Rabu, 4 Oktober 2017 penyair Indrian Koto membacakan orasi di panggung Kampung Buku Jogja 3 tentang sastra dan komunitas. Dengan narasi yang apik, sang penyair mendedah persentuhannya dengan dunia sastra, penerbit indie dan pelapak buku.

Asalamualaikum w.w.

Kawan-kawan dan para hadirin yang saya hormati,

Saya berasal dari desa kecil di sebuah kabupaten tertinggal di pesisir bagian selatan  kota Padang. Dari kota provinsi perjalanan naik turun bukit dengan pantai di bagian barat, gunung di bagian timur. Jalan satu-satunya yang menghubungkan kabupaten kami dengan kota provinsi di utara, Jambi dan Bengkulu di bagian selatan. Jalan kecil yang membelah kampung kami disebut jalan Lintas Barat. Berlubang, sempit dan diperbaiki menjelang lebaran. Di kilometer 120 dari jalur hampir sejauh 240 km inilah saya tinggal. Rumah saya di pinggir jalan raya, menghadap pantai, sawah dan pegunungan di bagian belakang.

Di tengah ruang demografis semacam itu perhatian kami terhadap bacaan sangat terbatas. Aksesnya apalagi. Koran ada, hanya diantar ke kantor-kantor pemerintah. Saya sudah menyukai buku sejak kecil. Hari minggu, adalah hari pasar di kampung kami, saya selalu berharap bisa ke pasar untuk membeli majalah. Satu-satunya gerai buku di dua kecamatan di daerah kami. Saya pernah punya koleksi buku satu lemari kayu, yang dikumpulkan sendiri yang menjadi referensi pula bagi teman-teman sekampung saya, terutama remaja putri.

Saya membayangkan suatu saat nanti saya akan memiliki sebuah perpustakaan.

Pada awal Maret 2004, saya dijemput dari rumah oleh almarhum mamak saya dengan satu kalimat perintah, “Kamu berangkat ke Jogja malam ini.” Ini merupakan momen kehilangan kedua dalam hidup saya, sekaligus menjadi rahim bagi kelahiran saya berikutnya. Dengan menumpang truk mamak saya yang lain, saya sampai di Jawa. Beberapa hari kemudian naik kereta api, menuju kelahiran baru saya: Yogyakarta

*

Kawan-kawan yang luar biasa,

Masa-masa awal saya di Jogja, saya hanyalah seorang anak muda lulusan SMA yang menulis ulang tulisan-tulisan remaja saya berupa cerpen dan puisi. Saya tinggal di Sewon yang sekaligus sebuah komunitas sastra dan teater bernama Rumahlebah. Proses belajar yang menyenangkan, saya memiliki banyak asupan buku, menulis ulang tulisan-tulisan lama saya dengan memberi perspektif baru, datang ke acara sastra dan berkumpul dengan kawan-kawan penulis maupun calon penulis.

Masa-masa belajar awal saya di Jogja saya sama sekali tidak mengerti bagaimana sastra diproduksi, diedarkan ke pasar. Shopping masihlah sekumpulan toko buku yang menjual banyak makalah dan diburu oleh para mahasiswa. Yang saya tahu, masa-masa itu sedang menjamurnya chicklit dan teenlit, dan ramainya para seleb menulis lalu disusul sastra religius. Masa awal saya di Jogja adalah masa di mana segala macam isu sastra juga sedang panas-panasnya. Tren sastra jerawat, sastra perempuan, sastra wangi, sastra lendir sampai sastra kelamin. Perputaran gosip semacam itu menarik betul minat saya.

Masa-masa awal saya di Jogja sepenuhnya ketakjuban. Saya mencatat banyak nama penulis sastra yang saya temui di bulan-bulan awal, baik yang namanya saya kenal maupun tidak, baik karyanya pernah saya baca atau tidak. Nama-nama itu berurutan di buku catatan saya sejak dari Sunlie Thomas Alexander, Ibed Surgana Yuga, Zen Hae, Joni Ariadinata, Dina Oktaviani, Gunawan Maryanto, Faisal Kamandobat, Saut Situmorang, Evi Idawati,  dan sebagainya dan sebagainya.

Saya hadir di tengah semaraknya karya-karya ‘kontroversial’ seperti Garis Tepi Seorang Lesbian milk Herlinatiens, hebohnya Jakarta Undercover, sampai diburunya Muhidin M Dahlan gara-gara novelnya yang terus dicetak ulang hingga sekarang itu: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur.

Ingatan lain saya pada periode itu adalah kabar tentang Mas Buldan—yang entah siapa—bos sebuah penerbit yang hobi memfoto para penulis. Lalu soal penerbit Bentang Budaya bangkrut. Konon, Mas Buldan diburu, seperti juga Gus Muh, dengan perkara yang berbeda. Saya tak tahu, apakah darah keduanya ketika itu sama halalnya.

Kawan-kawan yang berbahagia,

Tahun-tahun pertama saya di Jogja saya mengagumi banyak nama, mengagumi banyak tempat. Saya mendengar riuhnya aktivitas mahasiswa dan dunia perbukuan yang mereka hidupkan. Saya mengenal penerbit Jendela, Mahatari, Logung (saya tidak tahu sampai kini siapakah di belakang nama ini), Indonesia tera, Majalah On/Off dan AKY, dan sebagainya. Saya seperti semut di antara para gajah. Masa itu terjadi Cantik Itu Luka masih rajin diresensi. Diva Press adalah penerbit dengan lambang bintang warna merah, yang juga tumbuh bersama fenomena Sastra pesantren. Saya pernah ikut membantu teman meminjam buku-buku Diva dari kantornya dekat Blandongan sana, untuk dibawa pameran ke satu-dua kota.

Masa itu, saya adalah calon cerpenis dan penyair yang diharapkan bangsa ini. Berlagak, berlaku, berpenampilan layaknya calon penyair pada masa itu. Berantakan betul. Ya penampilan, ya kantong. Militan dan komunal. Ini yang mungkin pernah menjadi karakter para penulis muda di kota ini. Saya, atau mungkin satu generasi di bawah saya menyelesaikan mitos ini. Setidaknya lahirnya Komunitas Rawa-Rawa sebagai senjakala komunitas sastra. Kehadiran anak-anak muda ini sekaligus menghapus gaya hidup rusak-rusakan. Mereka lebih tampak seperti boyband ketimbang penyair. Tak banyak lagi calon penulis hari ini dengan penampilan semengibakan itu. Hari ini ini, mereka tumbuh sendiri-sendiri, tidak perlu berebutan komputer, akses jauh lebih terbuka ke mana dan siapa saja. Tiap generasi pastilah punya peristiwanya sendiri-sendiri, punya problemnya sendiri-sendiri. Dan komunitas sastra tidak bisa sepenuhnya mati.

Pada akhirnya, saya hanyalah calon penulis yang tergagap dengan pergaulan, memilih kuliah di UIN. Selain masalah biaya, tidak percaya diri, sulit bergaul, saya punya alasan yang sangat ideologis-eksistensialis, dan kau-boleh-tidak-percaya: jika saya kuliah di tempat lain, saya takut nanti bisa pindah agama.

Saya hanyalah satu dari anak muda dari sekian banyak anak-anak muda lainnya yang datang dari barat, utara dan timur pulau Jawa.  Saya masih beraktivitas di Rumahlebah, salah menduga Nirwan Ahmad Arsuka sebagai Nirwan Dewanto, ikut pengajian di Komunitas Kutub di Krapyak, sesekali ikut meratap ketika ada muhasabah.

Di Kutub ini berkumpul sekian penulis dengan keahlian masing-masing. Mulai dari penulis puisi, cerpen, esai, opini, resensi, sampai Sungguh-sungguh Terjadi, rata-rata mereka bisa menguasai semuanya. Bahkan Sindo, Seputar Indonesia, koran baru yang sekian waktu tidak punya halaman sastra, diberondong puisi dan cerpen setiap minggu lewat disket bervirus mereka, akhirnya menyerah. Di minggu pagi yang cerah, terbitlah puisi dan cerpen dari Komunitas Kutub di Koran Sindo yang konten Ekonominya lebih terasa.

Kutub adalah kunci. Pesantren iya, komunitas sastra iya, penerbit juga, usaha perdagangan iya juga. Saya banyak makan-minum secara militan di sini, menghajar rokok kawan-kawan di sana, pulang setelah bisik-bisik pinjam uang sambil nunggu honor turun dari koran A atau B. Saya nyaris tidak pernah tercatat sebagai bagian dari mereka. Mungkin di sana, saya sekadar bikin rusuh belaka.

*

Kawan-kawan pemborong buku yang semoga kantongnya selalu tebal,

Masa-masa awal saya di Jogja, saya hanya mengenal Akar Indonesia sebagai satu-satunya penerbit di Jogja. Di penerbit Akar inilah saya belajar menjual buku, belajar melayout untuk Jurnal Cerpen Indonesia lalu buku puisi rumahlebah. Meski nama-nama penerbit  di atas tadi saya pernah dengar, mereka adalah tempat yang jauh. Utara. Gejayan. Saya masihlah cah mBantul yang terkagum-kagum dengan catatan editorial on/off yang seringkali ditulis dengan dramatik oleh Puthut EA.

Hingga tahun 2006 ketika saya pindah ke utara, saya masihlah seorang gelandangan yang sok gagah menjaga iman kepenyairan saya. Gelandangan nyaris dalam arti sesungguhnya. Namun, karena bertemu dengan banyak orang-orang istimewa, seringkali hidup saya terselamatkan. Begitulah Jogja, mendekatkan saya pada buku dan sastra, terkagum padanya, lalu terlibat dan menjadi bagian di dalamnya.

Kawan-kawan yang semoga selalu bahagia,

Saya beruntung mengenal seorang pedagang buku di depan kampus ISI yang menggelar banyak sekali buku-buku, terutama terbitan Bentang Budaya. Dari beliau saya dipercaya sebagian barang dagangannya untuk saya angkut ke daerah di sekitar bandara yang menjadi tempat kuliah saya. Di waktu istirahat dan sisa waktu kuliah saya membuka lapak buku yang kesemua barang jualan saya boleh dibaca.

Masa-masa awal saya kuliah adalah perihal membawa ransel besar berisi buku jualan, mendayung sepeda dari Sewon, menuju jalan Adi Sucipto. Saya tampak demikian gagah, sekaligus berantakan dengan semangat menyala-nyala. Boleh buku tidak laku, tapi membaca tak kenal waktu. Lapak saya sekaligus menjadi ruang baca.

Di antara barang dagangan saya menambahkan buku-buku yang berkaitan dengan perkuliahan dengan harapan semakin besar minat pembaca. Saya mulai mengkampanyekan menyumbang 1 buku, membaca ratusan buku. Idenya sederhana, ada dua fakultas di kampus saya. Kalau satu orang menyumbangkan satu buku alangkah banyaknya buku yang terkumpul dan bisa dibaca bersama-sama.

Dua orang teman kelas menyumbangkan buku, dan memang hanya mereka. Fakultas menyumbangkan tikar untuk gelaran buku saya, dan bu Dekan, istri almarhum Pak Kuntowijoyo, menyumbangkan belasan buku foto kopian, karya-karya pak Kunto. Di tahun pertama, majalah fakultas kami terbit. Bonusnya, lapak buku saya, sekaligus perpustakaan yang saya gadang-gadang itu dimuat di sana dengan tambahan catatan: hasil dari prestasi fakultas membuatkan ruang alternatif bagi para mahasiswanya.

Besoknya, tikar saya kembalikan, buku Pak Kunto saya bagi-bagi,  buku-buku saya yang sudah boleh ditumpangkan di ruang fakultas, saya angkut dengan sepeda. Perpustakaan umum pertama saya langsung gulung tikar. Terhadap media yang menulis prestasi kampus ini, saya balas dengan membuat majalah dinding isinya selebaran-selebaran, sindiran, kemarahan saya dan beberapa kawan yang boleh jadi mereka menulisnya setengah terpaksa karena terus-terusan saya panasi.

Perpustakaan saya hancur, usaha bisnis buku saya gagal lebih awal.

*

Kawan-kawan yang, tolong, jangan bubar dulu,

Di luar kampus, saya orang yang rajin mendatangi acara sastra dan sesempat-sempatnya membuka lapak buku di sana. Kedai Kebun cukup rajin menggarap acara-acara sastra dan pertunjukan ketika itu. Saya terlibat di Puisi Pro, ajang baca puisi di radio dan beberapa kegiatan-kegiatan awal di Studio pertunjukan Sastra. Di dua ruang itu saya belajar banyak pada almarhum Hari Leo dan Cak Kandar. Event yang saya kira cukup gagah ketika saya menjadi kurator untuk penyair muda dengan tajuk Panggung Penyair Muda Jogja, dan itulah yang menjadi titik pertama acara yang kami bikin tahun berikutnya Panggung penyair Muda 4 Kota dengan komunitas baru saya Rumah Poetika.

Bersamaan dengan itu saya dipanggil oleh seorang kesohor yang darahnya sempat halal untuk ditumpahkan: Muhidin M Dahlan. Saya diajak An Ismanto, dedengkotnya Sarkem UNY. Kerja pertama kami menulis ulang dongeng nusantara, jauh sebelum  hingga Indonesia Buku berdiri gagah di Patehan yang kelak juga melahirkan Radiobuku yang fenomenal itu.

Beberapa kegiatan bersama di Komunitas Rumah Poetika menyadarkan saya, saya bukanlah orang yang sepenuhnya bisa melakukan hal bersama orang lain. Cara kerja saya spontan, sementara komunitas menuntut pembahasan ini-itu. Gejolak saya terhadap buku dan pergaulan kecil-kecilan saya dengan para penulis membuat saya mesti punya ruang yang lain. Lalu berdirilah MK Art Syndicate yang khusus menyelenggarakan acara-acara sastra, baik pembacaan karya, maupun diskusi buku. Membantu teman, istilahnya. Anggotanya saya dan Mutia Sukma.  Di  event itu kami bebas membuka lapak buku. Dari lapak inilah sewa tempat, uang kebersihan, minum dan jajan, uangnya dikucurkan.

Saya membayangkan sebuah tempat di mana saya bebas punya acara sastra dan bebas pula menggelar barang dagangan saya.

Masa-masa itu Faiz adalah editor sibuk dan Irwan bajang masilah anak muda galau yang bercita-cita besar menjadi Habiburahman. Dia masihlah berambisi menjadi penyair dan novelis, bukan pebisnis seperti sekarang. Kami sempat terlibat di kelompok pembenci sastra koran. MK Art Syndicate pernah menggelar diskusi buku beliau sebagai penghormatan antar sesama penulis muda.

Dari acara-acara MK Art tadi, kos saya jad tempat penitipan buku. Kawan-kawan daerah yang bukunya didiskusikan meminta saya menjualkan di acara yang lain. Setiap acara barang dagangan saya semakin banyak. Dan entah dari mana mulanya, buku-buku pribadi, buku jualan, berdempetan dengan teman-teman yang numpang tidur, dan para pembeli buku yang tiba-tiba datang ke kamar saya. Sebut saja, salah satunya Eka Keong atau Eka Pocer, yang terus-terusan merengek meminta buku Kastil Angin Menderu Joni Ariadinata saya jual untuknya. Pojok Cerpen belumlah menjadi sebesar sekarang dengan aneka rupa bisnis perbukuannya.

*

Kawan-kawan yang saya hormati,

Saya beruntung, ketika saya mau menyetorkan hasil penjualan buku seorang kawan, ia menolak. “Kamu sudah kirim alfatehah untukku, jadi uang tu untukmu saja.” Sufi betul dia. Dengan uang hasil laporan yang disumbangkan itu, sekira 160 ribu, dan nyaris satu-satunya modal awal, saya datang ke pameran Gramedia, membeli beberapa buku sastra dan menge-share pertama kalinya di Facebook. Itu hari pertama saya merasa hidup sebagai pedagang buku sastra.

Mengingat semakin banyaknya buku di kamar saya, per 24 agustus 2011 memposting buku dagangan di sebuah blog yang secara jujur dan asal-asalan saya kasih nama jualbukusastra.com yang lalu sering disingkat jadi JBS saja.

Kawan-kawan yang baik hatinya,

Periode awal usaha, dan umumnya orang yang memulai sesuatu dari nol, JBS adalah jalan lain untuk bertahan hidup. Saya perantau, mahasiswa yang tidak menerima kiriman uang dari kampung, harus mencari sesuatu untuk bisa hidup. Saya menulis puisi dan cerpen sekaligus berjualan buku.

Fase berikutnya barulah misi-misi ideologis itu tumbuh dan terus berkembang, bahwa saya tidak hanya sekedar berdagang buku untuk bertahan hidup, tapi ada banyak alasan-alasan logis lain yang membuat saya betah. Sejak awal saya ingin menjual buku-buku sastra yang benar-benar tidak tersedia di toko buku. Punya resiko memang, namun begitu buku dan sastra adalah dunia yang mesti terus saya perjuangkan.

Masa-masa JBS hadir, belum banyak toko online kecil yang memasarkan buku dengan pola begini.  Sejak awal kami tidak menjual buku sastra yang ramai di pasaran. Niat kami menjual buku bagus, bukan buku laris, saya kutip Olih sebagai penghiburan atas banyaknya tagihan yang datang setiap bulan. JBS masih perlu menata banyak hal, termasuk urusan finansial.

Secara pribadi, saya tidak punya ambisi melawan jaringan toko buku besar. Kami tetap merekomendasikan pembaca untuk datang ke toko buku. Buku-buku sastra baru dari penerbit mayor, kami jarang stok. Buku tersebut banyak di toko buku di tiap kota. Orang bisa datang ke sana untuk belanja dan mungkin membeli buku yang lain. Saya tidak anti, meski tidak selalu sepakat, dengan buku-buku laris yang ada di pasaran. Dalam dunia literasi, buku dan penulis ini adalah pintu masuk pembaca untuk mengenali bacaan lain. Tingkatnya juga akan beragam.

Sejak awal JBS ini ruang alternatif, pilihan kesekian jika toko buku sudah tidak punya buku dari penulis tertentu. Karena ini basisnya komunitas, para pembaca sastra, saya secara pribadi juga menyeleksi buku-buku yang masuk. Buku-buku yang layak menurut saya.

Toko buku offline kami sekaligus rumah tinggal. Tempat ini terbuka untuk dikunjungi. Kawan-kawan yang datang ke sini juga dengan berbagai keperluan, mulai soal beli buku, atau lebih sering ngopi-ngopi sambil. Beberapa waktu sekali kami bikin kegiatan di halaman rumah sore hari. Setahun sekali kami ada pameran kecil dengan fokus ke diskusi dan launching buku. Namanya #tahunbarudijbs diadakan akhir Desember hingga awal Januari. Tahun ini jika lancar memasuki yang keempat.

Saya kira pasar buku Online sekaligus minat baca saat ini terus meningkat. Makin banyak pedagang baru yang bermunculan. Pembaca buku sastra semakin banyak. Peluang untuk menerbitkan buku dan menjual buku cukup besar. Meski sekali lagi, skala pasar ini tidak besar irisannya dalam ranah bisnis perbukuan. Toko buku alternatif juga terus tumbuh, punya basisnya sendiri, punya kegiatan dan acara yang bagus. Ada banyak pameran buku alternatif di beberapa kota yang dikelola oleh teman-teman sendiri, baik sekadar lapak maupun event yang terencana semacam Kampung Buku Yogya ini.

Kawan-kawan yang luar biasa,

Malam ini, saya berdiri di sini, di hadapan saudara-saudara semua, sebagai perwakilan dari kawan-kawan pelapak buku yang mencintai pekerjaan ini sepenuh hati. Tidak penting benar apa yang saya tuliskan dan saya bacakan ini, tidak pula terlalu penting lagi, saya atau siapa pun yang malam ini berdiri di sini, membacakan biografinya. Yang pasti, malam ini kita tak hanya merayakan buku, tetapi juga merayakan mereka yang berada di belakang itu semua. Beruntungkah kalian, wahai pekerja buku. Lihatlah, betapa meriahnya dunia perbukuan kita, betapa ramainya penerbit yang muncul, betapa banyaknya pedagang buku yang berkumpul dalam satu momen. Sangat puitik, sangat puitik.

Dunia terus bergerak, Bentang boleh ganti pemilik tetapi tetap lahir Mata Angin dan Mata Bangsa. Jendela boleh berganti rupa, tetapi melahirkan Octopus yang tak kalah kerennya. Ada Diva Press yang melahirkan Basa-basi, ada Media Presindo dengan Narasinya, Ada Iboekoe, Mojok, OAK, IBC, Gambang, Kakatua, Interlude, Papyrus, Nyala, Kalabuku, dan puluhan nama penerbit lain yang berderet di belakangnya. Ada banyak penerbit yang lahir hari ini dengan misi masing-masing, dengan segmen tersendiri.

Inilah hari raya kita, para penerbit indie dan pelapak buku. Di luar itu semua, tentu ada kemungkinan-kemungkinan keriuhan sebagaimana yang diramalkan Mas Adhe dalam buku Declare! yang luar biasa dahsyat itu. Tugas kita setelah ini untuk duduk bersama di belakang layar untuk membicarakan hal-hal krusial seputar perkembangan perbukuan hari ini. Tentu tak sekadar duduk bersama, tetapi menghasilkan kerja bersama yang kekuatannya jauh melebihi sebuah pameran. Pembicaraan intens seputar buku apa, bagaimana hasil terjemahannya, bagaimana tampilan bukunya, kemasannya, hak cipta dan sebangsanya. Dan masa krusial itu semakin dekat, Jendral.

Hari ini bergembiralah sejenak. Biarkan pembaca memilih sendiri bacaan yang mereka suka. Tugas kita menyiapkan karya terbaik dan menyuguhkan dengan apik.

Kiranya saya cukupkan sampai di sini.

Wassalamulaikum w.w.


Indrian Koto
Sastrawan Indonesia kelahiran Sumatera Barat 1983. Kini menetap di Jogja. Buku puisi tunggalnya sudah terbit berjudul Pledoi Malin Kundang.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara