Pembajakan buku kian lama kian kreatif. Dengan kualitas kertas dan kover yang makin bagus, dengan jalur penjualan luring.

BEBERAPA waktu lalu saat ke Eksplora (digital printing) hendak membuat dumi buku, tanpa sengaja saya melihat hasil printing kover beberapa judul buku dalam jumlah cukup banyak milik salah satu penerbit  Jogja. Namun di nota yang tertera di atasnya, nama pengorder agak ‘asing’. Maka saya iseng menghubungi penerbit tersebut. Ternyata mereka memang tidak order apapun di Eksplora. "Kan kami punya mesin sendiri," tambahnya.

Ketika coba saya foto dan lempar pembahasan di salah satu grup penerbit, salah seorang di grup langsung mafhum bahwa nama pengorder adalah satu dari sekian yang sering melakukan pembajakan. Benarlah dugaan sedari awal.

Beberapa hari kemudian, Widya (penerjemah) memperoleh gambar buku dari temannya yang bekerja di kantor pos. Sebenarnya tidak ada kaitannya, namun Widya menyadari sesuatu yang ganjil. Maka ia mem-forward foto buku tersebut. Itu adalah buku milik salah satu penerbit alternatif asal Tangerang. Sekilas terlihat kesalahan tipo di kover belakang, yang apabila ditelisik lebih jauh, itu bukan saja fatal tapi ngawur secara keterangan. Seharusnya tertulis "diterjemahkan oleh R" menjadi "ditebitkan oleh  R". Nama R di sini ditulis sebagai keterangan penerbit (tunggal), bukan penerjemah. Ternyata dibajak.

Belum lama terjadi, Abdul Muthalib (bukan nama sebenarnya) terang-terangan ditawari buku bajakan yang justru belum lama diterbitkan olehnya sendiri. “Buku bagus ini mas, langka,” kata penjualnya. Abdul jelas dongkol, tetapi memilih tertawa. Sebab penjualnya memang tak tahu kalau Abdul adalah penerbit aslinya. Bagaimana tidak langka, jika Abdul memang hanya menerbitkan sebanyak 100 eks untuk judul tersebut.

Tiga di atas adalah contoh dari sekian problem pembajakan secara fisik. Ini tentu menarik, sebab sekarang pembajak tidak sekadar menggandakan dengan cara mengopi buku. Ada upaya yang lebih serius. Semisal memastikan kualitasnya mendekati garis miring sama dengan aslinya.

Pembajak cukup paham, bahwa model yang dilakukan penerbit indie adalah sesuatu yang bisa diikuti dan mudah ditiru. Dengan jumlah yang kecil (tapi laku), memungkinkan mereka untuk memasuki celah tersebut. Tidak dapat dipungkiri, berkembangnya digital printing di Jogja dengan kualitas mesin yang semakin baik, mempermudah para pembajak bekerja.

Jika dulu, bajakan bisa terlihat dari kover yang agak buram misalnya, sekarang tidak demikian. Mereka benar-benar memperhatikan hal tersebut. Kover di-scan atau difoto untuk memperoleh resolusi yang lebih tajam. Sisanya tinggal diberi sentuhan laminasi.

Begitupun isinya. Buku bajakan dulu identik dengan kertas-kertas jenis koran (buram). Sekarang, kualitas kertas pun diperhatikan. Sama-sama pakai bookpaper atau HVS.

Secara biaya produksi, untuk memperoleh kualitas sepadan, yang dikeluarkan hampir sama dengan penerbit. Namun karena mereka tidak menanggung beban pra-produksi, itu memungkinkan keuntungan mereka tetap besar walau harga jual lebih murah. Konsumen yang disasar pun utamanya adalah pembeli luring. Setidaknya jejak pembajak, tidak mudah diketahui dibanding jika dipasarkan terbuka secara daring.

Pada titik ini, kita paham bahwa menghadapi pembajakan tidak bisa dilakukan begitu saja. Musti ada cara-cara kreatif yang justru akhirnya kelak menjadi ciri khas penerbit alternatif itu sendiri. Melawan bisa dilakukan dengan mengedukasi konsumen/pembaca terhadap identitas produk-produk penerbit. Sehingga minimal dalam segmen paling kecil, mereka sendiri akan bisa membedakan bajakan atau bukan sekaligus memutuskan membelinya atau tidak. Sesuatu yang sangat mungkin dilakukan di era media sosial saat ini. Sebab penerbit, bisa langsung berinteraksi.

Penerbit Komunitas Bambu misalnya, biasanya membuat ukuran buku dalam format besar (kisaran 15,5 x 24 cm). Kemudian memakai bahan kover berpori-pori atau seperti kulit jeruk. Ini jelas menyulitkan pembajak. Karena beberapa bajakan yang beredar, dalam format yang lebih kecil secara ukuran (14 x 21 cm) dan memakai kertas ivory biasa.

Tan Kinira, salah satu penerbit alternatif di Jogja, memberi sentuhan handmade pada beberapa buku terbitannya. Semisal membubuhi sentuhan lukisan/gambar pada isi buku, atau menggunakan teknik cukil secara langsung pada kover bukunya. Sesuatu yang lagi-lagi sulit untuk ditiru.

Pola-pola tersebut juga ditiru dan dikembangkan penerbit OAK. Memakai bahan dasar tertentu ketika produksi dan memberi gimmick. Untuk isi, memakai kertas imperial 72. Terasa lebih tebal. Kalaupun itu masih memungkinkan dikloning, setidaknya ada satu gimmick yang biasa dilakukan: memakai artpaper di lembar depan dan diberi nomor seri untuk setiap buku.

Jika dari tiga contoh di atas, pembajaknya masih tetap berkeras melakukan hal yang sama, maka seharusnya Anda mencarinya. Sampai ketemu. Mengajaknya bergabung atau membuat penerbitan baru. Sebab Anda sedang dihadapkan dengan ‘pekerja sangat keras’ dan ‘super kreatif’.


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara