Iwan tidak terjebak menyampaikannya dengan cara yang cengeng. Lagu itu akhirnya terdengar berwibawa, juga bertenaga. Pendekatan-pendekatan dalam mengemas kata-kata itulah yang saya curi. Termasuk gaya-gaya slengekan dalam lagu Generasi Frustasi. Maka Iwan Fals sesungguhnya sangat berpengaruh, selain Sapardi dan Joko Pinurbo.

Nah, ini kembali pada suasana saat saya menulis puisi. Jika butuh pancingan, saya akan mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Sebagai inspirasi, sebagai penggugah. Setelah itu, biasanya saya lebih bergairah atau minimal memperoleh mood yang bagus.

Ada yang menarik dari tagline buku Bang Beni, yakni pwissie yang merupakan pelesetan dari puisi. Mengapa demikian?

Lepas dari pertimbangan EYD, saya suka kata itu. Lucu. Maksud saya, saya mencoba humor sejak awal. Sekaligus sebagai brand identitas saya. Orang terbiasa mendengar kata p-u-i-s-i, saya mencoba agar ketika orang mendengar atau melihat kata p-w-i-s-s-i-e, mereka akan mengingat Beni Satryo, hahaha.

Sejauh apa pengaruh Yogya sebagai kota Anda mulai menyukai puisi, dan kemudian Jakarta sebagai tempat hijrah sekaligus kota yang membuat Anda kini punya buku pwissie?

Pada karya ini, pengaruh terbesar datang dari kota yang kini saya tinggali, Jakarta. Di waktu-waktu sebelumnya, Yogyakarta memang segalanya bagi saya. Ia menjadi bahan dasar sekaligus bahan bakar. Kemudian Jakarta adalah mesin pembuat, atau tepatnya proses kerja saya yang sebenarnya dalam meracik puisi ada di sini. Dengan segala kenangan yang saya alami dan saya bawa ke sini.

Jakarta, adalah kota yang saya benci sekaligus saya cintai. Saya bisa menghayati rutinitas antri bus, menemukan para pemuda bernyanyi-nyanyi di gang, banjir serta keriuhan yang justru membuat saya menghayati makna sepi. Mulanya saya kira saya tidak akan bisa menulis dan hanya bekerja saja seperti mesin. Ternyata saya salah, seperti sebuah keajaiban, puisi-puisi saya justru menemukan lagi energinya di kota ini.

Di kota ini pula segala peristiwa yang saya alami bertaut dengan segala yang pernah terjadi di Yogyakarta. Itu membuat saya menemukan berbagai kata yang jika boleh dibilang genial (nyengir). Saya berhutang budi kelak pada kota ini.

Bagaimana Bang Ben berpendapat tentang media sosial yang belakangan menjadi ruang paling berpengaruh bagi penulis-penulis baru?

Saya pikir itu hal menarik. Sebelum media sosial berkembang seperti sekarang ini, penulis-penulis terdahulu mengandalkan koran sebagai satu ruang bagi karya-karyanya. Masalahnya adalah media itu terbatas. Tidak setiap saat ia bisa muncul di sana. Sedangkan sekarang, Twitter atau Facebook memberi kemungkinan itu. Menembus batas-batas. Pembaca bisa siapa saja dan datang dari mana saja. Bebas.

Saya adalah termasuk salah satu di antaranya, di mana karya-karya saya mengandalkan media sosial sebagai ruang promosi. Anda seperti berada di dunia yang kita ciptakan sendiri. Terserah orang akan membaca atau tidak, merespon atau tidak, Anda tidak terlalu memusingkannya. Anda hanya berpikir mengisi dunia tersebut dengan hal yang Anda inginkan untuk mengisinya.

Beberapa orang berpendapat menjadi penyair tidak bikin kaya, atau buku puisi tidak bikin kenyang, tapi mengapa bersikeras melakukan itu; menjadi penulis (penyair) serta menulis puisi?

Saya cukup bingung menjawabnya. Atau tidak mendapat jawaban paling jitu. Tapi awalnya saya sadar akan hal itu, bahwa puisi tidak membuat penulisnya kenyang. Puisi bukan opsi utama ketika seseorang pergi ke toko buku, minimal ia akan menjadi opsi kesekian setelah novel atau kumpulan cerita. Hanya mau bilang apa jika ternyata semua dilakukan karena cinta (nyengir). Seolah hal lain tidak perlu dipikirkan, yang penting kita senang melakukan itu.

Di sisi lain, saya menyadari pentingnya desain visual (juga kemasan). Setidaknya itu membuat orang punya pilihan. Jika puisi-puisi di dalamnya tidak sesuai selera, atau memang tidak bagus, minimal pembeli akan berdamai dengan desainnya. Lumayan, jadi benda koleksi. (tertawa).

Ada banyak judul menarik pada kompilasi puisi Pendidikan Jasmani dan Kesunyian. Mengapa memilih itu sebagai judul? Peluk Luka atau Tenda Biru saya kira judul yang juga menarik

Mulanya saya hampir juga memilih judul lain, semisal Dari Dramaha, Kita Pernah Satu Angkot atau sempat terpikir Ledre, namun akhirnya jatuh pada Pendidikan Jasmani dan Kesunyian. Judul ini bisa jadi identitas, kuat dan unik. Sekaligus secara visual, ini mudah dibayangkan bagaimana kelak bentuk kovernya.

Saya termasuk yang memikirkan desain di awal. Jika saya memilih Dari Dramaha, Kita Pernah Satu Angkot, saya akan sulit membayangkan visualnya. Selain juga karena terlihat sendu. Sedang jika memilih Ledre, takutnya hanya orang Bojonegoro yang mengerti. Akhirnya saya memilih judul ini, pelesetan dari PenJasKes. Akan mudah diingat orang.

Siapa saja orang-orang yang dilibatkan saat awal membaca naskah ini?

Suluh Pamuji dan Tampan Destawan. Sejak awal berproses pada tahun 2006, Suluh adalah sahabat sepenanggungan. Beliau juga pernah mencoba menulis puisi, tapi kemudian menyerah dan memilih menulis kritik film. Suluh adalah orang yang selalu mengomentari setiap postingan puisi saya. Di manapun dan kapanpun. Sehingga ketika suatu hari setelah saya cukup yakin untuk menerbitkan buku puisi, saya bertanya padanya, “Luh, aku mau nerbitkan puisi. Bagaimana menurutmu?”

Dengan entengnya Suluh menjawab, “Sudah, bikin saja. Pasti bagus. Pasti laku.”

Sejujurnya saya hampir tidak tahu dia sebenarnya bercanda atau serius. Saya tidak bisa membedakan itu pujian atau candaan. Saya takut jika menjadi malu di depan umum karena kualitas puisi saya belum memenuhi kriteria. Namun kembali itu tadi, saya percaya pada Suluh karena ia sahabat saya sejak awal. Seandainya dia belum memberi restu, barangkali saya akan ragu-ragu.

Bernada sama dengan Suluh, kawan saya Tampan Destawan langsung memberi respon cepat dengan menawarkan diri menjadi desainer untuk buku saya tersebut.

Sebagai seorang yang memulai di Twitter, apakah Bang Beni memang terpikir kelak membukukan puisi-puisi lepas tersebut?

Tidak (nyengir). Walau tidak semua, saya kira selalu ada keinginan dari setiap orang yang menulis untuk kelak bisa membukukan karya-karyanya. Awalnya saya tidak memikirkan itu, sampai kemudian mendengar pengakuan seorang kawan yang suatu hari bertemu JokPin dan mengatakan menyukai puisi-puisi saya. Saya kira dia bercanda, namun semakin kawan saya meyakinkan bahwa JokPin meminta saya supaya lekas menerbitkan buku puisi setelah tahu saya belum pernah membukukan sebelumnya, saya menjadi sangat sangat bersemangat. Alasan lain adalah, kata kawan saya Jokpin sedang dalam keadaan mabuk saat mengatakan itu. Setahu saya, orang mabuk pasti jujur (tertawa).

Saya sempat bertanya-tanya, di mana mula-mula JokPin menemukan atau membaca puisi saya? Lewat blog yang sudah saya tutup atau Twitter. Saya lebih menduga via Twitter. Akhirnya, puisi-puisi yang saya tulis selama periode Jakarta saya kumpulkan semua. Memilah dan membacanya sembari berkata pada orang-orang saya ingin menerbitkan buku puisi.

Saya punya kejadian lucu saat itu. Satu kali saya hendak meminta tanda tangan Joko Pinurbo. Saya mencangking dua buku puisinya: Surat Kopi dan Bulu Matamu Padang Ilalang. Saat saya berkata agar membubuhkan “Buat Beni Satryo ya, mas…” beliau langsung membalikkan badan, “Lho, kamu Beni Satryo? Aku suka puisimu. Aku bilang ke mana-mana kalau ketemu orang.” Saya yang kesengsem mencoba tidak melewatkan kesempatan itu, saya berbisik padanya bahwa saya berniat menerbitkan buku puisi sekaligus meminta kata pengantar darinya. JokPin malah tertawa sambil berujar, ‘Woalah, masa kamu masih butuh kata pengantar Bennn, udah terbitin saja.” Saya tidak tahu apakah dia memang jujur atau karena memang malas membuat kata pengantar. Lepas dari itu semua, kata-kata JokPin tersebutlah yang harus saya akui memacu saya sekaligus melipatgandakan kepercayaan diri saya.

Pilih mana, bang: oplah sedikit, kualitas bagus, royalti kecil, atau sebaliknya, oplah banyak, kualitas biasa saja, tapi berpengaruh ke royalti yang agak lebih besar?

Yang pertama. Untuk saat ini, bukan saya bilang tidak butuh uang. Saya merasa akan lebih puas jika kualitas buku saya jadi kunci utama. Kembali seperti kata saya di atas, setidaknya jika orang tidak suka isinya, mereka akan memaklumi kualitas serta desainnya.

Norman Erikson atau Dea Anugrah?

Norman. Dea kawan saya. Puisi-puisinya mampu membuat saya merasakan kecemasan sebagaimana terbaca. Tapi Norman mampu membawa saya lebih jauh. Ia menyeret saya, jika boleh dibilang, dalam kesedihan-kesedihan yang ia tuliskan. Saya membaca sajak-sajak Norman dua-tiga kali, dan menemukan diri saya begitu sedih. Benar-benar merasa sedih. Itu pembacaan saya, entah orang lain.

Joko Pinurbo atau Sapardi?

Joko Pinurbo (Tertawa).

Apakah karena dia yang memuji, atau...

Saya kira kami punya cara-cara mendekati puisi yang sama. Aku begitu tertarik oleh teknik serta segala pemilihan katanya.

Apalagi setelah ini? 

Ketika mas Yusi bertanya di Post, saya bilang akan istirahat. Namun sekarang saya akan menjawab lebih serius. Saya memang perlu jeda sesaat, tapi setelah itu, saya akan berusaha keras menulis puisi secara lebih panjang. Maksud saya, mencoba bentuk lain dari yang saya perlihatkan saat ini.


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara