Tak banyak yang tahu Martin Suryajaya pernah mendirikan penerbit independen bersama kawan-kawannya dengan nama Komunitas Aksisepihak. Satu-satunya buku yang pernah diterbitkannya adalah "Imanensi dan Transendensi".

DULU SEKALI, SEBELUM saya menerbitkan naskah-naskah buku saya di Resist Book, jauh sebelum saya menerbitkan novel di penerbit Banana dan menerbitkan Sejarah Estetika di penerbit Gang Kabel, saya pernah bersama dua kawan mendirikan sebuah usaha penerbitan mandiri. Namanya Komunitas AksiSepihak.

Bagaimana Komunitas AksiSepihak Digagas

Waktu itu, kalau tidak salah, saya masih mahasiswa semester enam di STF Driyarkara. Komunitas AksiSepihak saya gagas bersama Berto Tukan dan Togap sekitar pertengahan atau akhir tahun 2008. Saya sendiri sudah lupa bagaimana persisnya kami memutuskan mendirikan penerbitan. Sekurang-kurangnya ada empat versi yang bisa saya bayangkan berdasarkan ingatan saya yang payah.

Salah satu kemungkinan ceritanya begini. Latarnya siang hari yang agak gerah di warung belakang STF Driyarkara, di bawah naungan pohon yang sedang tidak rindang akibat terserang penyakit rontok. Dari ransel bergambar SpongeBob, saya mengeluarkan sebuah manuskrip seratusan halaman ukuran A4 yang diketik spasi satu berjudul “Imanensi dan Transendensi”. Berto mengangguk perlahan. Togap sedang menelpon tantenya. Maka kami pun sepakat menerbitkan Imanensi dan Transendensi.

Kemungkinan kedua agak berbeda. Pada suatu malam, mungkin di bulan September, saya main ke kosan Muhammad Sholeh, karib saya yang kini lenyap ditelan filsafat. Seperti biasa, kami ngobrol soal Heidegger atau Deleuze atau apalah. Tiba-tiba datanglah Idham dan Rosyid (yang kini disebut “Gus Roy”) membawa kresek hitam.

“Makan, Mart,” ajak Sholeh.

Ternyata mereka tadi diutus Sholeh membeli dua pecel lele, empat bungkus nasi dan beberapa potong tahu-tempe. Kami pun makan bersama.

“To, sini To, ada makanan,” telpon Rosyid.

Datanglah Berto. Tuntas makan, saya bilang kalau saya punya naskah yang siap terbit tapi tak tahu mesti diterbitkan di mana. Maka ide untuk membikin penerbitan sendiri untuk naskah itu pun mengudara.

Kemungkinan ketiga, yang sama mungkinnya dengan kemungkinan kedua dan pertama, kira-kira berjalan seperti ini. Di sebuah pagi yang kering dan terang, setelah kelas Alam Pikiran Indonesia, saya duduk di gazebo dekat deretan ruang kelas S1 bersama Berto, Sholeh dan Anom Astika.

Dari kejauhan kami melihat Ngatiyo si tukang kebun memasang spanduk sambil ngomel-ngomel. Spanduk itu mengumumkan akan digelarnya sebuah bedah buku tentang fungsi iman dalam masyarakat modern. Lalu saya bilang ke Berto: “Bikin penerbit yuk, To.” Maka kami pun membuat penerbit sendiri.

Kemungkinan keempat sama seperti kemungkinan pertama, tapi dengan sedikit variasi. Alih-alih ransel bergambar SpongeBob, saya membawa tas kanvas butut, dan alih-alih siang yang gerah, peristiwa itu terjadi di suatu sore yang gerimis. Berto tidak mengangguk perlahan. Togap tidak sedang menelpon tantenya. Saya tidak membawa manuskrip Imanensi dan Transendensi. Tapi, entah kenapa, kami sepakat membuat penerbitan.

Saya lupa mana versi cerita yang benar, boleh jadi keempatnya salah semua. Tapi kurang-lebih seperti itulah kami mengawali usaha penerbitan indie. Berto mengurus tata-letak buku dan urusan cetak-mencetak. Togap mengurus tata usaha. Saya mengetik makalah-makalah untuk keperluan diskusi keliling, menghubungi beberapa reseller dan membantu mereka berdua.

Bagaimana Komunitas AksiSepihak Mendeklarasikan Diri

“Susyahh,” kata Togap ketika mendengar nama “Aksi Sepihak” saya usulkan sebagai nama penerbit kami dalam sebuah rapat klandestin di kamar kosan saya. “Nanti nggak profit,” sambungnya.

Tapi saya dan Berto berhasil meyakinkannya, setelah bicara panjang-lebar tentang ontologi fundamental, Revolusi 1848, kritik Marx atas filsafat hukum Hegel dan tentang bagaimana Deleuze bunuh-diri. Saya sendiri sebetulnya tidak tahu apa yang membuatnya terbujuk.

Malam itu saya mengetik sebuah pernyataan pikiran bersama. Keesokan harinya, dokumen berjudul Manifesto AksiSepihak itu saya berikan ke Anom untuk dia komentari. Sebagai penulis Manifesto PRD, barangkali dia punya ide-ide bagus soal pernyataan sikap penerbit independen ini.

Di warung belakang STF, setelah sepiring indomie goreng, ia mulai mencorat-coret beberapa kalimat serta menambahkan kuncian-kuncian retoris dan visi-visi mendalam pada teks fondasional Komunitas AksiSepihak itu. Setelah menekuni teks itu dengan khusyuk, setelah separuh bungkus Gudang Garam Filter, Anom menyerahkan dokumen itu pada saya. Segera saya panggil Berto dan Togap untuk membacanya bersama. Berikut nukilan dari apa yang kami baca sore hari itu.

 

Manifesto AksiSepihak

          Dunia penerbitan filsafat di Indonesia sedang berkubang dalam kegelapan. Kaitan erat antara penerbitan karya-karya filsafat dan pendidikan cenderung direduksi pada perkara reparasi dan preservasi hidup, yakni dengan pengutamaan buku-buku pengantar filsafat yang diandaikan telah menjawab persoalan hidup sehari-hari. Dalam konstelasi ini, filsafat ditempatkan sebagai basis untuk kehidupan dengan jiwa yang ceria dan puas, sebagaimana penyusun kalender astrologi dan buku kiat sukses praktis. Konsekuensinya, muncul anggapan bahwa filsafat belum perlu dipelajari sejauh tidak berperan dalam rutin kehidupan.

          Sejatinya, penerbitan selalu berkaitan dengan pendidikan dan bukan akumulasi riba. Namun beranda pendidikan filsafat pun kini sedang disusupi akumulasi modal. Filsafat tidak lagi diutamakan sebagai pemikiran tentang sesuatu yang serius dan tidak juga sebagai destruksi segala yang baku dalam sejarah filsafat, tetapi justru sebagai penenteraman kegelisahan kaum pengusaha maupun elit politik yang tak nyaman hidup bersama dengan guncang-guncang kehidupan sosial, namun memuja-muja demokrasi. Akibatnya, idealisme penerbitan dan pendidikan dipangkas habis oleh gerusan modal yang determinatif: selalu dan selalu berkompromi tanpa ampun dengan pasar. Yang tersisa hanyalah reproduksi karya-karya filsafat yang dipopulerkan sedemikian rupa, hingga tiba ke buku-buku motivasi, demokrasi dan pluralisme. Dalam atmosfer ini, kualitas dan keseriusan sebuah karya diposisikan jauh di bawah faktor reseptivitas pasar. Hasilnya: subordinasi dan moderasi atas filsafat dan ilmu humaniora lain dalam koridor perayaan kemajemukan modal asing di dalam negeri. Perlawanan atas kapitalisasi ilmu pengetahuan ini hanya dapat dilancarkan, jika pertama-tama kita menempa kembali aliansi lama yang telah diperjuangkan sejak era Kebangkitan Nasional dengan figur seperti Mas Marco Kartodikromo, yakni merajut kaitan erat antara penerbitan dan pendidikan.

          AKSI SEPIHAK niscaya karenanya! “Aksi” merujuk pada dimensi praksis dari kerja teoretik, pada laku dari pemikiran itu sendiri, sehingga berpikir adalah menegaskan posisi teoretik dan menuntaskannya dalam sebuah konstruksi teori yang konsisten. Dalam dimensi “aksi” tersebut, kami sebagai penerbit membuka ruang bagi polemik yang dewasa ini kian dianggap sepi dan tak penting lagi. Situasi keilmuan yang maju hanya dapat diwujudkan jika kita sendiri berani mengartikulasikan posisi pemikiran yang jelas dan independen. Sementara “sepihak” mengacu pada dimensi singular dari pemikiran—singularitas yang tak terreduksi pada opini (doxa) banyak orang dan kemoderatan yang suam-suam kuku. Dalam dimensi “sepihak”, penerbit kami berupaya menyemangati para intelektual untuk mengambil jalur yang soliter dalam laku pemikirannya (baca: anti-pasar wacana) dan berani berpolemik dengan berpijak pada singularitasnya yang sepi untuk kemudian menempa kolektivitas yang didasarkan pada persaudaraan konseptual dan gagasan, bukannya solidaritas kepentingan ekonomi. Singkatnya, AKSI SEPIHAK adalah gugatan sepenuhnya terhadap moderasi, negosiasi— keduanya alibi bagi kegamangan borjuis!—dan perjuangan untuk mengkonstruksi medan perjuangan teoritik bagi semua pemikiran yang mau terlibat seraya mengklaim kembali kepemilikan filsafat untuk kolektivitas rakyat sejauh filsafat bukanlah properti dari mereka yang merasionalisasi filsafat untuk kepentingan teologi, kekuasaan dan pasar.

          Di sebuah zaman ketika pekik perjuangan, polemik gagasan dan ide-ide besar dibekukan atas nama trauma masa lalu (yang tak pernah diklarifikasi), moderasi pasar (yang diterima dengan puja-puji sebagai demokrasi) dan keelokan estetis (yang memandulkan keberanian untuk berkonfrontasi), semua orang yang sungguh-sungguh mau memperjuangkan emansipasi—dimulai dari emansipasi pikiran—niscayalah mesti menghantam kastil kebekuan itu. Pada titik ini militansi AKSI SEPIHAK sebagai perlawanan terhadap logika pasar penerbitan harus dikumandangkan. AKSI SEPIHAK untuk memperjuangkan gagasan-gagasan orisinil dan pemajuan kebudayaan masyarakat Indonesia!

 

Kami bertiga saling berpandangan, lalu menoleh ke Anom yang terlihat lelah. Kami langsung setuju dengan perbaikan-perbaikan itu dan berterima kasih pada kawan kita satu ini.

Itulah deklarasi kami sebagai penerbit independen: melawan dunia penerbitan arus-utama, melawan rezim industri pengetahuan dominan, melawan segalanya. Itulah posisi politik dan intelektual kami yang kemudian dicantumkan pada lembar-lembar terakhir buku pertama kami, Imanensi dan Transendensi—sebuah buku dengan tebal total sekitar 300 halaman, kertas HVS ukuran 14 x 21 cm dan tiras 1000 eksemplar.

Bagaimana Komunitas AksiSepihak Gulung Tikar

Menerbitkan buku secara independen pada tahun 2009 di Jakarta bukan perkara yang teramat mudah.

Pertama-tama, kami tidak punya dana. Untuk keperluan cetak, kami sepakat patungan dengan masing-masing meminta pinjaman dari sanak-saudara sendiri.

Kedua, kami tidak tahu peta dunia percetakan di Jakarta. Kami tidak tahu harga dan cara memastikan mutu cetakan. Akibatnya, kami salah pilih percetakan sehingga harga cetak kemahalan dan mutu cetak di bawah rata-rata. 

Ketiga, kami menolak menggunakan jalur distribusi Gramedia. Masalahnya, kami juga tidak punya wawasan soal jalur distribusi yang biasa dipakai penerbit independen. Akhirnya kami pun datangi satu persatu toko-toko buku kecil untuk konsinyasi dengan mereka. Lagipula waktu itu belum marak penjualan via media sosial.

Sebagai sarana promosi dan sosialisasi Komunitas AksiSepihak, kami mengadakan diskusi keliling. Mula-mula diskusi di UNIKA Semarang, kemudian UGM Yogyakarta, lalu Cak Tarno Institute Depok, selain tentu di kampus kami sendiri. Kami menggotong kardus-kardus buku berisi beberapa ratus eksemplar yang bobotnya (gara-gara terbuat dari kertas HVS) berisiko menyebabkan turun berok.

Kami datang ke Yogyakarta untuk berdiskusi di UGM dengan membawa dua kardus buku dan pulang ke Jakarta sambil tetap membawa dua kardus buku minus dua eksemplar yang laku selama acara. Kami berangkat dari Rawasari ke Depok menggotong satu kardus buku di suatu siang yang amat gerah dan pulang dengan tangan kosong karena satu kardus yang masih utuh setelah acara itu kami titipkan di kosan teman di Depok—dan tak pernah kami ambil sampai hari ini.

Tapi kami senang bisa berdiskusi keliling dan bertemu teman-teman baru. Kami bertemu banyak teman baru di Yogyakarta, sebagian dari mereka mengusahakan penerbitan mandiri juga. Itu membuat kami tidak merasa sepi. Banyak orang bersusah-payah membangun penerbitan mandiri di sana, seperti yang kami bikin di Jakarta. Kami terkatung-katung di stasiun, kami rugi bandar, kami tidak tahu cara berdagang buku, tapi kami bahagia.

Tak sampai setahun sejak Imanensi dan Transendensi terbit, Komunitas AksiSepihak bangkrut.

Soalnya sederhana. Pertama, kami keteteran mengelola penagihan ke para reseller dengan sistem konsinyasi. Kedua, kami kebingungan mengelola arus dana sehingga kas badan penerbitan tersebar secara tidak karuan di kantong kami bertiga. Ketiga, kami tak punya dana cukup untuk menerbitkan buku baru. Maka pada tahun 2010, sambil merokok pahit di warung belakang kampus, kami memutuskan untuk gulung tikar saja.

Selain itu, kami juga mulai sibuk sendiri-sendiri.

Togap sibuk meneruskan bisnis keluarga. Saya dan Berto sibuk mengelola kelompok diskusi baru bersama Anom. Sejak sekitar November 2009, saya, Berto dan Anom sibuk mengorganisasikan kajian mingguan membedah buku Das Kapital. Kelompok diskusi ini menerbitkan sebuah jurnal yang muncul secara rutin dengan tajuk Problem Filsafat. Pada tahun 2010, kesibukan seputar itu meningkat sehingga kami kesulitan membagi fokus dengan usaha penerbitan yang lama.

Dengan demikian, maka berakhirlah petualangan Komunitas AksiSepihak dan dimulailah petualangan Komunitas Marx.


Kredit Gambar : google
Martin Suryajaya
Penulis filsafat. Lahir di Semarang dan kini tinggal di Jakarta
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara