Balai Pustaka memiliki peran penting dalam menyensor bacaan rakyat pada masa kolonial. Dengan kriteria ketat yang sudah ditetapkan, hanya naskah-naskah yang “aman” dalam pandangan pemerintah kolonial-lah yang bisa diterbitkan.

DI BAWAH PEMERINTAH kolonial Belanda, upaya untuk mendorong publikasi buku-buku yang pantas bagi masyarakat telah dimulai sejak tahun 1851. Hal ini sejalan dengan penerapan politik etis oleh Belanda—yang dipengaruhi oleh tulisan masyhur Multatuli, Max Havelaar. Van Deventer boleh jadi disebut sebagai Bapak Politik Etis, tetapi van Heutsz, Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1904-1909, adalah orang yang kemudian mengembangkan lebih jauh maksud dari model pendidikan dalam politik etis.

Bagi van Heutsz, pengajaran barulah berarti ketika anak didik memiliki buku untuk dibaca setelah meninggalkan sekolah. Demi kepentingan itu, dibentuklah suatu komite untuk meneliti hal-hal terkait bacaan yang tepat. Penyisiran karya oleh komite ini baru optimal ketika dibawahi oleh D. A. Rinkes dari Departemen Urusan Pribumi.

Rinkes menyadari bahwa ia perlu mengatur permintaan akan buku, yang dikaitkannya dengan daya beli dan kebiasaan membaca masyarakat yang masih rendah. Solusinya, ia berusaha mendirikan perpustakaan di setiap sekolah Kelas Kedua. Pada tahun 1914, tercatat telah ada 680 sekolah yang menyediakan perpustakaan sesuai dengan kepentingannya ini.

Buku-buku yang dipasok ke perpustakaan-perpustakaan tersebut umumnya adalah terbitan Balai Pustaka. Lembaga penerbitan yang semula dikenal sebagai Commissie voor de Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat), didirikan pada tahun 1908. Demi menyediakan karya yang cukup untuk kepentingan tersebut, Balai Pustaka mengupayakan adanya penerjemah dan penulis yang mampu mengerjakan karya sesuai dengan preferensi Balai Pustaka.

Menurut Jedamski, penerjemahan yang dikehendaki oleh komisi Balai Pustaka harus sesuai dengan: (1) minat ilmu atau hobi anggota Commisie; (2) pandangan mereka yang Eropa-sentris tentang penduduk pribumi dan kebutuhan mereka.1

Adapun untuk kriteria bahasa, mereka mengehendaki penulis atau penerjemah untuk: (1) menyusun kalimat yang sangat pendek; (2) menghindari bentuk berimbuhan; dan (3) mengutamakan kosa kata yang lazim dipakai tanpa memandang baku atau tidaknya. Bersamaan dengan aturan-aturan itu, tata bahasa diharuskan mengikuti patokan ejaan van Ophuysen.

Balai Pustaka baru memiliki mesin cetak sendiri pada 1921. Dimulailah penerbitan Pandji Pustaka yang terbit tiap pekan terhitung sejak tahun 1923. Selain informasi dari pemerintah, dimuat pula cerita-cerita pendek yang telah menjalani pemilahan dari komisi.

Demi kepentingan “melawan secara halus” para penulis pergerakan yang semakin getol menyerang pemerintahannya, pihak kolonial Belanda juga merekrut para penulis yang sama-sama berasal dari kaum pergerakan untuk menulis bagi mereka, tentunya dengan muatan yang telah dinyatakan “aman”. Dari sana terbitlah misalnya Azab dan Sengsara-nya Merari Siregar, Sitti Nurbaya-nya Marah Rusli, dan Salah Asuhan-nya Abdul Muis.

Perekrutan itu kemudian memberikan pengaruh pula pada periodisasi Sastra Indonesia. Saat perekrutan itu mencapai puncaknya, lahirlah suatu angkatan baru dalam kesusastraan Indonesia yang menyebut diri sebagai angkatan Poedjangga Baroe, merujuk pada majalah terbitan mereka, Poedjangga Baroe.

Kekhasan Karya-karya Sastra Hindia Belanda

Dalam bukunya, Sastra Hindia Belanda dan Kita, Subagio Sastrowardoyo menelaah kesusastraan dalam bahasa Belanda yang berpokok pada kehidupan di negeri jajahan Hindia Belanda, yang ditulis oleh orang-orang Belanda terutama oleh orang-orang Indo, baik yang keturunan Belanda maupun keturunan bangsa Eropa lainnya. Dari hasil kesusastraan penulis-penulis Belanda itulah, menurut Subagio, sikap dan pandangan serta sifat hubungan berbagai golongan dan lapisan masyarakat yang berlaku pada masa kolonial Belanda dapat diketahui dengan lebih baik.

Selain itu, Subagio juga memasukkan beberapa nama penulis Indonesia, seperti Soewarsih Djojopoespito dan Noto Soeroto dalam jajaran penulis yang menerima pengaruh dari karya-karya sastra Hindia Belanda. Untuk itu, ia mengatakan: “Yang penting juga dipersoalkan di sini adalah kemungkinan bahwa Indische Belletrie atau sastra Hindia Belanda ini memberikan model bagi roman-roman Indonesia pada tahap permulaannya."2

Selain keterpengaruhan yang diterima oleh penulis Indonesia dari penulis Belanda, Subagio juga menjelaskan bagaimana keterpengaruhan itu diterima juga oleh penulis Belanda dari kesusastraan yang berkembang di Nusantara pada saat itu. Hal itu diterangkannya sebagai berikut:

Tidak dapat dipastikan apakah Multatuli telah terpengaruh oleh cerita-cerita berbingkai yang dikenal di Indonesia. Sejak lama Hikayat Seribu Satu Malam telah menjadi milik sastra rakyat di Indonesia. Demikian juga Pancatantra dikenal dalam sastra Melayu sebagai Hikayat Panja Tanderan atau Kalilah dan Damina. […] Sekalipun tidak pasti, tidak sama sekali mustahil, bahwa Multatuli mengenal cerita-cerita berbingkai di Indonesia, dan dengan sengaja direncanakan atau tidak, ia sampai kepada bentuk bercerita itu.3

Ajaran moral atau protes sosial melalui bentuk kisah seperti Krapoekol dan Max Havelaar adalah penerus dari aliran sastra yang berpengaruh di negeri Belanda pada abad ke-18. Tokoh sastrawan yang penting pada masa itu di antaranya adalah Justus van Effen yang mengeluarkan majalah Hollandsche Spectator (Pengamat Belanda) terbit tahun 1731-1735. Penerbit berkala ini juga menghasilkan cerita-cerita pendek yang meneliti kehidupan sehari-hari penduduk Hindia Belanda sambil menyarankan keyakinan serta gagasan pengarangnya mengenai caranya memperbaiki keadaan masyarakat dan kehidupan rumah tangga.4

Dari sini dapat dilihat bahwa preferensi Komisi Bacaan Rakyat (Balai Pustaka) mendapatkan pengaruh signifikan dari kekhasan sastra Belanda ini, yakni dengan penekanan pada aspek ajaran moral atau protes sosial. Tentu saja tolok ukur aspek ajaran moral atau protes sosial itu disesuaikan dengan mereka yang berdiri di belakang meja Balai Pustaka itu sendiri. Atau dalam hal ini terutama: pemerintah kolonial.  

 

Catatan Kaki:

1. Doris Jedamski. “Balai Pustaka: A Colonial Wolf in Sheep’s Clothing” dalam Archipel 1992 Vol. 44, hlm. 23-46.

2. Subagio Sastrowardoyo. (1983). Sastra Hindia Belanda dan Kita, hlm. 25. Jakarta: Balai Pustaka. 

3. Ibid., hlm. 60.

4. Huygens, G. W.. De Nederlandse auteur en zijn publiek (Pengarang Belanda dengan Publiknya). G. A. van Oorschot, Amsterdam 1966, hh. 29-38. Aliran Sastra Belanda itu dibawah pengaruh pengarang-pengarang Inggeris di sekitar majalah The Spectator (1711-1712) dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita, hlm. 66.


Kredit Gambar : wikimedia
Dewi Kharisma Michellia
Dewi Kharisma Michellia adalah penulis kelahiran Denpasar. Novelnya "Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya" menjadi pemenang unggulan sayembara novel DKJ 2012 dan masuk lima besar nominasi KLA 2013.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara