17 Jan 2018 Bandung Mawardi Sosok

Ada banyak nama sastrawan yang (mungkin) tak lagi dikenal di hari ini karena satu dan lain hal. Salah satunya: HR Bandaharo.

PADA 1917, HR Bandaharo atau Banda Harahap dilahirkan di Medan, Sumatra Utara. Ia bertumbuh menjadi pujangga. Pada masa 1950-an, si pujangga bergabung dengan Lekra. Puisi-puisi digubah untuk menggugah dan mencipta kecamuk imajinasi bertalian kekuasaan. Puisi demi puisi disuguhkan ke pembaca, menebar pengaruh dan menentukan arus sastra berhaluan Lekra. Buku demi buku terbit, tanda gairah bersastra di jalan revolusi. Bandaharo memberi warisan buku berjudul Dari Daerah Kehadiran Lapar dan Kasih (1958), Dari Bumi Merah (1963), dan Dosa Apa (1983). Pada 2010, pembaca masih mendapatkan buku berjudul Aku Hadir di Hari Ini, terbitan Ultimus, Bandung.

Kini, nama Bandaharo mungkin terhapus di catatan sejarah sastra Indonesia. Para pujangga mutakhir (agak) sulit mengenali atau memiliki penghormatan atas laku kapujanggan Bandaharo pada masa lalu. Dulu, ia sempat masuk dalam daftar Pujangga Baru meski lekas berubah ideologi dan anutan estetika. Pengertian itu muncul di buku Bakri Siregar berjudul Sedjarah Sastera Indonesia Modern I (1964). Bakri Siregar pun menginformasikan bahwa Bandaharo saat masih di Medan telah menerbitkan Sarinah dan Aku (1939). Konon, Bandaharo adalah pujangga terkemuka di kubu Lekra pada masa 1950-an dan 1960-an. Anggapan tak mendapat penjelasan panjang di buku garapan Bakri Siregar. Bandaharo cuma disinggung tiga kali.

Di Bilik Literasi, Solo, ada koleksi buku Bandaharo berjudul Dari Daerah Kehadiran, Lapar dan Kasih (Jajasan Pembaruan, 1958). Buku itu sempat diinformasikan di buku leksikon susunan Pamusuk Eneste (1990). Buku mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957/1958. Di puisi berjudul “Tak Seorang Berniat Pulang”, Bandaharo bercerita:

Barisan menjongsong hari datang

kuwakili kini ini;

derita dan duka dari zamanku

kudukung dipunggung

 

Tak seorang berniat pulang

walau mati menanti.

Puisi-puisi mengandung guncangan dan tantangan. Bandaharo jarang melenakan pembaca dengan imajinasi-imajinasi asmara atau picisan, menjauh dari badai revolusi. Di puisi berjudul “Tekad Baru”, ia menulis:

Kita dilatih dengan tumit laras fasisme

dan bertemu dalam njala api revolusi

 

Kita bukan pelarian dari malam 3 abad

tapi kita meninggalkan kelam dengan kesadaran

menudju terang sinar tjemerlang

 

Mari kita tanjai diri sendiri

Aku mau apa?

Puisi-puisi terasa mengabarkan situasi politik pelik dan menggelegar masa 1950-an dan 1960-an.

Puluhan tahun berlalu dari puisi-puisi menggemakan revolusi, pembaca sastra mendapat suguhan buku berjudul Aku Hadir di Hari Ini (2010). Pada abad XXI, nama Bandaharo (terbukti) belum terhapus, masih mungkin ditampilkan ke pembaca baru agar berkenan menempuhi (lagi) jalan sejarah berisi sastra dan kekuasaan mengeras pada masa lalu. Buku tanpa pengantar dan ulasan. Pembaca baru pasti kesulitan mengenali si pujangga. Buku tampak pelit informasi, memilih mengutamakan puisi-puisi. Bandaharo masih ada meski biografi belum jua diakrabi pembaca baru tanpa pernah mengalami malapetaka 1965 atau keruntuhan rezim Orde Baru (1998).

Di halaman 179-180, data pujangga cuma pendek. Sekian hal adalah pengulangan di buku-buku terdahulu. Informasi melengkapi: sejak berusia 16 tahun, Bandaharo memilih menempuhi jalan sastra. Ia menggubah puisi-puisi dimuat di Pedoman Masjarakat, Zaman Baru, Zenith, dan Kebudajaan. Ada keterangan aneh: “Salah satu puisi Bandaharo sangat terkenal adalah ‘tak seorang berniat pulang, walau mati menanti’. Puisi ini menjadi sajak wajib pada lomba-lomba deklamasi di tahun enam puluhan.” Penulis data pujangga tak memberi kepastian ke pembaca mengenai judul puisi. Kalimat di kutipan itu berasal dari puisi, jangan dianggap judul puisi. Di buku Dari Daerah Kehadiran, Lapar dan Kasih, puisi itu dijuduli “Tak Seorang Berniat Pulang”.

Pada 1983, Bandaharo menggubah puisi mengenang berjudul “Terkadang di Kala-Kala Tak Terduga”. Puisi ditulis saat menua dan merasa sejarah masih mungkin dibawa ke masa Orde Baru dengan penguasa rajin memberi seribu perintah dan menghadiahi siksa bagi musuh-musuh politik. Bandaharo menulis:

Empat puluh tahun yang lalu kami bertemu

sama-sama jejaka sedang naik badan, resah dan gelisah

menghadapi masa pendudukan fasisme

yang tak memberi harapan masa depan, kecuali menyerah kalah.

Bandaharo mengalami lakon keras pada masa pendudukan Jepang, mengingat tokoh-tokoh melawan Jepang tapi tak semua tercatat di buku sejarah. Episode pendek tetap saja memoncerkan Soekarno-Hatta ketimbang nama-nama sulit teringat atau mati tanpa taburan bunga di kuburan tak bernama.

Sejarah cepat berlalu. Diri menghadapi penguasa dalam hukuman dan penghinaan selama puluhan tahun. Ingatan-ingatan masa lalu bertemu pengalaman hidup di naungan rezim Orde Baru. Bandaharo enggan diam atau mengubur sejarah di belakang rumah. Ia menggubah puisi berjudul “Di Malam Gelap yang Dingin”, bercerita diri di arus waktu:

Di malam gelap yang dingin

sisa-sisa kejantananku menggelepar

megap-megap laksana ikan terlempar

ke darat disentakkan pancing

 

musim dan tahun cepat melampau

tiada terasa tiada terduga menjadi tua

hanya mimpi yang tinggal tersisa

sekalipun mengabur tetap memukau

 

bagai potret tua yang buram

lama tersimpan beban warisan masa silam.

Pada saat menua, ia masih bergerak dengan kata-kata mencatat segala hal meski mutahil  selesai dalam puluhan sampai ratusan bait. Bandaharo tak ingin melupa diri dan Indonesia meski para pembaca sastra Indonesia perlahan tak mengenali si pujangga dan gagal mendapat cerita mengenai sastra dan revolusi masa lalu.  

Tahun-tahun terus berlalu. Pengetahuan publik tentang Bandaharo bertambah melalui terbitan majalah Tempo, 9-15 Oktober 2017. Di sisipan “Iqra” berjudul “Tiga Penyair Menguak Lekra”, pembaca mendapat imbuhan biografi dan tanggapan para teman ke Bandaharo. Putu Oka Sukanta selaku sahabat dan editor buku Aku Hadir di Hari Ini menjadi saksi kegetolan Bandaharo berpuisi meski hari semakin senja. Buku itu penghormatan bagi si pujangga setelah meninggal pada 1983. “Puisi-puisi Bandaharo itu sangat lugas. Dia punya estetika sendiri. Dia menggunakan metafora-metafora yang singkat sehingga orang tidak usah bermenung-menung dulu untuk memahami makna puisi-puisinya,” kata Putu Oka Sukanta.

Seabad berlalu, pembaca masih belum terang mengetahui biografi panjang dan mendapatkan buku-buku lama pernah dilarang rezim Orde Baru. Begitu.


Bandung Mawardi
Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara