Pernah merasakan nikmatnya penantian paket buku yang sampai? Pernah mencium wangi kertas menguar dari paketan tersebut? Pengalaman semacam itu adalah hal penting yang mendorong cinta buku.

SAAT SORE memberikan keindahan alam dan berujung dengan munculnya warna indah lembayung, sungguh hanya kekaguman dan rasa syukur yang bisa saya katakan dalam hati. Setiap sore bagi kebanyakan orang mungkin bukanlah kebahagiaan, tetapi kali ini saya benar-benar jatuh dalam kekaguman senja hari. Tidak berapa lama setelah senja berlalu dari pandangan, tiba-tiba muncul seseorang yang tidak asing bagi saya, seorang kawan yang membawakan sebuah paket.

Saya bertanya padanya: “dari mana kamu dapatkan paket ini?”

Dia hanya menjawab: “tadi tukang pos menitipkan padaku untuk disampaikan kepadamu”.

Dengan perasaan sedikit penasaran bercampur kaget, saya mengucapkan terima kasih sambil bertanya-tanya dalam hati apakah gerangan isi paket ini. Saya lalu beranjak ke dalam rumah. Setelah saya buka dengan hati penasaran, maka ternampaklah  dua buah buku yang sudah lama saya nantikan. Dalam hati yang sedang bergejolak kesenangan, saya ucapkan terima kasih kepada pengirimnya.

Buku memang selalu membuat saya senang, apalagi buku yang baru datang, saat membukanya ada aroma khas kertas yang selalu membuat saya merasa tidak bosan untuk melanjutkan membuka lembar imajinasi, seiring membuka buku itu selembar demi selembar. Hal ini mengingatkan kembali memori lama, tentang seorang senior yang pernah mewawancarai atau lebih tepatnya bertanya soal perpustakaan yang saya rintis sebagai komunitas.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan ke saya waktu itu, namun ada pertanyaan yang tidak mungkin saya lupakan, yaitu soal mengapa membuat komunitas buku?

Pertanyaan ini sangat berarti karena bagi orang-orang yang menyukai buku, perpustakaan adalah rumah kedua bagi mereka.  Saya pun menjawab dengan santai bahwa “karena kita butuh tempat untuk saling bertemu dengan buku”. Kalau tidak salah seperti itu jawaban saya, dan senior saya yang bertanya tadi lantas hanya mengiyakan. Sejujurnya saya musti berterima kasih padanya, karena dia pula yang banyak mengenalkan bacaan menarik dan jarang saya temukan. Selama ini.

Lagi tentang perlu dan buku, membuat kita tidak boleh lupa ketika Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana untuk membuat perpustakaan yang anggarannya bernilai miliaran rupiah. Isu ini santer berhembus beberapa tahun lalu, padahal bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia literasi, anggaran ini sungguh sangat fantastis nilainya. Andaikan saja anggaran sebanyak itu didonasikan ke setiap daerah untuk membuat perpustakaan di setiap desa, andai saja. Padahal banyak yang bertanya, apakah masih relevan perpustakaan hari ini?

Tentu pertanyaan ini memiliki jawaban ya, masih relevan. Bahkan kalau saya tidak salah negara maju seperti Jepang membuat perpustakaan di setiap kota bahkan dengan fasilitas yang lengkap. Di Indonesia, kota yang meniru sistem ini adalah Yogyakarta. Setiap desa dibangun perpustakaan. Ketika suatu waktu saya berkunjung ke sana, memang surga buku ada di kota tersebut. Semua judul buku ada di sana, bahkan banyak pula yang dijual dengan harga diskon. Andaikata untuk kembali ke daerah asal tidak menggunakan ongkos, maka semua uang yang ada dalam saku celana akan habis untuk membeli semua buku yang saya minati.

Mencoba mengajak kita semua untuk mengecek perpustakaan yang ada di daerah ataupun yang ada dalam ruang publik, apakah bukunya lengkap? Seberapa banyak orang yang berkunjung ke perpustakaan yang memang ingin membaca? Bagaimana perawatan buku? Banyak yang mesti kita cek baik-baik, karena dari beberapa pengalaman berkunjung ke perpustakaan banyak hal-hal aneh yang ada di sana.

Meski demikian, apapun kondisinya, perpustakaan harus tetap ada, karena perpustakaan adalah sebuah ruang yang bisa memberikan kita banyak hal, jika kita yakini bahwa buku adalah jendela cakrawala pengetahuan. Beda lagi cerita dengan komunitas buku atau orang-orang yang berjuang di jalan literasi. Sebenarnya sudah banyak yang bergerak, seperti komunitas pustaka bergerak yang saya gabung di dalamnya meski hanya lewat media sosial sahaja ataupun perpustakaan kata kerja dan komunitas pondok baca yang beberapa tahun lalu saya rintis bersama dengan kawan-kawan seperjuangan.

Namun, basis komunitas seperti ini merupakan hal yang menjadi contoh nyata kegagalan pemerintah dalam hal perbukuan. Apalagi soal rencana menjadikan negeri ini sebagai negeri yang memiliki tingkat baca yang tinggi, maka tidak salah ketika UNESCO mengeluarkan data bahwa Indonesia berada di urutan terendah dalam hal aktif membaca buku.

Hal tersebut sebenarnya terlihat juga dari beberapa toko buku yang berbasis toko kecil banyak yang tutup, meskipun juga ada toko buku besar yang makin besar pula.

Saya pikir kita tidak perlu menunggu pemerintah memiliki program untuk memajukan dunia literasi Indonesia. Meskipun komunitas baca atau perpustakaan adalah gerakan alternatif, setidaknya gerakan yang kecil ini memiliki dampak di tengah masyarakat.

Membagi inspirasi, saya mengenal seseorang yang fanatik dalam membaca dan menulis pun tidak kalah fanatik, bahkan setiap buku yang habis dibaca diulasnya atau diulas kembali. Karena hal ini tidak kurang penulis mengirim buku untuknya, bahkan jumlahnya sampai ratusan buku. Semoga saja makin banyak yang menekuni hal seperti ini, sebagai gerakan positif untuk masa depan literasi Indonesia yang lebih baik lagi.

Sisa kita semua harus sadar dengan hal yang kecil ini, punya manfaat yang banyak bagi kita. Tentu perjuangan seperti ini harus ikhlas dan konsisten. Karena saya punya bayangan, jika di setiap daerah punya agenda literasi yang konsisten, maka bukan tidak mungkin minat baca akan tumbuh sampau jauh di pelosok negeri. Hal ini akan menjadi tiang yang kokoh untuk menopang dunia literasi kita di masa yang akan datang. Mari terus membaca untuk mendapatkan pengetahuan baru dan menulislah untuk membagi pengetahuan baru kita.

Termasuk berbagi pengetahuan tentang sebuah sore yang indah, sebuah paket yang datang berisi buku, dan aroma khas kertas yang menguar saat paket itu dibuka, di dalam rumah.


Bagus, WS
Pegiat literasi dan pemerhati sosial.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara