Mulai berkecimpung di dunia jurnalistik pada usia 18 tahun, Ani Idrus melanjutkan kiprahnya melalui berbagai cara, dari mulai menerbitkan terbitan berkala sampai mendirikan sekolah.

MOHAMMAD Said tidak mendebat ketika hari itu pada Desember 1955, istrinya, Ani Idrus, meminta izin untuk melakukan sebuah liputan lapangan. Sebagai wartawan, aktivitas peliputan memang sudah menjadi makanan sehari-hari pasangan suami istri itu.

Meskipun begitu, tugas liputan kali itu agak berbeda. Ani Idrus yang saat itu tercatat sebagai jurnalis Waspada hendak meliput perundingan Baling, di Semenanjung Malaya, yang mempertemukan Tuanku Abdul Rahman, Ketua Menteri Malaya, David Marshall, Perdana Menteri Singapura, dan Ching Peng, Pemimpin Komunis Malaysia yang bergerilya di hutan menentang tentara Inggris.

Said mengenal baik watak keras Ani, khususnya perihal pekerjaannya sebagai jurnalis. Maka, sekalipun ia tahu liputan perundingan Baling tidak akan semudah liputan yang sudah-sudah, Said tidak melarang istrinya meliput ke sana. Persiapan Ani Idrus bisa dibilang tidak cukup matang, karena kurang mempersiapkan kemungkinkan transportasi yang sulit. Alhasil, Ani berhadapan dengan masalah ketiadaan kapal yang bisa membawanya menyeberang ke Malaysia.

Waktu yang kian sempit tidak membuat Ani menyerah. Tanpa ragu dia lalu memilih naik kapal barang dari Medan menuju Penang, lalu segera bergegas menuju Baling. Uniknya, Ani datang meliput membawa serta anak sulungnya yang berumur 11 tahun meski medan peliputannya tidak mudah. Ani tercatat sebagai satu-satunya jurnalis Indonesia yang meliput perundingan yang berlangsung selama 28-29 Desember itu.

*

Ani Idrus adalah jurnalis yang mengabdi pada pekerjaan ini selama enam dekade lebih. Karir jurnalistiknya dimulai pada usia yang masih amat belia, yakni 18 tahun pada tahun 1936 di surat kabar Sinar Deli Medan dan majalah Sadar. Sebelumnya, sejak 1930, pada usia 12 tahun, Ani sudah aktif menulis di majalah Panji Pustaka yang diterbitkan Balai Pustaka.

Dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, 25 November 1918, Ani mengalami masa-masa sulit kolonial Hindia Belanda. Di masa kecilnya, Ani kerap berjumpa “orang rantai.” Sebutan ini ditujukan masyarakat lokal kepada orang-orang tahanan yang menjalani hukuman sebagai kuli di tambang batu bara Sawahlunto. Perlakuan ini dan berbagai pengalaman buruknya dengan para pemangku kekuasaan, menumbuhkan jiwa protes dan memberontak dalam diri Ani. Sebuah modal dasar yang kelak dipakai Ani dalam memperjuangkan kemerdekaan lewat bidang yang ia pilih.

Pada masa kanak itu pula Ani mengikuti ayahnya pindah ke Medan. Ia menjalani pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di kota itu (Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara Medan, 1962-1965), dan menemukan betapa asyiknya dunia kepenulisan. Ani mulai aktif menulis saat mendapat tugas dari sekolahnya, yang kemudian berlanjut mengirim tulisan ke media massa. Selain itu, ia juga aktif bermain di pentas sandiwara amatir.

Pada 1934, di usia 16 tahun, Ani bergabung ke dalam organisasi Indonesia Muda. Tiga tahun kemudian ia bergabung dengan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di Medan. Saat dewasa, Ani tidak saja brkecimpung dunia jurnalistik. Selanjutnya, 1984 diangkat sebagai Penasehat Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia. Pengalaman berorganisasi ini menggiring Ani untuk aktif berpolitik, dengan menjadi salah satu tokoh PNI Sumatera Utara. Pada 1950, Ani mendirikan organisasi Wanita Demokrat di Medan yang berafiliasi dengan PNI.

Keaktifannya dalam organisasi politik memudahkan Ani memetakan berbagai persoalan yang menjadi bahan tulisannya di surat kabar. Hal ini juga turut membentuk karakternya yang tegas dan berani.

Bahkan oleh Rosihan Anwar, Ani Idrus disebut berkarakter ‘bagak’, sebuah kata dalam bahasa Minang yang berarti galak, berani.

Pertemuannya dengan seorang wartawan bernama Mohammad Said, yang kelak menjadi suaminya, adalah momen penting yang turut berperan dalam karier jurnalistik Ani Idrus. Bersama Said, Ani tidak saja memiliki kesamaan visi dan misi sebagai suami istri, tetapi juga sebagai sesama jurnalis. Pasangan ini mendirikan sebuah terbitan berkala dan konten politik bernama Seroean Kita. Lalu pada 1947 mereka mendirikan harian Waspada. Berselang dua tahun kemudian, Ani mendirikan majalah Dunia Wanita yang terbit di Medan.

Ani banyak melakukan perjalanan jurnalistik ke Luar Negeri. Pada 1953 misalnya, ia bertandang ke Jepang sebagai wartawan Waspada bersama rombongan misi dagang Fact Finding Pemerintah R.I. yang diketuai oleh Dr. Sudarsono untuk merundingkan pembayaran Pampasan Perang. Pada 1954, giliran Republik Rakyat Tiongkok yang dikunjungi Ani.

Tahun berikutnya, Ani mengunjungi Belanda, Belgia, Perancis,Italia Tahun 1956 mengunjungi Amerika Serikat, Mesir, Turki, Jepang, Hongkong, dan Thailand. Kemudian, tahun 1961 dan 1962 mengunjungi Inggris dan Jerman Barat serta Paris. Lalu tahun 1963 mengikuti rombongan Menteri Luar Negeri Subandrio ke Manila, Filipina dan mengikuti perjalan Presiden R.I. ke Irian Jaya dalam rangka penyerahan Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia. Selanjutnya, tahun 1976 mengikuti rombongan Adam Malik menghadiri KTT Non-Blok di Srilanka.

Ani tak hanya aktif menulis artikel yang tersebar di berbagai surat kabar, ia  juga aktif menulis buku. Buku yang ditulisnya misalnya Terbunuhnya Indira Gandi (1980) dan Sekilas Pengalaman dalam Pers dan Organisasi PWI di Sumatera Utara (1984).

Selain menggumuli dunia jurnalistik dan politik, Ani juga berkecimpung dalam dunia pendidikan. Tahun 1953 ia mendirikan Taman Indria yang berlokasi di Jl. S.M. Raja 84, Medan khusus untuk Balai Penitipan Anak, Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.

Pada tahun itu juga ia sempat mendirikan Bank Pasar Wanita selama dua tahun berkantor di Pusat Pasar 125, Medan. Tahun 1960 mendirikan 'Yayasan Pendidikan Democratic' di Medan dengan tujuan mengembangkan dunia pendidikan dengan mendirikan: Democratic English School di Jl. S.M. Raja 195, Medan (kemudian dibubarkan karena adanya larangan sekolah berbahasa asing).

Kemudian ia mendirikan SD Swasta Katlia, di Jl. S.M. Raja 84, Medan. SD Katlia ini kemudian menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan. Tahun 1978 Ani mendirikan Yayasan Pendidikan Democratic dengan membuka: TK, SD, SMP Perguruan Eria di Jl. S.M. Raja 195. Selanjutnya, 1984 ia mendirikan Sekolah Pendidikan Agama Islam setingkat SD, yaitu Madrasah Ibtidaiyah Rohaniah di Jl. Selamat Ujung Simpang Limun, serta membangun masjid disampingnya. Kemudian, pada 1987 mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP) dan mendirikan 'Kursus Komputer Komunikasi' (K-3) di Gedung Kampus STIKP.

Karier Ani ikut berhenti bersamaan dengan hembusan terakhir napasnya. Pada 9 Januari 1999, di usia 80 tahun, Ani Idrus tutup usia di Medan.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara