Kesusasteraan Jepang merupakan kesusasteraan yang sudah melahirkan peraih nobel. Salah satu pendorongnya adalah penerjemahan karya-karya sastra dunia ke dalam Bahasa Jepang sehingga mempengaruhi proses kreatif beberapa sastrawan, termasuk Tanizaki.

ANDA TENTU TAHU bahwa ada hubungan erat antara penerjemahan sastra dunia dan kelangsungan penulisan kreatif. Penerjemahan dan peredaran karya terjemahan berkontribusi penting bagi perkembangan sastra suatu negara. Tapi mungkin Anda belum tahu bahwa sekarang ini Jepang adalah negara superpower dalam hal penerjemahan, dan bahwa sejarah budaya negeri ini adalah sejarah penerjemahan.

Memang benar bahwa penerjemahan sastra Barat baru mulai ramai pada masa awal kekaisaran Meiji. Masalahnya Jepang sengaja mengisolasi diri dari pengaruh Katolisisme sehingga mengusir Portugis, Inggris, dan Spanyol di abad 16. Kurang berminat dalam hal pewartaan gospel, akhirnya Belanda menjadi satu-satunya bangsa pendatang yang diterima dan berhak menempati sebuah pulau kecil dekat pelabuhan Nagasaki, dan justru dari wilayah sempit itulah para penerjemah profesional bekerja dan menyebarkan pengaruh kultural sepanjang masa Edo (1603-1868).

Tapi di pertengahan abad 19, munculnya kapal-kapal Amerika dari balik cakrawala mengiringi pergeseran politik dari dinasti diktator Shogun ke tangan figur kaisar yang telah kita kenal dengan baik, dan sejak itulah keragaman bahasa Eropa dirayakan.

*

Sekarang mari kita secara khusus bicara penerjemahan karya para penulis terbesar dunia abad 20: Proust, Joyce, dan Hemingway, serta kontribusinya bagi sastra Jepang modern.

Antoine Compagnon, seorang peneliti Proust, menyebut ‘Japan is a strong Proustian society’: betapa Proust mempunyai cukup banyak pembaca di Jepang.

Menurut catatan Ken Inoue, tulisan-tulisan pendek dan fragmen Proust sudah mulai diterjemahkan sejak pertengahan 1920-an. Lalu di bulan Januari 1930 Shuichi Hotta menerjemahkan esai-esai Proust. Bahkan terjemahan ‘Combray’, bab pertama dari Swann’s Way diterbitkan secara berseri sejak Oktober 1929 sampai Januari 1930 dan diterbitkan dalam bentuk buku bulan Juli 1931. Penerjemahnya adalah Ryuzo Yodono (1904–67), teman dekat Kajii Motojiro (1899-1931) –penulis yang gayanya satu aliran dengan Kawabata. 

Di awal 1930-an, Tatsuo Hori (1904-1953) menulis lima esai tentang Proust, dan dalam dua esai di antaranya ia mencoba menerjemahkan beberapa paragraf. Ken Inoue mengamati terjemahan ini, mendapati betapa Hori berusaha keras menyalin monolog interior si narator ke dalam sebuah kalimat Jepang yang sama panjangnya, tanpa melakukan pemenggalan.  

Hori hanya menerjemahkan fragmen-fragmen kecil Proust. Tapi yang mengagumkan, meski terjemahannya termasuk terjemahan bebas namun itu menggunakan berbagai perangkat linguistik dan literer yang menyebabkan terjemahannya efektif dan menarik. Struktur kalimat Proust telah memaksa penerjemah untuk berasimilasi dan mereka ulang ‘cara berpikir’ dan ‘ritme menulis’ Proust.

Beberapa motif dalam Proust dan monolog interior dalam kalimat-kalimat panjangnya kemudian mempengaruhi karya orisinil Hori sendiri. Dalam esainya tahun 1933, Hori membandingkan teramat simplistisnya gaya tulisan dia sendiri dibandingkan dengan rumitnya gaya tulisan Proust, dan ia lebih mengunggulkan kerumitan Proust itu dibandingkan tulisannya sendiri. Sejak itu gaya Proustian memegang peranan penting dalam sebuah kecenderungan literer yang sedang menolak naturalisme.

Pencapaian Yodono, Hotta, dan Hori dengan demikian bisa dibilang luar biasa. Bisa dibilang bahwa Jepang menyerap Proust bersamaan dengan Inggris. Woolf mulai membaca terjemahan Proust sejak tahun 1923, ketika ia menulis Mrs.Dalloway. Buku tipis Beckett berjudul Proust muncul tahun 1931. Bisa dibilang Tatsuo Hori dan Beckett mempelajari Proust di saat bersamaan di dua benua berbeda.

Melihat pula betapa novel Tanizaki, Tade Kuu Mushi (Some Prefer Nettles) ditulis dengan kalimat-kalimat yang panjang, halus, dan elaboratif, kita sadar betapa gaya Proustian bisa diterima dengan baik di Jepang.

Lalu bagaimana dengan nasib karya Joyce? Ternyata tidak kalah mulia! Ulysses sudah menikmati aroma sushi Jepang sejak tahun 1931, diterjemah oleh Sei Ito dan dua rekannya. Itu berarti mendahului popularitas Joyce di Amerika. Menurut catatan Eishori Ito, Jepang adalah negara ketiga yang menerjemahkan Ulysses sesudah Jerman (1927) dan Prancis (1928).

Nama Joyce mulai ramai di Jepang sejak kemunculan esai tentang Portrait of the Artist as a Young Man di tahun 1918. Saya dengan gencar menguping pendapat Eishiro Ito, karena pengamat ini nampak bergairah sekali. Mungkin dia habis minum sake. Maka begitulah, ia menambahkan pula betapa setahun kemudian, 1919, Akutagawa membeli satu copy novel pertama Joyce ini, sangat terkesan, dan mencoba menerjemahkan beberapa fragmen ‘Daedalus’ di dalamnya. 

Artikel pertama tentang Ulysses muncul pada 15 Desember 1922, ditulis oleh Mirai Sugita. Pengaruh paling awal Ulysses bagi sastra Jepang nampak dalam novel Tanizaki, Manji (1928).  Jadi Anda sudah lihat betapa Tanizaki mengembangkan gaya literer Proust dan Joyce sekaligus!

Cerpen Yokomitsu Riichi, Kikai (Machine) –kebetulan saya pernah membaca- yang muncul bulan September 1930 juga ketularan gaya Joyce. Kawabata sendiri membaca Ulysses langsung dari edisi Inggrisnya, meski ia mengaku kesulitan. Selanjutnya setelah terjemahan Sei Ito terbit ia bandingkan karya terjemahan dengan naskah aslinya.

Secara akademis, Ulysses mulai diperkenalkan tahun 1929 oleh Prof. Kochi Doi. Ia telah mendapatkan satu copy edisi aslinya ketika berada di Edinburg tahun 1923, dan sejak itu ia bersungguh-sungguh mempromosikan karya besar ini. Setelah dia, akademisi macam Junzaburo Nishiwaki, Yukio Haruyama dan Kazutoshi Fukunaga bekerja keras menekankan nilai penting Ulysses tanpa kenal lelah.

Hingga kini, sudah ada tujuh versi Ulysses dalam bahasa Jepang. Ini menunjukkan betapa positif tanggapan Jepang terhadap Joyce. Pencapaian ini jauh melampaui Cina yang baru memiliki satu terjemahan Ulysses, itu pun baru terbit tahun 1995.

Sekarang mari kita tengok papa Hemingway. Ia pertama kali dikenal di Jepang berkat terjemahan Sei Ito –ingat tadi?- atas cerpen ‘Hills Like White Elephants’ yang muncul di bulan Juni 1930. Itu hanya terpaut tiga tahun setelah edisi aslinya termaktub dalam Men Without Women.  Selanjutnya, Januari 1931 menyaksikan munculnya ‘Indian Camp’ lewat terjemahan Manabu Orita.

Lebih fenomenal adalah terjemahan Ritsu Oda atas A Farewell to Arms, karena ia muncul setahun setelah terbit di Amerika tahun 1929. Memang Oda lebih ke arah menceritakan ulang ketimbang menerjemahkan. Hemingway kemudian menegurnya, memotivasi Oda agar membuat terjemahan yang taat pada naskah asli.

Oda menjalankan proyeknya ini karena mengaku terkesan dengan gaya ungkap Hemingway yang jernih dan tak mengenal sentimentalitas. Dengan kata lain, gaya Hemingway bisa diterima di Jepang sebagai cara bertutur yang segar, menggambarkan mekanisme psikologi modern di saat Jepang mulai menumbuhkan generasi antinaturalisme.

Menerjemahkan Hemingway yang padat, jernih, sekaligus memendam amarah bukanlah hal mudah. Secara sepintas terjemahan Oda nampak literal, namun dengan terjemahan itu ia memperkenalkan cara berkisah dengan kalimat-kalimat singkat dan secara sintaktik banyak menggunakan perfect tense. Ini tentu saja berkebalikan total dengan gaya Proust yang sangat elaboratif, ditandai dengan hampir tidak adanya kalimat yang hanya terdiri dari satu larik.

Gaya tulisan Hemingway yang dinamis, yang bergerak dengan pasangan subjek dan verba ini ternyata cukup asing bagi karakteristik tulisan Jepang. Meskipun begitu, mulai akhir 40-an hingga tahun 50-an cara berkisah Hemingway mempengaruhi proses kreatif Kunio Ogawa, Shintaro Ishihara, Takeshi Kaiko, dan tentu saja Tanizaki. 

*

Memikirkan pencapaian Jepang dalam penerjemahan karya-karya besar sastra Barat serta efek yang ditimbulkannya bagi proses kreatif, lalu membandingkannya dengan fenomena di negeri sendiri, rasanya saya jadi seperti puteri dalam dongeng seribu satu malam yang jadi tak enak makan tak enak tidur karena nelangsa memikirkan cinta yang ngelangut dan nyaris sia-sia.

Sudah anda lihat, bukan hanya penerjemah saja yang berkepentingan menjadikan karya para penulis besar itu menjadi bagian dari satu kecenderungan kreatif dan ilmiah dan mampu berafiliasi dengan tradisi berbahasa yang sudah ada, melainkan juga mereka para sastrawan dan peneliti. Inisiatif yang mereka miliki untuk memperkenalkan sesuatu yang masih asing harus menjadi bahan pelajaran bagi siapapun yang menginginkan kemajuan sastra, di mana pun mereka berada.

*


Kredit Gambar : pinterest
Nurul Hanafi
Penulis dan penerjemah. Bukunya yang baru terbit adalah Novel berjudul Piknik. Sedang terjemahannya antara lain Ibu Kota Lama (Yasunari Kawabata), Bocah Lelaki Yang Menulis Puisi (Yukio Mishima) dan yang terbaru Rumah Delima (Oscar Wilde).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara