Vonnegut dengan cerpennya berpotensi memancing pertanyaan menggelitik: apakah kematian merupakan masalah bagi kehidupan, atau justru ia adalah solusi bagi masalah kehidupan?

DI masa depan, barangkali pencapaian terbesar umat manusia adalah menyangkal kematian. Seorang filsuf, kita tahu siapa, menyebut kematian itu faktisitas: fakta-fakta terberi, yang tidak terhindarkan di kehidupan manusia. Kematian itu keniscayaan yang menggentayangi setiap kita.

Pemikiran itu lantas menggoda filsuf lainnya, kita juga tahu siapa, berkelakar bahwa bunuh diri adalah masalah pokok filsafat. “Jika hidup sudah tak bermakna, pantaskah untuk tetap dijalani?” Kita telanjur tak sanggup memilih sendiri kelahiran: kapan serta di mana dilahirkan, apa jenis kelamin, kewarganegaraan, bahkan agama, dan sebagainya. Namun, kita masih berkemungkinan memilih dan menentukan kematian sendiri. Pilihan dan kemungkinan itu mewujud tindakan bunuh diri.

Kita menghindari bunuh diri. Kita ingin hidup seribu tahun lagi. Kita bahkan ingin hidup abadi. Di semesta fiksi, keinginan-keinginan itu terladeni. Kita menjumpa, salah satunya, di buku kumpulan cerpen Kurt Vonnegut, Perjalanan Nun Jauh ke Atas Sana (2017).

Vonnegut dikenal sebagai penulis yang unik, sekalipun kita yakin setiap penulis pasti unik. Namun, kata penerjemah, Widya Mahardika Putra:

“jarang sekali ada penulis yang mampu menjuktaposisikan tawa dan duka, menghasilkan inovasi sastra post-modern tanpa mengorbankan kesenangan pembaca, dan membaurkan batasan antara literary fiction (‘sastra tinggi’) dan genre fiction (‘fiksi populer’−science fiction dalam kasus Vonnegut).”

Kita menyetujui klaim terakhir, fiksi populer memang kerap dibedakan dari sastra tinggi, atau dalam istilah yang lebih familiar bagi kita: sastra serius. Di Indonesia, fiksi populer kerap bertema asmara hiperbolik dan fantasi. Di Amerika Serikat, fiksi populer dirayakan lewat berbagai novel atau cerpen bertema fiksi ilmiah. Di Indonesia maupun di Amerika Serikat sana, fiksi populer tergentayangi stigma picisan. Fiksi populer bisa berjaya dengan jadi best seller, difilmkan oleh Hollywood, tapi mustahil memenangkan penghargaan sastra yang terakui, katakanlah Hadiah Nobel Sastra. Bahkan, Vonnegut yang telah berikhtiar membaurkan sastra serius dan fiksi populer pun belum sekali pun memenangkan Hadiah Nobel Sastra.

Kita menerima fakta Vonnegut dan Nobel tidak berjodoh. Kita menilai Vonnegut cukup dengan membaca cerpen-cerpennya. Di buku kumpulan Perjalanan Nun Jauh ke Atas Sana, hanya tercantum dua cerpen Vonnegut: Perjalanan Nun Jauh ke Atas Sana dan 2BR02BR, serta catatan penerjemah yang gagasan pokoknya telah kita simak. Dua cerpen berdiri masing-masing tapi masih di semesta fiksi yang sama. Dua cerpen tetap fiksi populer, tepatnya fiksi ilmiah, kendati coba dibaurkan sastra serius. Sebagaimana fiksi ilmiah pada umumnya, ambisi agung terasa di dua cerpen Vonnegut. Ambisi agung itu penyangkalan terhadap kematian.

Di cerpen pertama, Perjalanan Nun Jauh ke Atas Sana, tersebutkan obat bernama anti-gerasone. Obat termaksud manjur untuk mengatasi gejala alamiah manusia menuju kematian: penuaan. Dengan mengonsumsi anti-gerasone, tokoh-tokoh di semesta fiksi Vonnegut berhenti mengalami perubahan fisik, baik perkembangan maupun penurunan. Sebagai gambaran, “kakek tampak lebih tua karena ia sudah berusia tujuh puluh tahun waktu anti-gerasone ditemukan. Ia tidak bertambah tua sejak itu, selama 102 tahun sampai sekarang.” Ambisi itu perkara tanpa ujung. Menghentikan penuaan belum cukup memuaskan, terciptalah obat yang lebih ampuh dari anti-gerasone: super-anti-gerasone!

Vonnegut pun mengiklankan super-anti-gerasone, “apakah kehidupan sosial Anda terhambat karena keriput, karena kaku di persendian, karena uban dan kebotakan, karena semua itu sudah Anda punyai sebelum ditemukannya anti-gerasone?”

Iklan itu pasti memikat kakek, yang telanjur menjadi lelaki tua sebelum kehadiran obat penghenti penuaan. Super-anti-gerasone jadi solusi gundah kakek. “Setelah riset bertahun-tahun, ilmu pengobatan akhirnya berhasil mempersembahkan Super-anti-gerasone! Dalam beberapa minggu saja−ya, cuma beberapa minggu saja−Anda dapat terlihat, merasa, dan berbuat seperti cicit Anda!”

Oh, ambisi fiksi ilmiah memang gila!

Cerpen kedua, 2BR02BR, membawa babak baru. Vonnegut menulis, “semua baik-baik saja. Tak ada penjara, tak ada kampung kumuh, tak ada rumah sakit jiwa, tak ada orang cacat, tak ada kemiskinan, tak ada perang. Seluruh penyakit sudah ditaklukkan. Begitu pula usia tua.”

Sekilas, kita merasa masuk ke semesta fiksi yang sama dengan di cerpen Perjalanan Nun Jauh ke Atas Sana. Kalimat berikutnyalah yang menyadarkan kita ada babak baru di cerpen ini, “kematian, kecuali bila disebabkan oleh kecelakaan, adalah petualangan bagi yang sukarela menginginkannya.” Jika di semesta dan zaman kita bunuh diri masih tabu, di semesta Vonnegut “bunuh diri” justru satu-satunya jalan menuju kematian.

“Anda punya masalah? Tinggal gunakan saja telepon Anda. Panggilan Anda dapat menyelesaikan masalah apa saja−dengan satu cara yang sama!” Solusi masalah hidup itu kematian, hanya kematian. Menuju kematian ditempuh dengan menghubungi pihak berwenang yang Vonnegut namai Federal Bureau of Termination. Metode mematikan di semesta fiksi Vonnegut sama sekali tidak mengada-ada, alias bukan sesuatu yang tak terbayangkan oleh kita. Metode itu pernah dipraktikkan Nazi, dan menjadi aib sejarah sebagai salah satu genosida terbesar di dunia. Membaca Vonnegut, kita cemas, jangan-jangan apa yang kejam di masa silam bakal jadi jalan keluar mengatasi overpopulasi di masa depan?


Udji Kayang Aditya Supriyanto
Pembaca buku dan pengelola "Bukulah!"
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara