“Saya biasa meluangkan waktu menulis setiap hari. Biasanya setiap subuh, kalau tidak, saya sempatkan malam hari selesai tahajud.”

SORE itu, Senin (1/1), Prof. Azyumardi Azra., MA bersama istri, Dr. Ipa Fariha., MA, menyempatkan diri untuk menemani saya dan satu teman saya, Ihwanul Muadib untuk mengunjungi Perpustakaan Pribadi Prof. Azyumardi. Dua minggu sebelumnya saya meminta izin, agar diperkenankan melihat koleksi-koleksi buku Prof. Azyumardi. Bersyukur, Prof. Azyumardi merespon baik, dan mempersilahkan kami.

“Maaf, Prof. Tadi kami salah alamat. Tadi ada ruko, dengan alamat yang sama,” jelas saya kepada Prof. Azyumardi. Saya beberapa menit terlambat dari waktu yang dijanjikan, pukul empat sore. Prof. Azyumardi tersenyum, dan memahaminya. Perpustakaan Pribadi Prof. Azyumardi terletak di Kampung Utan, Jl. Ws. Supratman No. 70, Toko Kinder Street Lt.3. Ia tiba lebih awal, sesaat sebelum saya datang.

“Mari! Perpustakaannya di lantai tiga,” ajak Prof. Azyumardi, untuk kemudian kami bersama-sama menuju ruang perpustakaan.

Kunjungan kami, hendak silaturahmi dan juga ingin meminta beberapa bahan rujukan untuk penelitian. Kunjungan kami tak sia-sia, sore itu kami mendapat segudang bahan guna menunjang penelitian. Di antaranya, beberapa kliping koran dari beberapa media cetak ternama dan buku-buku karya Prof. Azyumardi.

“Sementara ini, masih belum rapi. Pembuatan katalognya beberapa bulan ini terhenti. Jadi masih berantakan. Belum bisa dikunjungi untuk umum,” terang suami dari Dr. Ipah Farihah tersebut, sesaat setelah memasuki perpustakaan. Perpustakaan pribadi Prof. Azyumardi rencananya akan diperuntukkan bagi umum. Diharap, koleksi-koleksi buku (15 rb eks) dari berbagai bidang keilmuan yang dimiliki bisa dimanfaatkan untuk umum.

Ruang perpustakaan kurang lebih 20x10 meter. Setiap rak sudah terisi penuh dengan buku-buku. Ada beberapa kardus besar berisi buku yang belum sempat dirapikan. Ada pula satu rak yang terisi buku-buku karya Prof. Azyumardi.

Kami pun asyik memilah beberapa koleksi buku dan beberapa dokumen.

Setelah empat puluh menit lebih mencari, kami mendapat buku serta dokumen yang diperlukan. Setelah itu kami berkesempatan berbincang di deretan sofa yang terletak di depan pintu masuk perpustakaan. Kami pun berbincang tentang banyak hal; dari masa kecil, saat kuliah dan saat berkiprah di perguruan tinggi. Obrolan kami pun mengerucut, banyak membincangkan tentang “proses” intelektualisasi yang dijalani oleh Prof. Azyumardi.

Pria kelahiran Padang, 4 Maret 1955 tersebut mulai mengoleksi buku sejak kuliah di IAIN Jakarta (1976). Koleksi itu kian bertambah sejak ia kuliah di Columbia University Manhattan, New York. Masa-masa studi di Negeri Paman Syam tersebut, dimanfaatkan Prof. Azyumardi untuk mendulang buku-buku dari berbagai macam disiplin keilmuan. Biasanya, ia mendapatkan buku-buku klasik dan murah di emperan Lower Manhattan.

Perburuannya terhadap beragam literatur tak henti di situ. Ia juga sering berkunjung ke toko-toko buku, seperti Strand Bookstores dan Barnes & Noble yang menyediakan buku-buku baru dan lama dengan harga lima puluh sen hingga sepuluh dolar saja. Ada juga ruang khusus di Butler Library Columbia University, Barnard College, Union Teological Seminary yang biasa menjual kelebihan buku-buku tua. Prof. Azyumardi pernah mendapat buku kumpulan orientalis Belanda, C. Snouck Hurgronje—Verspreide Geschiften, sebanyak enam jilid dengan harga enam dolar. Ia senang bukan kepalang saat mendapat rujukan buku-buku klasik dan penting itu.

Dari kegemarannya membaca serta membeli beragam jenis buku itu, jumlah bukunya bertambah pesat. Ukuran kamar tempat tinggalnya di Johson Hall yang berukuran 2,5x3 meter tidak dapat menampung koleksi buku-bukunya. Sebab itu Prof. Azyumardi berangsur mengirim beberapa koleksi bukunya ke Indonesia. Belakangan, setelah masa studinya selesai, ia mendapati kumpulan buku yang dibeli di New York hampir dua truk.

“Buku terus yang dibeli. Mau ditaruh mana buku-bukunya?” Kenang sang istri, Dr. Ipah Farihah saat mendapati sang suami “gandrung” terhadap buku.

Prof. Azyumardi bersyukur, sang istri selalu mensupport segala proses “intelektualisasi” yang dijalani.  Kekaguman Prof. Azyumardi bukan tak beralasan, Dr. Ipah tak keberatan untuk hidup berjuang bersama. Seperti saat pertama kali ikut ke New York pada tahun 1988. Dr. Ipah tak keberatan diajak tinggal di ruang tamu apartemen keluarga Indonesia di daerah Sunnyside, Queens. Pemiliknya adalah Pak Muhammad Syarif yang sama-sama aktif di pengajian Masyarakat Indonesia New York. Prof. Azyumardi menyewa ruang itu dengan harga 300 dolar perbulan.

Kemudian hari Pak Syarif membawa istrinya dari Indonesia. Sebab itu, Prof. Azyumardi berpindah ke Kawasan Astoria yang masih di sekita Queens. Di sana, pasangan muda itu tinggal di lantai bawah rumah dua tingkat milik keluarga India. Untuk membantu keuangan keluarga, Dr. Ipah juga tak segan untuk bekerja menjadi penjaga bayi di keluarga Zenghut, pasangan muda Amerika yang punya anak kecil bernama Nadia. Pekerjaan itu dilakoni dengan tekun, bahkan sampai Dr. Ipah hamil anak kedua. Prof. Azyumardi sangat salut atas keuletan istrinya itu.

Prof. Azyumardi mengaku, selain di New York, buku-bukunya juga didapat saat melakukan penelitian disertasi tentang “jaringan ulama di Timur Tengah dan Indonesia.” Proses penelitian yang dilakukan Prof. Azyumardi sangat menarik. Ia harus berkunjung ke beberapa daerah dan beberapa negara guna mengumpulkan literatur-literatur, dokumen atau naskah lain yang terkait.

“Saya harus melakukan riset ke Mesir, Belanda dan Arab Saudi,” tegas dosen yang belum lama ini mendapat bintang jasa the Order of Rising Sun, Gold, and Silver Star dari pemerintah Jepang.

Di awal, Prof. Azyumardi melakukan penelitian di Makasar. Di sana ia banyak dibantu oleh Prof. Umar Syihab Guru Besar IAIN Alauddin Makasar, yang juga kakak dari Prof. Qurais Syihab. Di Makasar, Prof. Azyumardi melakukan riset tentang Syekh Yusuf al-Makassari, salah satu tiga figur utama jaringan ulama Nusantara abad 17. “Saya juga melakukan riset di IAIN Alauddin Makasar dan Universitas Hasanuddin Makasar,” imbuh putra pasangan Azikar dan Ramlah itu.

Dari Makasar, lanjut Prof. Azyumardi, saya terbang ke Aceh. Di sana saya banyak melakukan aktiftas riset di Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) yang banyak menyimpan naskah karya Nuruddin Al-Raniri dan ‘Abd al-Ra’uf al-Sinkili. “Selesai dari Aceh, saya pulang ke Jakarta dahulu. Setelah itu baru ke Mesir,” terangnya.

Buku-buku yang dibeli oleh Prof. Azyumardi tak sebatas sebagai bahan koleksi. Lebih dari itu, buku-buku itu dilahap oleh Prof. Azyumardi untuk memenuhi “obsesi” intelektualnya yang terus “meletup-letup”. Itu terbukti, kegiatan membaca dan menulis masih ditekuninya hingga saat ini. “Kalau tidak keluar kota, di rumah, setiap harinya masih rutin menulis. Saat dalam perjalanan keluar kota juga masih menyempatkan,” jelas Dr. Ipah Fariha yang duduk di sebelah Prof. Azyumardi.

Di sela-sela kesibukannya, Prof. Azumardi masih rutin mengisi “kolom” koran harian nasional. Ia bertekad untuk terus konsisten dalam menulis. Tekad itu sudah dibangun sejak awal menulis untuk diterbitkan di “kolom” koran harian nasional—saat menjadi mahasiswa dekade 70-an, hingga menjadi wartawan Panji Masyarakat. Lantas tekad itu diuji saat ia belajar di Columbia University New York. Di sela kesibukan menyelesaikan studinya itu, ia masih konsisten menulis untuk media-media nasional. Dan itu terus berlangsung hingga usianya yang hampir genap 63 tahun ini.

“Saat di New York, saya masih mengirimkan tulisan untuk Majalah Panji Masyarakat dan koran harian nasional,” jelas guru besar yang pernah menjabat Rektor UIN Jakarta dua periode tersebut. Ia bertekad produktifitasnya sebagai penulis tidak ingin kembang-kepis.

Prof. Azyumardi juga mengaku, kegemaran serta produktifitasnya menulis didapat sejak kuliah di IAIN Jakarta era 70-an. Terlebih saat aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ciputat. Dalam lingkup organisasi tersebut, Prof. Azyumardi telah terlatih untuk menuangkan ide dalam tulisan-tulisan yang kritis dan analitis. “Di HMI, saya terlibat diskusi interaktif. Masing-masing berkesempatan untuk membuat makalah untuk kemudian diduskusikan. Dari hasil diskusi, makalah akan mendapat perbaikan secara subtantif. Kemudian, makalah itu siap dikirim di media certak,” tuturnya.

Keterlibatan Prof. Azyumardi sebagai wartawan di Majalah Panji Masyarakat juga turut andil dalam membentuk “nalar” intelektualnya. Di media itu, ia sering mendapat tugas untuk membuat laporan utama. Berangkat dari itulah, sikap “kritisnya” semakin terasah. “Saya di Panjimas, tak lain karena ajakan dari Pak Fachry,” imbuhnya.

Prof. Azyumardi juga menambahkan, untuk bisa konsisten menulis, ia menerapkan disiplin yang ketat. “Saya biasa meluangkan waktu menulis setiap hari. Biasanya setiap subuh, kalau tidak, saya sempatkan malam hari selesai tahajud,” jelasnya.

Saat menulis disertasi, lanjutnya, saya menyelesaikan 600 halaman dalam waktu enam bulan. Saya selalu meluangkan waktu menulis satu hingga dua jam setiap hari. “Terpenting harus rajin membaca, menulis. Dan, harus menguasai bahasa,” jelasnya terkait tip dalam mengasah intelektualitas berpikir.

Waktu hampir pukul enam malam. Kurang lebih empat puluh menit kami terlibat obrolan. Akhirnya, kami menyudahi dan mengucapkan terimakasih kepada Prof. Azyumardi dan Dr. Ipah Farihah. Kami patut bersyukur, di awal tahun 2018 bisa bersilaturahmi dengan seorang tokoh berpengaruh di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, kami bersyukur karena Prof. Azyumardi berkenan menemani dan membantu untuk mendapatkan beberapa bahan penelitian.

“Kamu beruntung, Mas. Pak Azyumardi biasanya jarang ke sini. Dalam setahun, bisa dihitung,” terang Riyan, pengelola perpustakaan, selepas kunjungan. Ia juga paham, bahwa Prof. Azyumardi sangat sibuk. Sebab itu, Prof. Azyumardi jarang ke Perpustakaan itu.

“Kalau Ibu, hampir setiap hari ke sini. Ya itu, buat ngurusin toko,” imbuh Riyan.

Begitulah. Kepakaran Prof. Azyumardi dibentuk dengan proses kajian terhadap berbagai literatur buku. Kemudian, kepakaran itu menjadikannya sebagai figur cendekiawan muslim yang berpengaruh dalam dunia pendidikan. Selain di dunia pendidikan, Prof. Azyumardi juga turut menyumbangkan buah pikiran dalam ranah keindonesiaan dan keislaman.

*

CAPTURE: Foto Bersama Prof. Azyumardi Azra., MA dan istri beliau Dr. Ipah Farihah., MA di Perpustakaan Pribadi Prof. Azyumardi.


Muhamad Syafii bin Marno
Guru, wartawan, penulis
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara