Jurnal Problem Filsafat adalah jurnal yang diterbitkan Komunitas Marx. Dikemudian hari izin diskusi dicabut dan dana penerbitan jurnal dari kampus dihentikan, alasannya: isu bahwa mereka mempropagandakan Marxisme-Leninisme.

DALAM SUASANA KEPAILITAN Komunitas AksiSepihak dan amanat penderitaan rakyat, saya, Berto Tukan dan Anom Astika mendirikan Komunitas Marx. Mengapa bisa begitu? Bagaimana mungkin? Ngapain? Begini ceritanya.

Bagaimana Komunitas Marx Didirikan

Telah terjadi deadlock dalam rapat Komunitas Hegel sore itu. Telah terjadi deadlock.

Inilah kelompok diskusi tertua di STF Driyarkara yang sejarahnya merentang jauh ke belakang, barangkali sejak Era Mitis (Mythical Age) STF itu sendiri. Ketika pertama kali saya ikut diskusi kelompok ini, saya baru anak semester satu, belum tahu apa-apa soal dunia. Di situ, saya menyaksikan hal-hal ganjil yang membentuk kesan saya tentang filsafat untuk selama-lamanya. Saya berani jamin, student anyaran yang mengikuti diskusi mereka akan merasakan untuk pertama kalinya—kecuali dia bule—atmosfer disputasi filsafat selaiknya di Eropah sana. Orang-orang menyitir frasa-frasa arcanum guratan tangan Sang Perenung dari Königsberg dalam bahasa aslinya. Orang-orang fasih membahas kebiasaan Hegel di malam hari.

Dalam suatu diskusi, umpamanya, seorang senior pemurung yang dijuluki “Sang Pelihat dari Messkirch” (seperti judul Bab dalam buku Fransisco Budi Hardiman tentang Heidegger) tiba-tiba memotong uraian pemakalah yang sedang menerangkan konsep Hegel tentang cinta. Pemakalah di depan kelas kontan tercekat. “Sang Pelihat angkat bicara! Sang Pelihat angkat bicara!” orang-orang menyeru-nyeru dalam batin. Ia menyitir—bukan mengutip, lebih agung daripada mengutip—sepenggal ungkapan Hegel dalam kitab Differenz des Fichteschen und Schellingschen Systems der Philosophie dan kembali terdiam. Orang-orang lalu sibuk menafsirkannya, berdebat hingga malam jadi larut dan satpam menunggu dengan segepok kunci di pintu kelas.

Tapi itu tahun 2005. Ketika terjadi deadlock dalam rapat Komunitas Hegel seperti saya ceritakan di muka, kita berada di tahun 2009 dan para pinisepuh Komunitas Hegel sudah lama lulus. Tatkala itu, Komunitas baru saja menyelesaikan pendarasan satu tahun terhadap keseluruhan traktat Science of Logic dan berunding hendak membaca teks apa satu tahun ke depan. Pendapat terbelah menjadi dua kubu: yang satu ingin membaca Critique of Pure Reason karya Immanuel Kant, sedang yang lain—termasuk saya, Berto dan Anom—ingin agar kita mengkaji Capital Jilid I karya Marx.

Lantas terjadilah skisma, perpecahan, dalam Komunitas Hegel. Sebagian meneruskan Komunitas Hegel dengan membaca Kant, tapi bubar dalam hitungan bulan. Sebagian lain membentuk komunitas baru. Seperti Bruno Bauer, Edgar Bauer dan Franz Beckenbauer menyempal dari Hegelianisme konservatif dan membentuk arus baru Hegelian Kiri, demikian pula Anom Astika, Berto Tukan dan saya menyempal dari Komunitas Hegel untuk membikin Komunitas Marx.

Apakah yang Sebetulnya Dikerjakan oleh Komunitas Marx

Komunitas Marx resmi berdiri dengan Orasi Pembukaan Serial Diskusi Membaca Kapital dengan tajuk spesial “Berderapnya Anak Zaman Menyongsong Rebahnya Kesadaran Inlander” yang disampaikan Anom Astika di hadapan sekitar lima belasan mahasiswa dalam Ruang Audio-Visual STF Driyarkara. Ini terjadi sekitar bulan November 2009. Pada bulan itu juga diskusi membedah Kapital Jilid I Bab I dimulai dan produksi jurnal Problem Filsafat—dengan subjudul “Buletin Komunitas Marx”—diluncurkan untuk pertama kali. Rilisan fisik jurnal itu berukuran A5, dengan kertas HVS pada isi maupun sampul, tebal 48 halaman serta difotokopi sejumlah 50-an eksemplar dan dibagikan gratis di kampus. Kami, dengan kata lain, memproduksi sebuah zine.

Jurnal Problem Filsafat diterbitkan oleh Komunitas Marx secara rutin, sekitar tiga bulan sekali. Isinya adalah makalah diskusi membedah Kapital, resensi film dan buku, artikel bebas terkait Marxisme, dan sketsa ilustrasi karya Yovantra Arief. Bersamaan dengan produksi jurnal, diskusi jalan terus di ruang diskusi kecil dengan kepulan asap rokok yang menyerupai miasma. Di ruangan itu, dengan ukuran kira-kira 5 x 2,5 meter, hanya terdapat satu meja panjang dan deretan bangku. Di situ, kami berdiskusi sekitar dua minggu sekali. Selain mahasiswa STF sendiri, sejumlah kawan dari jauh pun berdatangan. Ada dari organisasi-organisasi Kiri seperti PRP, PRM, ormas miskin kota seperti SRMI dan beberapa aktivis LSM. Sekali waktu hadir juga Muhammad al-Fayyadl. Beberapa kali datanglah Hizkia Yosie Polimpung (Max Stirner asal Surabaya). Di sana, diskusi strategi-taktik gerakan Kiri bercampur-aduk dengan diskusi metafisika pasca-Heidegger, diskusi sejarah gerakan Kiri di Indonesia susul-menyusul dengan diskusi soal dadaisme dan dekadensi sastra pasca-Haruki Murakami.

Pada bulan Desember 2010, menandai nomor ke-7 jurnal Problem Filsafat, tata-letak jurnal pun berubah. Pada nomor-nomor awal, tata-letak jurnal banyak saya kerjakan sendiri dengan Adobe InDesign, berdasarkan format awal yang disusun Berto. Saya menata-letaknya lalu mencetaknya di fotokopian Pak Haji dekat Masjid Al-Mubarok, Rawasari. Berkat dana dari kampus, dengan Berto sebagai ketua Senat mahasiswa STF, kami bisa fotokopi sampai dengan 200 eksemplar. Kami bagikan gratis ke para peserta dan menitipkan sebagian pada mereka untuk didistribusikan lebih luas. Kami juga taruh setiap nomornya di perpustakaan STF Driyarkara. Kemudian muncul gagasan untuk mengubah ukurannya menjadi A4, dengan jumlah halaman yang kurang-lebih sama. Ini dimulai sejak nomor ke-7. Berto-lah yang kini aktif menata-letak setiap edisinya.

Dengan perwajahan baru ini, jurnal Problem Filsafat memuat rubrik-rubrik anyar seperti rubrik cerpen, puisi dan arsip lawas. Format ini bertahan terus sampai dengan nomor 11 yang keluar pada bulan Desember 2011.

Salah satu ciri khas dari jurnal Problem Filsafat sejak nomor 7, yakni versi perwajahan baru, terletak juga pada karakter yang terbersit pada editorialnya. Jika sebelumnya rubrik editorial ditulis demi sekadar menyampaikan informasi soal isi jurnal, sejak nomor 7 rubrik editorial digawangi langsung oleh Anom Astika yang menulisnya dengan gaya épistolaire—“Surat Kepada Kawan”. Simak saja kalimat-kalimat awal editorial nomor 7 berikut:

“Jujur ku katakan kepadamu kawan, bahwa semua yang tertulis di sini adalah stanza tentang dirimu sendiri. Sungguh, aku tak mengada-ada. Persoalan-persoalan yang kau ceritakan padaku penuh kesedihan. Tetapi sudah ku katakan berulangkali: Tak Ku Pedulikan Semua itu. Apa sebabnya? Kau sudah bosan dengan perbedaan pendapat, dan kau malas berbeda pemikiran. Walau segala kenyataan yang kau hadapi berlawanan dengan suara hatimu, ternyata kau lebih memilih untuk belajar dengan menjadi budak. Yaa... budak intelek tentunya. Itu yang paling menguntungkan dirimu. Paling tidak kau bisa bersembunyi di balik kata kata lihai dan logika logika yang penuh selidik dan misteri. Pikirmu, dirimu tak tertembus oleh sangkur kapitalisme. Nyatanya, dirimu perlu meluangkan waktu untuk merefleksikan perutmu yang lapar ke berbagai tempat demi sesuap nasi.”

Waktu itu, Anom berkata bahwa dengan begitu ia mau mengemulasi gaya tulis Circular Letter yang ditujukan Marx kepada para koleganya seperti August Bebel, Wilhelm Liebknecht, Wilhelm Bracke dan kawan-kawan. Kita bisa mengendus bentuk naratif arus-kesadaran (stream of consciousness) yang penuh subtext di sana. Bandingkan dengan kalimat-kalimat awal editorial nomor 8 berikut:

“Kawan,

Tak cukup satu dua hari untuk menjelaskan ini semua kepadamu. Pun tak habis kata untuk menata ruang-ruang dari lingkar gerak titi nada. Semuanya bisa tampak serupa guruh-gemuruh genderang perang saat bumi tersayat-sayat, kelaparan dan ditelanjangi bersama dengan banjir darah manusia, tulis Mayakovski. Hingga orkestra Otto Klemperer pun mampu membunyikan dengan baik timbre timpani, tuba dan kontrabass untuk suara dentum ledakan bom dalam Symphony Leningrad-nya Shostakovich. Namun semuanya juga tampak seindah tarian seorang gadis yang lembut, yang tiap lekuk geraknya menoreh tanda lepas dari masa lalu yang pahit, dari kerumunan yang mengungkungnya, tukas Yeats. Semoga saja, derai nada berbirama 8/16 dari Campanella-nya Franz Liszt yang dimainkan oleh Evgeny Kissin mampu menemani tiap gerak sang gadis. Alangkah baiknya jika kita mulai membaca, mendengarkan, membicarakan dan menuliskan semuanya sebagai yang menciptakan peristiwa, dan bukan sebagai pelaku politik kelas pariah.”

Lompatan-lompatan yang menggugah! Dari imaji perang, ke musik, lalu sekelebat sosok gadis, dan akhirnya ke pelaku politik. Seperti halnya lompatan mengejutkan dari suasana curhat ke stetmen politik pada editorial nomor 7. Para pembaca menyukai retorik semacam ini. Terbukti ada seorang pemuda bernama Fransisco Bahtiar Mumen dari Halmahera yang sampai hari ini terkesima pada musik Klasik dan Marxisme berkat editoral-editorial Anom Astika di Problem Filsafat.

Bagaimana Komunitas Marx Bertransformasi Menjadi Kelompok AGITPROP dan Bubar Tak Berapa Lama Setelah Pesta Peluncurannya

Pada akhirnya, kami kembali terbentur masalah klasik sejak zaman Yunani. Kami kekurangan dana.

Ceritanya dimulai sejak jurnal Problem Filsafat tak lagi didanai kampus dan aktivitas diskusi Komunitas Marx dicabut perizinannya oleh kampus. Sebabnya, sudah bisa diduga, karena isu bahwa kami mempropagandakan Marxisme-Leninisme. Menghadapi kebuntuan ini, kami memutuskan untuk mendanai sendiri penerbitan jurnal Problem Filsafat dan menyelenggarkaan diskusi Komunitas Marx di luar kampus. Untuk menggalang pembaca yang lebih luas, kami pun menyelenggarakan peluncuran Edisi Kolektor jurnal Problem Filsafat yang mencakup seluruh nomor jurnal tersebut sejak terbit pertama kali tahun 2009 sampai dengan nomor terakhir tahun 2011. Kegiatan ini kami selenggarakan secara patungan di rumah almarhum sejarawan Onghokham.

Edisi Kolektor berukuran A4 dengan sampul hardcover dan tebal 200-an halaman itu kami cetak terbatas dan ludes terjual pada malam peluncurannya. Pada malam 20 Agustus 2011 itu, datanglah hampir semua peserta diskusi Komunitas Marx sejak 2009 dan sejumlah kawan lain. Kami menyatakan di muka publik bahwa jurnal Problem Filsafat dengan subjudul “Buletin Komunitas Marx” akan berubah dengan subjudul “Jurnal AGITPROP” dan Komunitas Marx akan bertransformasi menjadi Kelompok AGITPROP, singkatan alay dari “kAjian epistemoloGI poliTik dan PROduksi Pengetahuan”. Malam itu, Anom Astika tampil menyampaikan pidato berjudul “Kritik sebagai Roda Penggerak Kesadaran Politik: Sambutan Setengah Virtual Setengah Verbal untuk Peluncuran Jurnal Problem Filsafat”. Rekaman pidatonya kemudian saya sunting dengan Cool Edit, dengan menambahkan latar musik dan gambar-gambar, lalu saya unggah ke youtube.

https://www.youtube.com/watch?v=KGLqJRPrARY

Pidato Anom Astika pada peluncuran Kelompok AGITPROP

Tapi siapa bisa nyana bahwa malam deklarasi Kelompok AGITPROP itu adalah juga malam terakhirnya. Pidato itu adalah communiqué terakhir Komunitas Marx dan Komunitas AGITPROP dan komunitas apapun yang kami rancang sesudahnya. Selepas malam itu, kami sempat menyusun rancangan bagi jurnal Problem Filsafat nomor 13. Sampai bulan Maret 2012 sejumlah artikel sempat terkumpul, tapi jumlahnya masih kurang. Diskusi yang dipindahkan dari kampus ke rumah Onghokham pun berjalan kurang lancar. Komunitas Marx sudah selesai. Kami mencoba merencanakan sejumlah konsep jurnal baru dengan nama-nama aneh mulai dari Jurnal Copet sampai Jurnal Puting. Begitu banyak ToR, begitu banyak pertemuan-pertemuan perdana, tapi tak ada lagi yang bisa berkelanjutan seperti Komunitas Marx dan jurnal Problem Filsafat-nya.

Kurang-lebih pada masa itulah Coen Husain Pontoh menawari saya untuk terlibat dalam Indoprogress. Saya mengiyakan, demikian pula Berto beberapa bulan kemudian, dan akhirnya juga Anom.


Martin Suryajaya
Penulis filsafat. Lahir di Semarang dan kini tinggal di Jakarta
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara