Event Organizer acara bedah buku memiliki relasi penting dengan maraknya penerbitan buku indie kini. Itulah salah satu hal yang dibahas dalam Sidang Komisi Penerbit Indie pada 8 September 2017 di Jogja.

MENINGKATNYA produksi buku-buku secara independen di Jogja, menurut Muhidin M. Dahlan tidak dibarengi dengan agenda diskusi bedah buku yang masif. Hal ini ia nyatakan dalam Sidang Komisi Penerbit Indie yang bertempat di Dongeng Kopi, Jumat, 8 September 2017. Menurut penggawa Warung Arsip itu, hanya sedikit buku-buku indie yang dibedah, padahal acara bedah buku sangat penting untuk memperluas daya jangkau buku tersebut.

“Itulah kenapa Event Organizer (EO) menjadi penting peranannya untuk buku indie. Kita memang punya KBJ, tapi itu kan setahun sekali saja. Sementara penerbit indie makin banyak, terbitan makin banyak, jadi butuh EO yang bisa memasifkan bedah buku untuk buku-buku indie di Jogja ini”, ungkap Muhidin.

Selain EO, Muhidin pun menyebut pentingnya menghadirkan kembali kelompok peresensi yang dulu sempat cukup hidup di Jogja. Keberadaan kelompok peresensi menurut Muhidin memiliki peranan yang tak kalah penting dalam pergerakan buku indie di Jogja yang kian subur.

Sekitar 50 peserta ikut menghadiri sidang komisi ini. Mereka terdiri dari pegiat penerbitan indie, pembaca, penulis, jurnalis, dan pelaku distribusi buku indie. Selain masalah yang diutarakan oleh Muhidin M. Dahlan di atas, dibahas pula berbagai persoalan buku indie, mulai dari ciri dan identitas penerbit indie, produksi, sampai distribusinya baik melalui media daring ataupun luring.

Sebagai rangkaian dari Musyawarah Buku pra-Kampung Buku Jogja (KBJ) 2017, selain Sidang Komisi Buku Indie, akan dilaksanakan juga Sidang Komisi Keredaksian sebagai agenda kedua pada 13 September mendatang.


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara