Seiring meningkatnya kesadaran literasi, komunitas literasi bermunculan di daerah-daerah. Aksara Berkaki adalah salah satu contohnya.

AKSARA Berkaki adalah suatu Komunitas Literasi di kota Padang. Setahun lebih setelah berdiri pada 27 september 2016, akhirnya komunitas ini mampu menjadi wadah bagi penikmat buku, sastra, jurnalistik hingga orang-orang yang baru ingin mulai menjadikan buku sebagai teman duduk mereka.

Berawal dari lapak baca gratis yang dilaksanakan secara rutin di kampus UPI "YPTK". Dari sana berlanjut ke mengadakan pelbagai kegiatan untuk menghibur dan memanjakan penikmat buku, pembaca pemula dan calon penulis dengan bentuk kegiatan seperti Lapak Baca Gratis, Tadarusan Membaca, Bedah Buku, Kelas Menulis Puisi, Kelas Menulis Opini, Dialog Publik, Orasi Ilmiah, dan Panggung Aspirasi.

Empat orang mahasiswa UPI”YPTK” yang menjadi Founder Komunitas ini terus melakukan metamorfosa kegiatan yang lebih efektif dan efisien, bagaimana tidak, minat membaca mahasiswa di dalam kampus dan mahasiswa kota Padang umumnya masih jauh dari harapan. Hal ini mempelopori 4 mahasiswa itu untuk terus menuntaskan tugas suci “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.

Semakin dikenal dan semakin berkontribusi rupanya juga diiringi semakin sulitnya komunitas ini berkegiatan seperti seharusnya. Kampus yang merupakan ruang membangun insan cendekia dan sarjana pembaharu tampaknya tidak dapat mereka cicipi. Aksara Berkaki kemudian harus merelakan taman lapak baca gratis mereka menjadi parkiran mahasiswa dan hingga saat ini Aksara Berkaki harus bergerilya mencari ruang-ruang kosong yang banyak dilalui oleh mahasiswa bahkan dosen.

Kelas Menulis Puisi

Tanggal 26 april 2018 lalu, Aksara Berkaki kembali mengadakan Kelas Menulis Puisi, dilaksanakan di Cafe Om, jalan belakang kampus UPI. Tak tanggung-tanggung, mereka mengundang Andini (Penyair dan aktifis sastra dari Komunitas Pustaka Shelter Utara) dan Yulia Deswati (Penulis indie “Danau yang kesepian” yang juga Founder Aksara Berkaki) dengan Moderator seorang mantan Pimpinan Redaksi Gelegarnews.com.

Kehadiran kegiatan ini rupanya menarik partisipasi khalayak ramai, hampir 40 orang menghadiri kegiatan ini. Khalayak ramai itu bukanlah pembaca pemula, bukan juga penulis pemula saja, tetapi kritikus sastra Sumatera Barat, Penulis Novel dari Forum Lingkar Pena dan penulis narasi FTV SCTV.

Dalam kelas menulis, pesertanya harus terus berlatih menulis, ini tentu bertahap. Mengutip konsep Dave Meier, accelerated learning, yaitu belajar dengan mengerjakan pekerjaan itu sendiri.

Yang harus dilakukan oleh peserta kelas menulis itu sendiri adalah menjaga semangat menulis hingga kata terakhir tertulis dalam rangkaian tulisannya. Hal ini tentu membutuhkan kata pamungkas yang diamalkan oleh setiap penulis pemula, semua harus “Sabar”, dalam rentang waktu 2 tahun pun mereka harus terus berlatih menulis, menulis dan menulis.

Selain itu, para penulis pemula disarankan juga untuk mengisi jiwa dengan banyak membaca dan bepergian atau mengamati sekeliling, karena puisi atau bentuk penulisan lain pun harus melakukan metode ini selain menambah referensi menulis, ide-ide segar yang didapati, juga membantu penulis agar memiliki tubuh dan jiwa yang bugar.

Kemudian para penulis tidak pula dianjurkan untuk berpikir (kognitif) lewat membaca, namun harus ada ranah afeksi (merasakan) sehingga ketika duduk di depan laptop atau kertas akan lebih membantu penulis memiliki semangat kerja keras hingga mampu merampungkan seluruh isi kepala dan jiwa mereka, akal dan hati mereka dalam sebuah kata yang berpadu indah, lalu penulis akan merasakan ketenangan yang amat luar biasa.

Komitmen Komunitas

Komitmen menjadikan literasi sebagai budaya tampaknya tidak pernah punah dalam benak para pegiat literasi. Salah satu penanda hal itu adalah kembali bangkitnya Komunitas Teras Literasi yang membuat Kelas Filsafat Pemberdayaan yang difasilitatori oleh Alim Harun Pamungkas, seorang Dosen Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Padang. Kegiatan ini bukan hanya membangun kesadaran dan pentingnya memikir kondisi kebangsaan, namun kesadaran untuk berpikir jernih sebelum melakukan sesuatu.

Selain itu ada juga Komunitas Sahabat Nagari yang dibentuk oleh pelbagai aktor 2 komunitas di atas yang konsen dalam pembangunan Pustaka Baca di Desa Sungkai, Kecamatan Pauh, Padang, Sumatera Barat. Semangat membentuk komunitas banyak terdengar pula dari diskusi-diskusi mahasiswa dan pemuda yang termotivasi akan pentingnya ruang baca sebagai tempat paling ramah untuk berbagi ilmu pengetahuan dan pemikiran.

Aksara Berkaki juga belum mengakhiri perjuangan mereka. Seiring dengan bertambahnya buku, anggota yang terhimpun dalam Sahabat Aksara Berkaki pun makin bertambah. Sahabat Aksara Berkaki sendiri adalah massa aktif komunitas ini, massa yang akan mengisi, mendukung dan membantu setiap pelaksanaan aksi “Literaculture”.

Bolehlah kita merefleksikan kembali kata-kata Pramoedya Ananta Toer “kau boleh pandai dalam sesuatu apapun, tetapi tanpa kau mencintai sastra, maka kau bodoh”.

Tentu kiranya kita tidak menginginkan hal demikian. Kita tentu mengharapkan pelaksanaan dan pemahaman mengenai setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru yang pada akhirnya tidak mengurung aktifitas kesusastraan dan aktivitas literasi.

Semangat itu tentu tidak melahirkan kesemboronoan pegiat, ia harus mampu memenej komunitas dengan baik, karena ada banyak kesalahan dan kekalahan komunitas literasi ketika harus berhadapan dengan era serba digital ini. Digital bukanlah lawan sesungguhnya, tetapi api yang menjadi kawan, agar pesan-pesan “Semangat Literaculture” dapat terwujud.

Harapan lainnya yang sering diutarakan oleh para pegiat literasi di kota Padang adalah semakin mudahnya mereka mendapati akses buku gratis dan ruang publik di kota Padang. Dari sanalah bisa diharapkan semakin menjamur pula komunitas dengan kegiatan serupa, bahkan lebih kreatif dan inovatif dari kegiatan-kegiatan sebelumnya.


Nurdin Hamzah Hidayat
Mahasiswa. Tulisannya pernah dimuat di Tanpanama.id
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara