Kartini: sosok yang dipuja sekaligus banyak sekali disalahpahami. Selalu ada banyak upaya untuk meneladaninya dan salah satunya dilakukan oleh Gerwani dulu melalui penerbitan majalah "Api Kartini".

Kami oranghidup ini mau beladjar dari orangmati: Tentang memelihara kedjudjuran dan memihak kebenaran

HR. Bandaharo - Beladjar dari Orangmati

*

Perayaan Hari Kartini sudah laksana ritual yang tidak terpisahkan dari kehidupan perempuan di Indonesia. Pada tanggal 21 April 1964, Presiden Soekarno-lah yang pertama kali meresmikan hari kelahiran Kartini sebagai perayaan bagi kemerdekaan wanita Indonesia. Sebelum peresmian oleh Bung Besar, banyak organisasi wanita di Indonesia yang merayakan secara meriah hari kelahiran Kartini, sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa Kartini. Tapi seringkali perayaan tersebut hanya bersifat eksklusif saja di antara organisasi-organisasi tersebut. Kebanyakan organisasi wanita tersebut menjadikan Kartini sebagai tokoh idola bagi perjuangan dalam mencapai kesetaraan, tapi seringkali mereka terjebak dengan mitos. Perayaan-perayaan hari kelahiran Kartini seringkali hanya merayakan kelahiran seorang penerang jalan dari kegelapan, bukan meneladani sikap dan cita-cita Kartini dalam memajukan kehidupan bangsanya.

Kartini memang sosok yang banyak disalahpahami. Perannya dalam usaha mencerahkan kehidupan kaumnya yang masih terjajah oleh feodalisme dan kolonialisme, ketidakmampuanya dalam menerima paksaan menikah dengan lelaki yang telah beristri, seringkali dijadikan sasaran pihak-pihak yang sinis. Pergaulannya dengan orang-orang Belanda dan diterbitkannya kumpulan surat-surat pribadi Kartini oleh pemerintah Hindia Belanda memunculkan tuduhan bahwa sosok Kartini adalah boneka politik Etis kaum Liberal Belanda. Buku kumpulan surat-surat pribadi Kartini yang dalam bahasa Indonesia berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang terbit pertama kali dalam bahasa Belanda di tahun 1911, sedangkan terjemahan bahasa Indonesianya terbit pertama kali di tahun 1922 hasil  terjemahan Empat Saudara dan di tahun 1938 terbitlah terjemahan Armijn Pane yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Pramoedya Ananta Toer dalam kata pengantarnya di buku Panggil Aku Kartini Sadja menyatakan bahwa kesalahpahaman mengenai sosok Kartini disebabkan posisinya yang berada di dua arus sejarah yang mengalir di waktu yang bersamaan. Pram menyatakan bahwa :

“Kartini adalah orang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia yang menutup zaman tengah, zaman feodalisme pribumi yang “sakitan” menurut istilah Bung Karno. Bersamaan dengan batas sejarah pribumi ini, mulai berakhir pula penjajahan kuno Belanda atas Indonesia dan memasuki babak sejarah penjajahan baru; Imperialisme modern.”

Pram yang mulai tahun 1956 tertarik untuk mempelajari Kartini, memulai proyek penelitian sejarah dengan mengumpulkan sumber-sumber tertulis mengenai kehidupan Kartini. Tujuan Pram sangatlah jelas, penyusunan buku biografi Kartini ditujukan untuk membuat konfrontasi dengan pihak yang ragu-ragu dalam menerima Kartini sebagai pahlawan bangsanya, namun tidak mau melakukan tindakan apapun untuk menjawab keragu-raguan tersebut dan malah bersikap diam-diam saja atau malah sinis terhadap pelaksanaan pesta-pesta perayaan hari Kartini. Buku Panggil Aku Kartini Sadja yang terbit dua jilid di tahun 1962, seharusnya terbit dalam 4 jilid, tapi naskahnya hilang ketika rumahnya diserbu massa di tahun 1965. Bersamaan itu hilang pula naskah Kumpulan Karya Kartini dan Wanita Sebelum Kartini.

Ketika saya mulai bergelut dengan dunia buku-buku lawas, saya mendapatkan majalah lawas yang berjuluk “Api Kartini”. Majalah tersebut adalah media yang diterbitkan oleh Gerwani, Gerakan Wanita Indonesia. Gerwani, awalnya bernama Gerwis (Gerakan Wanita Sedar), didirikan sebagai bentuk fusi 6 organisasi wanita progresif pada tanggal 24 Juni 1950. Nama Gerwani baru diresmikan pada Konggres Gerwis II pada tanggal 25 Januari 1954. Organisasi ini selalu disangkutkan dengan PKI, namun sebenarnya tidaklah seperti itu, karena Gerwani adalah sebuah organisasi yang non partisan, tidak berada di bawah naungan partai politik apapun. S.K. Trimurti, salah satu penggagas berdirinya Gerwani bukanlah seorang Komunis dan bahkan dikenal sebagai pengritik keras PKI.

Menariknya adalah mengenai penggunaan nama “Api Kartini” sebagai nama media. Majalah bulanan tersebut pertama kali terbit di tahun 1958, kebanyakan memuat berbagai informasi mengenai gerakan perempuan Indonesia, berita dan artikel tentang perjuangan kaum perempuan baik di dalam maupun di luar negeri dan berbagai kegiatan kaum perempuan progresif dalam melanjutkan cita-cita perjuangan Kartini. Dalam beberapa majalah Api Kartini yang saya miliki, pembacaan saya mengenai gerakan Gerwani dalam meneladani sikap dan cita-cita Kartini terpampang jelas dalam artikel-artikel yang dimuat dalam majalah tersebut. Salah satu yang sungguh menarik perhatian saya adalah ketertarikan Gerwani pada dunia pendidikan kanak-kanak. Dalam sebuah artikel berjudul “Literatur Kanak2” yang ditulis oleh Sugiarti Siswadi di majalah Api Kartini  no. 3 Tahun 1963, disebutkan bahwa :

“Menjadari pentingnja tugas edukatif sastera kanak2, berarti menjadari tugas vitalnya dalam menjiapkan kanak2 mendjadi manusia zamannja. Ini menuntut kita akan keharusan hubungan jang erat antara sastera dengan perdjuangan jang tak kenal lelah dalam melawan alam fikiran anti-rakjat, melawan ketidakpertjajaan atas kemampuan manusia melawan tachajul, melawan ketidakpertjajaan bahwa manusia dapat diubah dan mengubah dirinja sendiri”.

Sugiarti Siswadi adalah salah satu penulis wanita anggota Lekra dan Gerwani yang cukup aktif menerjemahkan dongeng-dongeng luar negeri untuk anak-anak. Dalam 2 majalah Api Kartini yang saya miliki, Sugiarti menerjemahkan 2 dongeng karya Hans Christian Andersen, yang diberinya judul “Badju Maharadja” dan “Ibu Jang Bidjaksana”. Penulis lainnya yang lebih terkenal yakni Siti Rukiah Kertapati, menerbitkan majalah kanak-kanak bernama “Kutilang”. Pada tahun 1962, Siti Rukiah menyusun buku kumpulan dongeng anak-anak yang pernah terbit di majalah “Kutilang”. Buku berjudul “Dongeng Kutilang” tersebut berisi kumpulan dongeng-dongeng rakyat Indonesia dari seluruh pelosok negeri.

Kartini sendiri dalam surat-suratnya kepada kawan-kawan Belanda-nya menyebutkan ketertarikannya pada sastra dan pendidikan pada kanak-kanak melalui dongeng. Pada salah satu suratnya pada seorang sahabat Belandanya, Kartini menulis :

“Kerdja menghimpun dongengan2 itu membawa kami berhubungan dengan berbagai orang, dan ini memberikan kepada kami kenikmatan besar karena dapat mendengarkan pikiran2 mereka. Dengan bahasa sederhana namun demikian bergayanja pikiran2 terindah itu diucapkan, dan begitu mengharukan karena tepatnja kebenaran dan kebidjaksanaan jang terkandung didalamnja. Betapa inginku menterdjemahkan beberapa dari pikiran2 indah itu ke dalam bahasa yang begitu bergaja dan menjanji itu; tapi dalam terjemahan dia telah rusak, tidak akan seperti aslinja.”

Ketertarikan Kartini terhadap sastra dan dongeng untuk anak-anak, kemudian diwarisi dan dijalankan oleh Gerwani, adalah usaha nyata dalam memaknai sikap dan cita-cita Kartini. Nyaris saat ini susah sekali ditemukan buku cerita anak-anak yang membumi, yang tidak menceritakan kehebatan dan kemagisan dewa-dewa di langit, tapi kebanyakan adalah kisah-kisah teladan manusia sempurna yang tidak merangsang imajinasi, tidak memupuk jiwa petualangan. Nyaris tidak saya temukan lagi bacaan anak-anak yang membuat anak-anak tergerak hatinya untuk mencintai kemanusiaan.

Kebanyakan buku-buku anak kini adalah buku obralan murah meriah, yang dipajang di pameran-pameran buku hanya untuk mengejar omset dengan tampilan yang mengenaskan. Buku-buku anak versi disney yang melulu bercerita tentang dongeng putri-putri cantik dan pangeran-pangeran tampan banyak diterjemahkan dan diterbitkan seperti sampah bertebaran di etalase toko-toko buku yang wangi. Buku-buku dongeng cerita rakyat diterbitkan sembarangan seperti tidak ada usaha untuk mencetak dengan mutu yang lebih baik.

Mungkin kini sudah saatnya, penerbit-penerbit alternatif mulai meneladani usaha Kartini dan Gerwani dalam mengajarkan sastra dan dongeng kepada anak-anak. Mari warisi apinya, bukan lagi abunya. Saya tiba-tiba teringat anak perempuan saya, yang selalu meminta saya menjadi serigala yang hendak memakannya bulat-bulat ketika dia ingin memerankan Si Kerudung Merah.


Dodit Sulaksono
Dodit Sulaksono adalah seorang pedagang buku sekaligus seorang ayah. Sosok penyayang sekaligus pemarah.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara