07 Mar 2017 Fandy Hutari Sosok

Saat batu api diadu dengan baja atau batu lain, akan lahir bunga api. Di Jatinangor, nama itu dijadikan nama sebuah perpustakaan. Dari koleksinya yang lengkap dan "bermutu", mungkin lahir bunga api literasi.

“Cari buku apa?”

Kata Anton Solihin, pemilik perpustakaan mungil, Batu Api, saat kali pertama saya ke sana pada 2002 silam. Ketika itu, saya masih jadi anak baru di Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran. Saya lupa buku apa yang saya cari. Tapi, yang pasti, buku itu untuk referensi tugas kuliah.

Hingga kini, saya tak tahu apa filosofi nama perpustakaan Batu Api. Setahu saya, batu api adalah batuan endapan silikat kriptokristalin yang memiliki permukaan licin. Disebut batu api, karena kalau diadu dengan baja atau batu lain akan memercikkan bunga api yang dapat membakar bahan kering. Bisa jadi?maaf jika salah, mohon koreksi?perpustakaan ini ingin memantik dunia literasi di tengah keringnya dunia buku di Jatinangor. Di perpustakaan kampus saya memang ada perpustakaan. Namun, jika dibandingkan Batu Api, boleh diadu. Koleksi di sini lebih lengkap dan “bermutu”. 

Perpustakaan itu terletak di Jalan Raya Jatinangor 142A, Jatinangor, Jawa Barat. Namun, plang di halaman perpustakaan itu tertulis Jalan Pramoedya Ananta Toer 142A Jatiangor. Bang Anton, begitu sapaan akrabnya, sengaja menulis demikian. Ia sangat kagum dengan penulis legendaris tetralogi Pulau Buru tersebut.

Di terasnya yang mungil, terdapat 5 set kursi kayu tempo dulu, dengan satu meja kayu bundar di tengahnya. Di kaca jendela, tertempel dua peta besar Nusantara. Ukuran ruangan dalam sekira 5 kali 7 meter saja.

Sejak perkenalan pertama itu, saya sering berkunjung ke sana. Apalagi ketika saya tahu bahwa Bang Anton ternyata kakak angkatan saya, alumnus Sejarah Unpad. Ia merawat perpustakaan ini bersama sang istri, Arumtyas Santoso. Letaknya hanya 2 kilometer dari kampus Universitas Padjadjaran, Jatinangor.

Saya ingat, pada 2003 hingga 2005 saya aktif di organisasi intra dan ekstra kampus. Bacaan saya mulai serius. Mengarah ke filsafat dan politik, selain sejarah tentu saja. Setiap ke Batu Api, saya selalu mencari buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Jean Paul Sartre, Albert Camus, Friedrich Engels, Mao Tse Tung, Soekarno, Soe Hok Gie, dan sebagainya. Rata-rata buku yang kata orang “kiri”.

Saking seringnya berkunjung untuk meminjam buku-buku tadi, Bang Anton tertawa ketika pada 2004 saya ke sana.

“Sini, buku-buku kiri di sini,” kata Bang Anton, tertawa lepas.

Di rak-rak pojok dekat mejanya, terpampang buku-buku yang saya cari. Yang membuat saya tertawa, sedikit tersindir, di rak itu tertulis “Kekiri-kirian”. Seolah-olah Bang Anton sedang menyindir saya, karena saya sering meminjam buku-buku itu.

Metode penamaan di rak tadi merupakan salah satu cara Bang Anton untuk menandai koleksi perpustakaannya. Tak ada kode-kode penamaan rak buku yang lazim kita temui di perpustakaan. Jika kita kesulitan mencari buku yang kita cari, cukup menanyakan saja judul dan penulisnya kepada Bang Anton. Sudah pasti ia tahu letak buku yang kita maksud.

Meminjam buku di sini pun cukup mudah. Hanya modal ngobrol soal buku dan dunia literasi, kamu pasti mudah mendapatkan buku-buku yang kamu mau. Untuk menjadi anggota, kamu cukup mengisi formulir data anggota dan diberi kartu anggota berwarna hitam.

Saya lupa biaya pendaftarannya. Untuk meminjam, diberi waktu seminggu dengan tarif Rp 2.000-Rp 3.000 (mungkin tarifnya sekarang berubah).

Batu Api berdiri pada 1999. Sejak berdiri, perpustakaan ini menjadi daya tarik para mahasiswa yang menghuni Jatinangor, seperti Universitas Padjadjaran, Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Institut Koperasi Indonesia, dan Universitas Winaya Mukti?sekarang jadi Institut Teknologi Bandung. Anak-anak muda  dari Bandung, yang jaraknya sekira 20 kilometer dari sana, juga rela datang ke sini.

Mungkin, koleksi perpustakaan ini ada ribuan judul terdiri dari aneka tema, mulai dari sastra, sejarah, filsafat, politik, seni, budaya, agama, dan sebagainya. Itu belum termasuk kaset, film, majalah, dan kliping berita.

Bulan lalu saya terakhir ke sana. Saya mencari sumber untuk penulisan buku baru yang akan terbit beberapa bulan lagi. Tak disangka, ternyata Bang Anton juga menyimpan musik-musik lawas yang saya cari, bahan untuk buku saya itu, seperti lagu Miss Riboet, Miss Roekiah, Syech Albar, dan sebagainya. Mereka-mereka ini adalah musisi yang paling populer pada dekade 1930-an hingga 1940-an. Beberapa sumber teks saya dapatkan dari kliping-kliping artikel, yang sudah dibundel di salah satu sudut perpustakaan. Mungkin ada puluhan bundel di sana, yang membicarakan musik, film, dan teater.

Penulis-penulis jempolan pernah berkunjung ke perpustakaan ini. Mereka mengadakan diskusi yang diinisiasi Batu Api. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Remy Sylado (Japi Tambajong), dan Peter Carey.

Dedikasi Bang Anton mengantarkannya ke pameran buku terbesar di dunia, Frankfurt Book Fair pada 2015 lalu. Dalam sebuah wawancara di Koran Tempo, ia mengatakan diajak panitia karena dianggap pegiat literasi. Ia menjadi salah seorang dari 70 anggota kontingen Indonesia.

Sekarang, setiap minggu Batu Api mengadakan acara kecil-kecilan, seperti musik dan menonton film. Setiap hari selalu ada orang yang berkunjung ke sini. Entah itu hanya sekadar mengobrol, membaca buku, atau meminjam buku.

Bagi saya, Batu Api adalah harta karun tersembunyi di gersangnya Jatinangor. Perpustakaan ini merawat budaya literasi, di tengah gerusan hedonisme mahasiswa yang semakin tak terbendung.

Delapan belas tahun berdiri, Batu Api bukan saja memenuhi hasrat saya mencari sumber dan membaca buku. Batu Api juga secara tak langsung menjaga kewarasan dan nalar saya.


Fandy Hutari
Penulis dan peneliti sejarah. Berminat pada kajian sejarah film dan teater. Bermukim di Jakarta. Merawat blog www.fandyhutari.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara