Bagaimana sosok Albert Camus di mata Orhan Pamuk? Bukan hanya menjawab pertanyaan itu, dalam tulisan singkatnya ini Pamuk juga mengisahkan pertemuannya dengan karya-karya filsuf sekaligus peraih Nobel Sastra tahun 1957 ini: melalui ayahnya.

SEIRING BERJALANNYA WAKTU, kita tak bisa mengingat kapan kita membaca para penulis tanpa mengaitkannya dengan pandangan kita terhadap dunia pada saat pertama kali kita membaca mereka dan menghadirkan kembali kerinduan yang belum terpenuhi dalam diri kita. Ketika kita merasa terikat dengan seorang penulis, hal tersebut bukan hanya karena dia telah membawa kita ke dunia yang terus-terusan menghantui kita, namun juga karena dia sampai pada tataran tertentu telah membentuk adanya kita.

Camus, sebagaimana Dostoyevsky dan Borges, bagi saya adalah jenis penulis seperti ini. Prosa yang dihasilkan oleh penulis seperti ini akan mengantar seseorang ke dalam lanskap yang menunggu untuk diisi dengan pemahaman, anjuran, yang tak lain karena sebuah literatur yang mempunyai desain metafisik—sebagaimana hidup—mempunyai kemungkinan yang tak terbatas. Penulis-penulis seperti ini, yang apabila anda baca dalam usia muda dan cukup optimis, akan menginspirasi anda untuk juga mulai menulis buku.

Saya membaca Camus pada suatu waktu sebelum saya membaca Dostoyevsky dan Borges, pada saat saya berusia delapan belas tahun, karena pengaruh ayah saya yang seorang insinyur sipil. Pada tahun 50-an, ketika Gallimard menerbitkan buku-buku Camus, Ayah saya akan memesan buku-buku tersebut untuk dikirimkan ke Istanbul apabila beliau tidak sedang di Paris dan membelinya sendiri.

Setelah membaca buku-buku tersebut dengan seksama, Ayah saya pun menikmati mendiskusikannya. Walaupun beliau sudah berulang kali mencoba menjelaskan filsafat absurditas dengan bahasa yang bisa saya mengerti, baru setelah beberapa saat saya akhirnya memahami kenapa hal ini begitu berarti bagi beliau: filsafat tersebut datang kepada kami tidak dari kota-kota megah di Barat; atau dari interior pelbagai monumen dan rumah-rumah mereka yang dramatis; namun dari dunia yang sebagian modern, sebagian Muslim, sebagian Mediteranian, sebagaimana dunia kami.

Lanskap tempat Camus menggambarkan The Stranger, The Plague, dan banyak cerita pendeknya merupakan gambaran lanskap masa kecilnya; dan gambaran detail dan penuh kasihnya atas jalanan dan taman yang diterangi matahari tidak berada di dunia Timur maupun Barat. Sebagian juga disebabkan oleh posisi Camus sebagai legenda sastra: Ayah saya sama terpikatnya atas fakta ketenaran serta berita kematian cepatnya, ketika dia masih begitu muda dan tampan, dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, yang karenanya oleh media massa hanya mampu digambarkan dengan satu kata: absurd.

Sebagaimana orang lain, Ayah saya menemukan semangat muda dalam prosa-prosa Camus. Saya pun masih merasakannya, walaupun frasa tersebut kini memberikan refleksi yang lebih dalam dibanding umur maupun rupa penulisnya.

Ketika membaca kembali karyanya kini, saya merasa seakan-akan Eropa yang dituliskan oleh Camus adalah tempat yang masih muda, di mana segalanya bisa terjadi. Seolah-olah budayanya belum meletik; seolah-olah Anda berkontemplasi tentang dunia materi yang hampir bisa Anda lihat intinya. Hal ini bisa saja mewakili optimisme pasca-perang, di mana Prancis sebagai pemenang mulai meletakkan pengaruhnya pada budaya dan khususnya sastra dunia.

Bagi para intelektual yang berasal dari dunia lain, Prancis pasca-perang merupakan bentuk ideal yang tidak mungkin, tidak hanya atas sastranya, namun juga sejarahnya. Saat ini kita bisa melihat dengan lebih jelas bahwa superioritas budaya Prancis-lah yang telah memberikan tempat begitu penting bagi eksistensialisme dan filsafat absurditas pada sastra tahun 1950-an, tidak hanya di Eropa namun juga di Amerika dan negara-negara bukan-Barat.

Optimisme masa muda macam inilah yang membuat Camus dapat melihat pembunuhan semena-mena seorang Arab oleh tokoh utama The Stranger yang berkewarganegaraan Prancis sebagai permasalahan filosofis alih-alih kolonial. Sehingga ketika seorang penulis brilian lulusan fakultas filsafat berbicara tentang seorang misionaris yang marah, atau seorang artis yang berselimut ketenaran, atau seorang lelaki payah yang merakit sepeda, atau seorang pria yang pergi ke pantai dengan kekasihnya, Ia mampu berpilin dalam perihal metafisika yang mempesona dan menggerakkan.

Dalam semua cerita ini, Ia menyusun kembali detail-detail kehidupan yang biasa sebagaimana seorang ahli alkimia mengubah logam dasarnya menjadi tatahan (di Indonesia, seperti keris atau aksesoris atau perhiasan yang dibentuk dari logam—penj) prosa-prosa filosofis. Dalam aras ini, di sepanjang sejarah panjang novel-novel filsafat Prancis, sebagaimana pula Diderot, Camus berada.

Keistimewaan Camus terletak pada kelihaiannya dalam memadukan tradisi tadi—yang bergantung pada kritik cerdasnya yang tajam dan menarik serta suaranya yang cenderung otoritatif dan sedikit terlalu menggurui—dengan menggunakan kalimat-kalimat pendek ala Hemingway serta narasi yang realistis. Walaupun jenis-jenis tulisan ini sering diidentikkan kepada penulis cerita pendek filosofis macam Poe dan Borges, namun cerita-cerita tersebut berhutang vitalitas, warna, serta atmosfer mereka kepada Camus sang novelis deskriptif.

Para pembaca mau tidak mau akan dibangunkan oleh dua hal: jarak antara Camus dan subjeknya serta pola narasinya yang lembut terasa hampir seperti bisikan. Seolah-olah Camus tidak dapat memutuskan apakah ia ingin membawa pembacanya lebih dalam kepada cerita dan berakhir meninggalkan kita terbelah di antara kecemasan filosofis sang penulis dan teks itu sendiri. Hal tersebut bisa jadi merupakan refleksi dari masalah yang menghantui dan menghancurkan Camus pada masa-masa akhir hidupnya.

Sebagian pembaca merasa bahwa Camus secara sadar dalam paragraf pembuka “The Mute” mengarahkan pembaca kepada masalah penuaan. Pada kisah lainnya, “The Artist at Work”, kita dapat merasakan bahwa Camus pada akhir usianya hidup terlalu intens dan sangat terbebani oleh ketenaran. Namun terlihat jelas hal yang paling menghancurkan Camus adalah Perang Algeria.

Sebagai seorang Algeria berkebangsaan Prancis, Camus terjepit di antara cintanya kepada dunia Mediterania-nya dengan pengabdiannya kepada Prancis. Di mana walaupun dia sepenuhnya mengerti alasan dari kemarahan anti penjajahan dan pemberontakan penuh kekerasan yang dihasilkan kemarahan tersebut, tetap saja dia tidak bisa mengambil posisi melawan Prancis sebagaimana yang dilakukan Sartre, karena adanya kenyataan bahwa teman-teman Prancisnya terbunuh oleh bom-bom orang Arab—atau “para teroris”, sebagaimana demikianlah pers Prancis menyebut mereka—yang menuntut kemerdekaan.

Karena itu, Camus memilih untuk tidak mengatakan apapun. Dalam sebuah esai yang menyentuh dan penuh kasih yang ditulisnya setelah kematian kawan lamanya itu, Sartre mengeksplorasi permasalahan mendalam yang disembunyikan Camus dalam diam yang dipilihnya.

Dituntut untuk memihak, Camus malahan memilih untuk mengeksplorasi neraka psikologisnya dalam “The Guest”. Kisah politis yang sempurna ini memotret politik tidak sebagai sesuatu yang kita pilih dengan penuh keinginan untuk diri kita sendiri namun sebagai kecelakaan tak menyenangkan di mana kita diwajibkan untuk menerimanya begitu saja. Setiap orang pastinya merasa sukar untuk tak setuju dengan karakterisasi tersebut.

 

Catatan:

Esai singkat ini diterjemahkan oleh Lailly Prihatiningtyas dari Other Colors: Essays and a Story, sebuah buku yang, sebagaimana dikatakan oleh penulisnya, Orhan Pamuk, tersusun dari gagasan, gambaran, dan fragmen-fragmen kehidupan yang masih belum menemukan tempatnya dalam novel-novel dia.

Orhan Pamuk sendiri adalah seorang novelis terkemuka kelahiran Istanbul, Turki, yang meraih Nobel Sastra tahun 2006. Novel-novelnya dikenal memiliki alur yang cenderung rumit dan memikat serta penokohan yang kuat. Beberapa karyanya yang sudah hadir dalam bentuk terjemahan bahasa Indonesia adalah Istanbul: Kenangan Sebuah Kota, Kehidupan Baru, Di Balik Keheningan Salju, Istana Putih, dan Namaku Merah Kirmizi.     

 


Kredit Gambar : Manuel Litran/Paris Match via Getty Images
Lailly Prihatiningtyas
Lailly Prihatiningtyas adalah mahasiswa pascasarjana di STF Driyakarya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara