Ilustrasi dalam sebuah buku memiliki nilai penting yang bukan sekadar. Dalam buku Jung ia menambah penjelasan teks sekaligus menambah nilai estetika.

SEBUAH buku bisa lahir dari mimpi. Seorang penyair bisa saja pada awal dia menulis puisi bermimpi suatu hari nanti buku puisinya bersanding dengan buku-buku penyair favoritnya di rak bukunya, seorang novelis bisa saja menjadi seorang novelis yang menghasilkan ragam novel karena pada suatu hari di masa kecilnya ia sangat mengagumi novel-novel Jules Verne dan dia bermimpi suatu hari bisa menjadi sepertinya.

Mimpi, dalam dua contoh kasus di atas, merupakan mimpi pada tataran yang disebut oleh Freud saat dia menutup buku Interpretasi Mimpi-nya sebagai mimpi yang merupakan “penggambaran terpenuhinya harapan” sehingga “membawa kita ke masa depan”. Dengan kata lain, sebuah angan, sebuah harap.

Tapi ada juga buku yang benar-benar lahir dari mimpi dalam pengertian literal. Buku itu kini dikenal dengan judul Man and His Symbols dalam bahasa Inggris, Der Mensch und seine Symbole dalam bahasa Jerman, dan Manusia dan Simbol-simbol dalam bahasa Indonesia.

Penulis buku itu adalah Carl Gustav Jung, bapak Psikologi Analitis sekaligus mantan penerus pendiri Psikoanalisis. Sebenarnya buku itu tidaklah semata memuat tulisan Jung, ia merupakan antologi tulisan lima tokoh Psikologi Analitis: Carl Gustav Jung, Joseph L. Henderson, M. L. Von Franz, Jolande Jacobi, dan Aniela Jaffe.   

Nama yang disebut terakhir itu sekaligus juga nama sekretaris dan editor autobiografi Jung yang terkenal: Memories, Dreams, Reflections (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Octopus).

Man and His Symbols pertama-tama lahir sebagai gagasan ketika wawancara televisi BBC yang menayangkan Jung ditonton oleh direktur pengelola penerbit Aldus Books, Wolfgang Foges. Saat itu tahun 1959, dan Foges merasa betapa janggalnya bahwa karya-karya Freud sudah mudah didapatkan di dunia Barat sedangkan karya-karya Jung tidak.

Foges kemudian menghubungi John Freeman, jurnalis terkenal yang mewawancarai Jung saat itu, untuk bergabung dengannya “merayu” Jung supaya mau mempublikasikan gagasan-gagasan dasarnya dalam format yang mungkin menarik dan jelas bagi pembaca umum. Freeman setuju. Dia kemudian kembali mengunjungi Jung.

Jung, konon, kemudian mendengarkan “rayuan” Freeman selama dua jam hampir tanpa menyela, kemudian dia menolak permintaan itu dengan sopan, bahwa dia “dulu tak pernah mencoba mempopulerkan karyanya dan dia tak yakin bahwa dia bisa berhasil melakukan itu kini” di masa tuanya.

Wawancara di BBC itu ternyata menghasilkan banyak tanggapan positif. Jung mendapatkan banyak surat dari orang-orang biasa, orang-orang yang bukan dari kalangan medis atau psikologi. Apa yang membuat Jung sangat senang terutama adalah bahwa mereka tersebut adalah orang-orang yang tak terbayangkan bisa berhubungan dengannya.

Kemudian dia bermimpi.

Mimpinya sederhana. Dia bukannya melihat dirinya duduk di ruang kerjanya dan berbicara pada dokter-dokter dan psikiater-psikiater besar dari beragam tempat yang biasa mengunjunginya, dia justru sedang berdiri di muka umum dan berbicara pada banyak sekali orang yang mendengarkannya dengan penuh perhatian, dan mereka “memahami apa yang dia katakan”.

Satu atau dua minggu kemudian, ketika Foges mengajukan permintaan yang sama, Jung setuju, dengan catatan bahwa buku itu diperuntukkan orang-orang umum, dan dia ingin buku itu bukan hanya memuat tulisannya melainkan juga beberapa pengikutnya. Dan, John Freeman ditunjuk sebagai perantara antara dirinya dengan penerbit.

Melalui narasi Freeman dalam pengantar buku itulah kita bisa mendapatkan cerita di atas, dan juga kisah-kisah yang lebih rinci tentang satu dan lain hal terkait buku itu. Sayang memang bahwa pengantar itu tak kita temukan dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia.

*

Man and His Symbols diterbitkan terjemahan bahasa Indonesianya sebagai Manusia dan Simbol-simbol pada Februari 2018 oleh penerbit Basabasi. Penerjemahnya Siska Nurrohmah. Buku dikemas dengan sampul menawan dari Sukutangan dan ketebalan 542 halaman termasuk indeks dan belum termasuk satu lembar iklan buku di bagian paling belakang.

Buku ini merupakan salah satu buku penting Jung. Sebagai karya terakhir Jung, buku ini menjadi semacam “ikhtisar” gagasan-gagasannya yang termaktub dalam karya lengkapnya yang jauh lebih banyak daripada 23 jilid karya lengkap Freud. Tulisan-tulisan Jung terkenal “sulit” yang salah satunya disebabkan dia memiliki kebiasaan menyajikan lanturan saat mengupas satu persoalan. Dalam Man and His Symbols, ke-sulit-an itu banyak terjembatani. Sedikit ironis bahwa karya yang bisa dikatakan terbaik untuk menjadi pengantar masuk ke dalam gagasannya adalah karyanya yang terakhir.

Namun, mungkin ada sedikit masalah dalam terjemahan ini. Man and His Symbols diterbitkan bukan hanya sebagai teks, melainkan sebagai teks yang dipenuhi gambar ilustrasi, sebagian besar hitam putih, sebagian kecil berwarna. Edisi koleksi memuat lebih dari 500 ilustrasi dalam 320 halaman sehingga dalam satu halaman bisa ada lebih dari satu ilustrasi meski ada juga beberapa halaman yang tak disertai ilustrasi dan tentu saja bagian Pengantar dan Indeks tak mungkin memiliki ilustrasi.

Buku itu diterbitkan oleh Anchor Press, dan sesuai kolofon Manusia dan Simbol-simbol, buku inilah yang menjadi sumber terjemahan Indonesia. Edisi lain buku ini dalam bahasa Inggris dalam format yang biasa disebut sebagai mass market edition, diterbitkan oleh Dell Publishing, tetap memuat ilustrasi-ilustrasi pula meski jumlahnya tak sebanyak edisi Anchor.

Contoh halaman 40-41 Man and His Symbols terbitan Anchor Press

Sedikit berbeda dengan buku-buku Freud yang sangat sedikit mencantumkan ilustrasi, buku-buku Jung kerap memuat ilustrasi, terutama dalam bentuk lukisan. Antologi tulisan dia tentang mimpi misalnya, diterbitkan oleh Routledge setebal 344 halaman, buku tersebut memuat 111 ilustrasi.  

Mungkin saja ada banyak pertimbangan mengapa dalam edisi Indonesia kita tak menemukan satu ilustrasi pun, dan kita bisa mengatakan bahwa apapun pertimbangan itu semoga ia merupakan pertimbangan yang baik. Walau demikian, di satu sisi kita boleh pula sedikit kecewa: ilustrasi tersebut merupakan penambah penjelasan pemikiran Jung sekaligus juga merupakan bagian yang—dalam edisi bahasa Inggris—disebut sebagai “tak terpisahkan dari teks”.

Dalam hal ini, kehadiran Manusia dan Simbol-simbol bisalah dikatakan dengan sedikit melankolis sebagai kehadiran yang sekaligus kehilangan, kehadiran teks sekaligus kehilangan ilustrasi. Kita tentu saja tak tahu akan seperti apa tanggapan Jung jika ia mengetahuinya: Sang Maestro Psikologi Analitis itu meninggal bahkan sebelum edisi pertama buku ini dalam bahasa Inggris terbit. Yang kita tahu pasti, semasa hidupnya Jung adalah orang yang sangat suka menggambar.      


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara