21 Feb 2018 Bandung Mawardi Sosok

Adinegoro, nama samaran yang kemudian dikenang sebagai Perintis Pers Indonesia. Nama itu diabadikan menjadi nama penghargaan tertinggi untuk karya jurnalistik terbaik: Hadiah Adinegoro.

PEMBACA Media Indonesia edisi 9 Februari 2018 melihat foto penting di halaman depan. Foto berwarna berukuran besar. Foto menjelaskan adegan Joko Widodo memberikan sertifikat tanah bagi ahli waris Adinegoro di Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat. Peristiwa berkaitan Hari Pers Nasional 2018. Tanah digunakan untuk mendirikan Museum Adinegoro. Penjelasan Joko Widodo ke para wartawan: “Saya kira pembelajaran-pembelajaran yang beliau sampaikan nanti bisa dilihat dalam buku-bukunya. Pendalaman materi yang sangat tajam.” Siapa masih mengoleksi buku-buku garapan Adinegoro? Kita itu ahli waris buku, bukan ahli waris tanah.

Jutaan orang Indonesia mungkin tak pernah memegang atau mengetahui judul buku-buku garapan Adinegoro. Di Indonesia, orang-orang cenderung mengenali tokoh tanpa kelengkapan mempelajari segala pemikiran dan biografi di buku-buku. Penamaan Adinegoro untuk penghargaan Hari Pers Nasional saja masih membuat orang bingung tanpa wajib penasaran. Presiden malah mengabarkan buku-buku belum tentu koleksi lengkap ada di Istana Negara atau Perpustakaan Nasional. Buku-buku garapan Adinegoro tak dijanjikan dicetak ulang dalam seri lengkap demi penghormatan kerja literasi. Adinegoro dianggap cukup dalam nama penghargaan dan pemerintah memberikan sertifikat tanah ke ahli waris.

Foto itu membuktikan ada ikhtiar mengenang tokoh meski sulit utuh. Kita jangan terlalu mengingat foto mending mengingat buku-buku warisan Adinegoro. Di Bilik Literasi, puluhan buku Adinegoro disimpan meski tak ditata rapi. Buku-buku itu menandai gairah berkelimpahan dalam menulis sastra, pers, demokrasi, peta, kamus, dan ensiklopedi. Buku-buku diperoleh sekian tahun dengan cara membeli di pasar buku loak secara tunai dan utang-cicilan. Buku-buku itu mengawetkan tokoh dan masa lalu meski semakin tak memiliki pembaca. Sekian buku berhasil ditemukan: Melawat ke Barat, Kembali dari Perlawatan ke Europa, Falsafah Ratu Dunia, Filsafah Merdeka, Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia, Ilmu Djiwa Sosial dan Seseorang, Publisistik dan Djurnalistik, Bajangan Pergolakan Dunia, dan lain-lain. Tempo, 25 Mei 2008, edisi 100 Tahun Kebangkitan Nasional memilih buku berjudul Melawat ke Barat susunan Adinegoro berpengaruh dalam arus sejarah Indonesia. Buku itu ada di nomor 93.

Pada masa lalu, kebijakan pengadaan buku-buku bercap “milik negara” sempat memunculkan ingatan pada Adinegoro. Buku untuk bocah sulit terkenal dan berpengaruh bagi jutaan orang. Buku cerita anak memuat pesan ambisius: “Harapan penerbit, buku ini dapatlah hendaknya memberikan rangsangan dan dorongan bagi anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi wartawan.” Kita merenung sejenak. Apakah cita-cita menjadi wartawan lazim bagi anak-anak? Dulu, anak-anak sering bercita-cita menjadi dokter, pilot, tentara, presiden, pengusaha, menteri, profesor, atau guru. Pada masa Orde Baru, cita-cita menjadi profesor seperti Habibie sering diucapkan anak-anak. Cita-cita menjadi artis juga muncul saat televisi sudah masuk ke rumah para penduduk di Indonesia.

Pesan itu muncul di buku berjudul Meraih Adinegoro karangan M. Imron Pohan, terbitan Aries Lima,  1988. Tebal buku 36 halaman. Tokoh cerita bernama Irfan, murid kelas lima SD. Irfan memiliki bapak berprofesi wartawan. Irfan kagum pada bapak, berkeinginan menjadi wartawan. Bapak berteman dengan wartawan dan sastrawan kondang bernama Gerson Poyk. Irfan sering bertemu dan mendapat cerita-cerita menakjubkan dari Gerson Poyk. Irfan mendapat cerita bahwa Gerson Poyk pernah meraih Hadiah Adinegoro pada tahun 1985 dan 1986. Irfan mendapat keterangan singkat:

“Hadiah Adinegoro menjadi kebanggaan bagi wartawan-wartawan Indonesia sebab hadiah tersebut merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang kewartawanan dan jurnalistik di Indonesia.”

Buku cerita anak memuat pelbagai pengetahuan pers. Irfan bergembira dan bersemangat mengetahui biografi para wartawan terkenal: Adinegoro, B.M. Diah, dan Adam Malik. Irfan juga kagum pada Harmoko. Pada masa Orde Baru, Harmoko adalah Menteri Penerangan. Sebelum menjadi menteri, Harmoko adalah wartawan. Semua informasi dan cerita menjadi pemicu Irfan semakin rajin membaca dan menulis, merancang arah studi ke perguruan tinggi jurnalistik, dan bermimpi meraih Hadiah Adinegoro. Buku untuk bacaan anak mengandung ajakan mengerti dunia pers dan biografi para wartawan. Cerita memang tak fantastis tapi berkemungkinan dibaca bocah-bocah di Indonesia. Pada tahun 1991, buku Meraih Adinegoro sudah cetak ulang ketiga, menggunakan ongkos pemerintah alias buku bercap “milik negara, tidak diperdagangkan”.

Siapa Adinegoro? Buku berjudul Apa dan Siapa: Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982, terbitan Grafiti Pers, memuat keterangan tentang Adinegoro, dua halaman. Semula, Adinegoro (1904-1967) bersekolah di STOVIA. Gairah membaca menulis mengakibatkan keputusan berani: Adinegoro memilih keluar dari STOVIA, tak mau bercita-cita menjadi dokter. Adinegoro memilih melawat ke Eropa (1926) demi belajar menjadi wartawan. Ambisi itu menghasilkan buku terkenal berjudul Melawat ke Barat (1930). Pulang dari Eropa, Adinegoro menjadi pemimpin redaksi di Pandji Poestaka, terbitan Balai Poestaka. Adinegoro perlahan menjadi tokoh kondang dalam pers. Adinegoro pun dikenal sebagai pengarang novel dan tokoh pergerakan kebangsaan.

Pengetahuan kita tentang Adinegoro bisa mengacu ke buku berjudul Adinegoro: Pelopor Jurnalistik Indonesia (1987) susunan Soebagijo I.N. Kita temukan informasi proses perubahan nama. Semula, tokoh itu bernama Djamaluddin. Perubahan terjadi atas usulan Ladjumin, pengelola majalah Tjahaja Hindia. Djamaluddin sudah rajin mengirim tulisan-tulisan ke Tjahaja Hindia. Ladjumin mengusulkan agar Djamaluddin menggunakan nama samaran. Usulan tentu berargumentasi. Ladjumin berkata: “Untuk menarik pembaca dari kalangan Jawa, sebaiknya kita cantumkan juga di majalah kita nama penulis Jawa.” Dua orang asal Sumatra mesti membuat nama samaran mengacu ke sosok beridentitas Jawa. Konon, penggunaan nama samaran Jawa turut mempengaruhi bobot tulisan dan melariskan penjualan majalah.

Ladjudin sudah bernama samaran Notonegoro tapi tak memicu popularitas. Ladjudin mulai memikirkan nama samaran bagi Djamaluddin: nama gagah dan mentereng, memberi kesan bahwa penulis berasal dari kalangan terhormat di Jawa. Nama samaran bagi Djamaluddin adalah Adi Negoro, bermaksud memunculkan imajinasi kebangsawanan Jawa. Usulan diterima, Djamaluddin menulis nama dalam tulisan menjadi Adi Negoro. Semula penulisan Adi Negoro, perlahan menjadi Adinegoro. Sejarah nama samaran mulai menempatkan lelaki itu meraih popularitas dan memberi kontribusi besar bagi pembentukan Indonesia. Pengakuan atas jasa Adinegoro diberikan oleh pemerintah dengan pemberian anugerah gelar Perintis Pers Indonesia.

Warisan terpenting dari Adinegoro adalah buku berjudul Falsafah Ratu Dunia (1949). Adinegoro menjelaskan: “Ratu Dunia sesungguhnja, bukan pers, tetapi anggapan umum (public opinion). Pers hanja alatnja jang terpenting.” Adinegoro bermaksud menjelaskan pelbagai hal berkaitan pers, opini umum, demokrasi, dan hak asasi manusia. Adinegoro berpedoman bahwa pers penting untuk negara demokrasi. Kerja wartawan berkaitan demokratisasi dan pemuliaan negara. Adinegoro berkata:

“… wartawan sesungguhnja berat tanggungannja untuk meneruskan kehidupan surat kabarnja, jang sifatnja seperti keadaan arlodji, apabila ada satu rodanja gujah atau petjah djeridjinja satu, maka arlodji itu salah djalannja, kalau tidak berhenti sekali.”

Perkataan itu masih berlaku sampai sekarang. Wartawan turut menjadi penentu nasib Indonesia.

Adinegoro telah memberi arti bagi Indonesia dengan kerja serius sebagai wartawan. Kerja itu mendapat apresiasi pemerintah dan kalangan wartawan. Adinegoro digunakan untuk nama penghargaan: Hadiah Adinegoro. Kita tentu tak ingin cuma mengerti Adinegoro sebagai nama penghargaan. Adinegoro adalah biografi impresif dan memuat episode-episode perkembangan pers di Indonesia. Semula, Adinegoro adalah nama samaran. Eh, nama itu malah sanggup mengisahkan dan menjelaskan Indonesia. Begitu.


Bandung Mawardi
Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara