31 Oct 2016 Cep Subhan KM Sosok

Akutagawa Ryunosuke adalah Bapak Cerita Pendek Jepang yang mati muda. Karyanya pernah difilmkan Akira Kurosawa dan namanya diabadikan sebagai nama satu penghargaan sastra paling bergengsi di Jepang.

TOKYO, 24 JULI 1927.

Laki-laki berusia 35 tahun itu mengingat percobaan bunuh dirinya yang gagal beberapa waktu yang lalu. Dia mungkin tersenyum mengingat Fuku, ibu kandungnya, satu di antara tiga wanita yang sudah menjadi “ibu” baginya. Sekitarnya hening dini hari, didengarnya sekilas bisikan angin, bunyi khas gerak daun bambu yang dulu sering dilihatnya dari tengah jembatan Kyubashi, di belakangnya tak ada siapa-siapa tapi dirasakannya usapan halus bibinya di rambutnya, ibu kedua baginya.

Bagi laki-laki itu, Tokyo selalu indah, meski kota-kota lain di belahan bumi manapun sama indahnya, termasuk kota-kota di Barat. Lalu matanya sekilas menangkap lanskap Verona dari sisi yang entah, dan dia menunduk memandang Injil yang dipegang tangannya sebelum kemudian dia menoleh ke meja tempat botol yang sudah sangat akrab dengannya tergeletak, dia mungkin kembali tersenyum sambil membaca tulisan yang tertera di sana, Veronal...

Hari itu, Akutagawa Ryunosuke, laki-laki yang baru empat bulan menginjak usianya yang ke-35 itu mati bunuh diri menenggak obat tidur Veronal yang sudah dia konsumsi lama untuk menangani insomnia.

Penyebab bunuh dirinya sederhana: dia selalu memiliki kekuatiran mewarisi gangguan mental dari ibu kandungnya, dan dia merasakan “kegelisahan yang tidak jelas” tentang masa depannya. Halusinasi visual merupakan hal yang kerap mengganggunya di akhir hidupnya, setelah melakukan satu kali percobaan bunuh diri yang gagal, kali kedua dia berhasil.

Akutagawa Ryunosuke meninggal pada usia 35 tahun, tapi orang mengenang laki-laki yang mati muda ini sebagai “Bapak Cerita Pendek Jepang”. Dalam tiga belas tahun kepenulisannya dia sudah menghasilkan lebih dari 150 cerita pendek. Jumlah yang sangat besar yang mengantarkannya pada gelar tersebut.

Rekam jejaknya dalam dunia sastra memang tak biasa: ia mulai menulis haiku dan membaca sastra kontemporer Jepang saat usianya 9 tahun, berkenalan dengan sastra Inggris enam tahun setelahnya, menjadi murid Soseki delapan tahun setelahnya—debutnya dimulai setelah Soseki memuji cerpen satirnya, Hana (hidung).

Suatu hari, Akutagawa juga pernah berdebat panjang dengan Tanizaki Junichiro tentang pentingnya alur dalam fiksi. Sementara Akutagawa berpendapat bahwa cara bagaimana sebuah cerita lebih penting daripada konten atau alur cerita, Tanizaki berpendapat sebaliknya.

Karena lahir dari garis keturunan samurai minor, keluarga Akutagawa bukanlah keluarga yang kaya, akan tetapi sejak lahir dia sudah dikelilingi oleh buku-buku, dan juga seni tradisional Jepang. Latar belakang pendidikannya kemudian nampaknya membuat Akutagawa memiliki pandangan yang toleran terhadap dua kultur yang seringkali dianggap sebagai dua sisi yang bertentangan oleh penulis Jepang yang lain: kultur Jepang dan kultur Barat.

Akutagawa lulus dari Tokyo Imperial University dengan tesis tentang William Morris, seorang sastrawan Inggris yang terkenal karena jasanya mengukuhkan genre fiksi fantasi modern. Salah satu novel Akutagawa, Kappa, yang sering dianggap sebagai awakaryanya, adalah sebuah contoh yang sangat pas tentang bagaimana dia menggarap fiksi fantasi modern dengan sekaligus mengkritik kondisi sosial pada masanya: jejak yang nampaknya dia pelajari sedikit banyak dari Morris.

Pada satu titik, karya-karya Akutagawa adalah karya “klasik”, term yang dalam dunia sastra digunakan bukan untuk menyebut karya-karya yang lahir pada zaman yang sudah lama lewat melainkan karya-karya yang selalu relevan untuk dibaca kapan saja, karya-karya yang wajib baca terutama bagi mereka yang menekuni sastra, karya-karya yang tak tersentuh waktu. Dalam pengantar terjemahan bahasa Inggris kumpulan cerpen Akutagawa Rashomon and Seventeen Other Stories, Murakami Haruki, yang juga merupakan salah satu sastrawan besar Jepang menyebut bahwa membaca cerpen Akutagawa yang ditulis saat dia berusia 23 tahun dia menemukan kesan seolah penulisnya adalah penulis kawakan.

Dengan kata lain, Akutagawa adalah penulis yang matang di usianya yang masih muda. Bisa ada banyak analisis tentang penyebab hal itu, akan tetapi perjalanan hidupnya yang sejak kecil tak lempang mungkin menjadi salah satunya: ibunya terkena gangguan mental tak lama setelah melahirkannya, di sekolah dasar konon dia termasuk anak lemah, secara fisik, meskipun Ryunosuke artinya adalah putra naga--di satu sisi sebagai pertanda penanggalan yang menaungi kelahirannya, dan di sisi lain memberikan kesan gagah--dan dia menjadi bahan gangguan teman-temannya.     

Di kemudian hari karya-karya anak yang lemah ini menemukan popularitasnya sampai-sampai karyanya difilmkan oleh Akira Kurosawa, tokoh besar dalam dunia perfilman, dengan judul Rashomon. Film itu sendiri diangkat dari cerita pendek Akutagawa berjudul Yabu no naka (Pada Sebuah Hutan Kecil, atau dalam versi terjemahan Inggris bisa ditemukan dengan judul In a Bamboo Grove) sementara beberapa detail dari cerita pendek Rashomon hanya diambil untuk pengambilan gambar.

Dalam komentarnya atas terjemahan Bahasa Indonesia karya Akutagawa, Jacob Sumardjo mengatakan bahwa dia menemukan kesan gaya bercerita Akutagawa yang injili: kalimat-kalimat yang sederhana dan pendek, tetapi kaya akan makna. Hal itu mungkin bisa menjelaskan juga kenapa setahun sebelum meninggal Akutagawa menunjukkan ketertarikan pada Injil dan membacanya dengan seksama, terutama ketika penjelasan yang lain misalnya bahwa dia menunjukkan ketertarikan pada tuhan sama sekali termentahkan: Akutagawa tak bisa percaya pada sesuatu yang berkaitan dengan ketuhanan.

Tokyo, 24 Juli 1927, dini hari. Seorang penulis besar dunia meninggal dalam usia 35 tahun. Pada tahun 1935, satu penghargaan sastra paling bergengsi di Jepang dimulai dengan menasbihkan namanya: Akutagawa Ryunosuke Sho. Hadiah itu diberikan dua kali dalam tiap tahunnya, bulan Januari dan bulan Juli untuk kategori prosa, untuk penulis-penulis pemula yang menampakkan masa depan karya sastra yang menjanjikan.

Tak ada gunanya memang berandai-andai, akan tetapi andai dia mengetahui hal itu, mungkin Akutagawa akan tersenyum, mungkin dia tak perlu mengakhiri hidupnya sambil berkata sedih: aku merasakan kegelisahan yang tak jelas tentang masa depanku. Dunia telah menciptakan masa depan sendiri untuknya.  


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara